Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Davina diculik Ricko


__ADS_3

Di Kampus Harris tiba-tiba merasa khawatir dengan keadaan Davina, walaupun ia tau Davina sedang berada di rumah Uminya karena ada acara arisan. Instingnya mengatakan jika Davina sedang dalam bahaya.


"Harris, apa kamu sudah mendengar kabar tentang Shafira yang masuk rumah sakit?" tanya Farhan.


"Iya, aku sudah mendengarnya kemarin." jawab Harris lesu, ia masih kepikiran dengan Davina.


"Apa kamu tidak berniat untuk menjenguknya? Ayo Kita jenguk bersama, Harris." ucap Farhan.


"Untuk saat ini sepertinya belum, jika mau kau duluan saja. Aku tau kau sangat mencemaskan nya bukan?" ucap Harris seperti menggoda.


"Hehe, tau saja kamu Harris. Tapi, kayaknya tidak sekarang deh."


"Loh, kenapa?" balas Harris.


"Memangnya kamu memperbolehkan jika aku berduaan dengannya di dalam kamar pasien? Belum mahram Harris." ucap Farhan agak kesal, bukannya Harris yang mengajarinya untuk tidak berdekatan dengan yang bukan mahram?


Harris tersenyum menanggapi ucapan Farhan. Farhan benar-benar sudah berubah sekarang. Dari yang dulunya suka genit dan mengganggu para perempuan sekarang lebih mengerti batasannya sebagai laki-laki.


Tak lama kemudian ponsel milik Harris berdering. Farhan sempat melihat layar ponsel Harris yang tertera nama Bimo di sana.


"Sejak kapan kamu baikan dengan Bimo, Harris?" Farhan menjadi kepo.


Bagaimana tidak, Farhan sendiri tau gimana kehidupan Harris juga Bimo yang dulunya saling bermusuhan dan berkelahi antar kelompok mereka. Makanya Farhan terkejut ketika Bimo menghubungi Harris.


"Bimo itu sepupunya Davina," ucap Harris menjelaskan, kemudian Harris mengambil ponsel miliknya dan mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Bimo. Assalamualaikum." ucap Harris.


"Waalaikumsalam, Harris. Gawat, Davina diculik sama Ricko." ucap Bimo cemas.


"Apa? Bagaimana bisa?" Harris kaget mendengar hal tersebut. Berarti sedari tadi dirinya khawatir dengan Davina bukan tanpa alasan melainkan karena Davina diculik.


"Panjang ceritanya, aku hanya diberitahu oleh orang kepercayaan ku tadi, makanya aku langsung menghubungi kamu." ucap Bimo dari sambungan telepon.


"Apa kamu sudah melacak keberadaan mereka?" ucap Harris.


"Aku sudah melacaknya, tempat terakhir Davina berada di taman. Bahkan mobilnya juga masih ada di sana. Tapi kemungkinan mereka sudah membawa Davina pergi dari sana."


"Baiklah aku akan ke sana mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk." ucap Harris sebelum mematikan sambungan telepon.


Harris yang panik pun langsung membereskan barang-barangnya ke dalam tasnya. Farhan menatap heran kearah Harris.


"Ada apa sebenarnya, Harris." ucap Farhan.


"Davina, dia diculik. Aku harus segera mencarinya." ucap Harris.

__ADS_1


"Aku ikut,"


Farhan bisa melihat ekspresi wajah Harris. Betapa khawatirnya ketika dia tau Davina diculik. Farhan bisa menyimpulkan jika Harris mempunyai hubungan dengan Davina. Mungkinkah Davina adalah istri Harris? Yang membuat Farhan bingung, kenapa Harris menyembunyikan pernikahannya dari semua orang.


***


Harris mencari petunjuk di taman tempat terakhir Davina berada. Terlihat mobil milik Davina masih di sana. Harris melihat kedalam mobil, kosong. Ponsel Davina tertinggal di jok kemudi.


"Bimo, ponsel Davina tertinggal di mobil." ucap Harris.


"Arghh, kalo begini bakal susah melacaknya." Bimo mengacak rambutnya frustasi.


"Begini saja, bagaimana jika kita meminta bantuan pada para anggota. Jika kelompok Harris tidak memungkinkan, pasti Ricko juga meminta bantuan mereka. Gimana dengan genkmu Bimo?" usul Farhan dengan cerdasnya.


"Baiklah, aku akan menghubungi mereka." ucap Bimo. Kemudian ia menghubungi salah satu anggota kepercayaannya.


"Hallo, assalamualaikum." ucap Bimo.


"..................."


"Apa aku bisa meminta bantuan mu juga teman yang lain?"


".................."


"................."


"Baiklah, terimakasih." ucap Bimo mengakhiri panggilannya itu.


Harris juga Farhan mendekat ke Bimo.


"Apa kata mereka?" tanya Harris pada Bimo.


"Mereka siap membantu, tetapi mereka juga butuh waktu untuk bisa menemukan keberadaan Davina." Harris menghela nafasnya kasar.


"Sepertinya tidak mungkin jika Ricko melakukan penculikan ini sendiri." ucap Farhan menganalisa.


"Jadi menurutmu Ricko dibantu orang lain, begitu?" ucap Bimo sedikit bingung.


"Bisa jadi, lebih tepatnya Ricko lah yang disuruh oleh seseorang." ucap Farhan yakin.


"Tapi siapa?" jalan pikiran Bimo serasa buntu.


Rani yang mendengar kabar jika sahabatnya diculik pun sangat cemas dan langsung mendatangi ketempat tersebut. Rani merasa bersalah karena dirinyalah yang menyuruh Davina datang ke sana.


"Assalamualaikum, gimana apa Davina sudah ketemu?" ucap Rani yang baru datang pada ketiga laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab mereka bertiga.


Bimo tersenyum melihat kedatangan Rani, ia sangat senang bisa bertemu dengannya. Apalagi Rani sudah berhijab.


"Loh, Harris juga ikut mencari Davina?" tanya Rani dengan polosnya.


"Iya, kan Harris adalah su..." ucapan Bimo langsung dipotong oleh Harris.


"Kamu temannya Davina?" tanya Harris.


Rani mengangguk, lalu ia menceritakan bagaimana dirinya meminta bantuan untuk memberikan sebuah buku ke adik kelasnya. Tanpa sadar pun ia menangis. Dengan sangat perhatian Bimo menenangkan Rani yang menangis.


"Harris, apa kamu mempunyai musuh?" tanya Farhan.


"Tidak, semenjak berhijrah aku merasa tidak mempunyai musuh." jawabnya.


"Rani, apa menurutmu selama ini Davina mempunyai seorang musuh?"


"Setauku sih tidak, tapi di kampus Davina membenci Shafira." ucap Rani.


Dengan tegas, Farhan membela orang yang di sukanya. "Tidak mungkin kan jika Shafira pelakunya!" ucap Farhan.


"Iya, kurasa bukan dia."


"Kenapa sulit sekali melacak keberadaan mereka." ucap Bimo masih berkutat dengan laptop miliknya.


"Kita datangi langsung saja markas mereka, siapa tau Davina berada di sana. Setidaknya kita akan mendapat petunjuk dari sana." ucap Bimo lagi.


Tak lama kemudian terdengar suara adzan ashar.


"Allahuakbar... allahuakbar."


"Ayo lebih baik sekarang kita sholat dulu, sembari meminta pertolongan juga perlindungan untuk Kita semua. Dan semoga Davina cepat diketemukan." ucap Farhan.


Harris setuju dengan penuturan Farhan, sebaik-baiknya tempat perlindungan ialah Allah SWT.


"Ayo kita berangkat." ucap Harris diangguki oleh yang lain.


Harris dan Farhan sudah berjalan di depan. Sedangkan Rani dan Bimo berada di belakang.


"Aku senang melihatmu berhijab, Rania." ucap Bimo tersenyum kearahnya.


"Aku juga senang memakai hijab, Bimo." balas Rani tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2