Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Makan Malam di Rumah Mertua


__ADS_3

Davina segera turun menemui Uminya hendak bertanya tentang masa lalu Harris. Davina yakin jika ibu mertuanya pasti tau semua masa lalunya Harris.


" Umi," panggil Davina, Uminya yang sedang menata alat makan seketika mengarah kepada Davina.


" Ada apa, Davina?" ucapnya kemudian menghentikan aktivitasnya itu.


"Tadi, saat di kamar Harris aku melihat beberapa foto milik Harris." ucap Davina yang membuat ekspresi Khumaira berubah, tapi kemudian ia hanya mangut-mangut.


Davina pikir pasti Uminya sudah tau apa yang akan ia tanyakan. Terlihat dari ekspresinya yang ia tunjukkan.


"Apa kamu sudah tau semuanya?" ucap Umi Khumaira.


Dan...benar tebakan Davina, jika Uminya sudah tau apa yang akan Davina tanyakan.


Davina menatap serius kearah Uminya.


"Aku hanya menebak jika Harris seorang ketua dari preman atau seorang berandalan?" ucap Davina takut jika perkataannya akan melukai hati Umi Khumaira.


Umi hanya menghela nafas sebelum menjawab.


"Itu memang benar. Harris dulunya memang seorang preman yang berpenampilan berandalan. Bahkan dia sudah sangat sering keluar masuk penjara karena berjudi dan sering meminum alkohol. Tapi itu hanya masa lalunya, di mana ia benar-benar berada dalam sisi tergelap sepanjang hidupnya. Kemudian ia memilih untuk berhijrah dan meninggalkan sisi gelap dalam hidupnya itu." ucap Khumaira.


Davina di buat kaget oleh ucapan Uminya. Ia tidak menyangka jika Harris suaminya ialah seorang mantan narapidana bahkan seorang penjudi dan minum-minuman keras? Davina hanya geleng-geleng kepala. Sebisa mungkin Davina merubah ekspresinya menjadi biasa saja.


Davina tersenyum licik mendengar hal tersebut, jadi dia punya senjata untuk menyerang Harris.


"Kalo boleh tau, kenapa Harris bisa berubah jadi seperti sekarang?" tanya Davina, inilah hal yang membuatnya penasaran dari tadi.


"Karena Harris sering mengikuti beberapa kajian dan sudah berniat dari lama untuk berhijrah. Kamu juga bisa mencontoh Harris, Davina. Rubah lah dirimu menjadi lebih baik lagi."


Davina hanya tersenyum membalasnya. Ia juga yakin pasti bisa seperti Harris. Buktinya setelah menikah ia jadi lebih rajin dalam beribadah walaupun itu semua berkat kehadiran Harris dalam hidupnya.


"Sebenarnya, waktu itu Umi tidak menyetujui perjodohan kalian, Davina. Karena Umi tau kamu itu seorang perempuan yang jauh dari kata shalilah maupun muslimah, bahkan untuk sholat saja kamu masih bolong-bolong kan." ucap Khumaira benar adanya.


Deg!


Davina kaget mendengar ucapan Uminya itu, hatinya juga sakit. Lalu ia hanya menundukkan kepalanya. Ia sadar memang selama ini ia jauh dari kata sempurna sebagai anak, istri maupun sebagai menantu idaman mertua. Terlebih lagi keluarga Harris ialah keluarga yang kental akan keislamiannya.


"Lalu, kenapa Umi tidak membatalkan perjodohan itu?" Davina memberanikan diri untuk bertanya kepada Khumaira.


"Karena Umi sadar, Harris saja yang saat ini sudah menjadi seorang ustadz, dulunya hanya seorang pendosa yang memilih untuk berhijrah. Sama seperti dirimu. Tapi Umi yakin suatu saat kamu akan berubah menjadi lebih baik lagi dan menjadi istri yang baik buat Harris."

__ADS_1


Davina jadi merasa lega sekarang setelah mendengar penjelasan lebih lanjut darinya. Kemudian ia tersenyum senang karena Uminya mau menerima dirinya sebagai menantu.


"Terus, kapan Harris mulai berhijrah Umi?" tanya Davina juga penasaran.


Khumaira nampak terdiam mendengar pertanyaan dari menantunya itu.


Dengan diamnya Khumaira, Davina dapat menyimpulkan jika ada sesuatu yang ia sembunyikan darinya.


"Umi?" panggil Davina saat Khumaira tidak menjawab pertanyaannya.


"Assalamualaikum," salam tiba-tiba dari arah pintu, kemudian muncul Harris dan Abinya sehabis pulang dari masjid.


"Waalaikumussalam," jawab Davina dan Umi Khumaira bersamaan, kemudian Khumaira memberikan kode kepada Davina untuk mengakhiri obrolan mereka.


Khumaira menghampiri suaminya dan menyalaminya, diikuti oleh Davina yang menyalami tangan Harris.


"Kalau begitu, ayo kita makan malam bersama."


Davina duduk di sebelah Harris, ia terus saja memperhatikan Umi Khumaira yang sedang melayani Abi. Dia kemudian mengambil piring milik Harris dan mulai mengisinya dengan nasi,sayur dan lauk.


Harris tersenyum, " Terimakasih." ucapnya yang diangguki oleh Davina.


Davina tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan oleh ayah mertuanya.


"Ini masakan Davina loh, Bi." ucap Khumaira.


"Benarkah? Pintar sekali kamu Davina." imbuh Imron.


"Tidak kok, Bi. Umi juga membantu." Davina merasa tidak enak karena ia yang sepenuhnya mendapat pujian. Sedangkan Davina kan dibantu oleh Uminya sehingga masakannya terasa enak.


" Bagaimana Harris, masakan Davina?" tanya Khumaira.


Harris menatap kearah Davina, "Masakannya biasa saja." ucapnya kemudian melanjutkan makannya.


Davina merasa kesal terhadap Harris yang tidak memuji masakannya sama sekali. Padahal Davina sangat mengharapkan hal tersebut.


"Dasar, udah putus mungkin ya urat saraf lidah Harris." batin Davina kesal.


"Jangan dimasukin hati ya, Davina. Harris memang seperti itu dari dulu. Hobinya membuat orang kesal saja." ucap Khumaira.


Harris menatap tajam kearah Uminya. Ia merasa tidak suka jika terus dibandingkan dengan Harris yang dulu.

__ADS_1


"Iya, Umi." balas Davina.


Davina jadi senang setelah melihat piring milik Harris kosong dengan sempurna.


"Tadi saja bilang makanannya tidak enak, lihat sekarang bahkan tidak tersisa nasi satu biji pun, semuanya habis tak tersisa." batin Davina.


Setelah makan malam selesai, Davina membantu mencuci piring yang kotor.


Setelah selesai mereka berkumpul di ruang tamu.


" Kalian jadi menginap di sini kan?" tanya Khumaira.


"Benar kata Umi, kalian kan baru saja berkunjung di sini. Jadi menginap lah sesekali." sahut Imron menimpali.


"Kemarin siapa yang meminta kami untuk menginap?Lalu kenapa bertanya lagi." ucap Harris bercanda.


"Kamu ini Harris, apa Davina tidak keberatan?" ucap Imron.


Davina melirik kearah suaminya, "Davina terserah Harris saja Abi." balas Davina tersenyum.


"Ini sudah malam, sebaiknya kalian segera tidur." ucap Imron, kemudian ia beranjak menuju kamarnya. Sedangkan Umi Khumaira masih duduk.


" Harris," panggil Umi.


" Iya, Umi?" balas Harris.


"Davina sudah tau semuanya."


Harris yang paham maksud dari Uminya seketika membulatkan matanya kemudian melirik kearah sang istri. Davina hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kalian selesaikan masalah ini besok saja, cepat kalian tidur ini sudah larut malam." ucap Umi kemudian meninggalkan mereka berdua.


Harris terus menatap Davina seolah meminta penjelasan darinya.


" Besok saja Harris, aku sudah mengantuk. Ayo kita ke kamar." ajak Davina kepadanya.


Harris tetap diam. Sebenarnya ia belum siap jika Davina harus mengetahui masa lalunya sekarang. Terlebih lagi masa lalunya itu merupakan hal yang sangat kelam baginya. Mungkin nanti Davina akan menertawai dirinya.


Davina yang sudah sangat mengantuk dan lelah, memilih meninggalkan Harris yang masih tetap diam. Davina sangat kesal dengan Harris yang tidak peka terhadapnya dirinya. Tidak peka karena Davina yang sudah lelah akibat memasak juga mencuci piring kotor.


***

__ADS_1


__ADS_2