
Di Kampus, Harris hendak menemui sang istri. Namun, ia sudah mencari kesana kemari masih saja tidak menemukan keberadaannya.
Hingga ia melihat Davina sedang duduk di taman kampus bukan bersama sahabatnya melainkan bersama seorang laki-laki duduk di sampingnya yang sepertinya sedang menggoda sang istri. Terlihat Davina juga merasa risih dengan orang itu.
Davina terdiam ketika melihat Harris menghampirinya.
"Hm, Davina kamu terlihat sangat cantik dengan penampilanmu saat ini." Puji laki-laki tersebut yang tak lain bernama Aldi. Salah satu playboy di Kampus tersebut.
"Hey kamu, ngapain godain pacar saya." Ucap Harris sambil menarik tangan Davina supaya menjauhi laki-laki tersebut.
Aldi menatap Harris dan Davina bergantian kemudian kearah tangan yang saling bertautan membuatnya mempercayai hubungan keduanya, kemudian Aldi meninggalkan Harris dan Davina dengan kesal.
"Ngapain kamu duduk bersebelahan dengannya." Ucap Harris.
"Dia yang tiba-tiba datang," Balas Davina.
"Kamu tidak menggodanya kan?" Tanya Harris.
"Kamu menuduhku?" Davina menatap tajam kearah Harris.
Harris mengendikkan bahunya, "Baiklah aku tidak mau berdebat." Ucap Harris memilih mengalah dari pada harus melawan singa betina macam Davina.
"Tadi kamu memegang tanganku dan mengakui ada hubungan denganku, memangnya tidak takut imagemu sebagai ustadz tercoreng? Pasti popularitasmu akan menurun Harris." Ucap Davina.
"Kenapa harus takut? Jika mereka berasumsi seperti itu biarkan saja. Karena aku tidak tertarik dengan popularitas itu. Biarkan saja mereka menilaiku seperti apapun. Atau jika perlu aku akan memberitahu pada mereka kalau Kita adalah suami istri." Ucap Harris menyeringai.
Davina langsung terdiam mencerna ucapan Harris barusan. Sebegitu inginkah Harris diakui olehnya sebagai suami di depan umum. Apakah sebaiknya Davina mengakui Harris sebagai suaminya di depan umum sekarang? Dengan cepat ia menggeleng ketika ide itu muncul di benaknya.
Harris memperhatikan Davina dalam diam. Ia tak habis pikir kenapa dirinya bisa menikahi gadis keras kepala seperti Davina.
Padahal selama ini ia sudah berusaha agar istrinya itu dapat mengakuinya sebagai suami di depan umum. Bukannya kenapa, hanya saja supaya diirnya bisa menyingkirkan orang yang hendak mendekati Davina seperti Aldi contohnya.
"Maaf Harris, aku belum bisa melakukannya." Ucap Davina.
Harris menghembuskan nafasnya kasar. Sebentar lagi, pasti hanya butuh kesabaran untuk hal ini pikirnya.
Harris dan Davina pun berjalan menuju parkiran. Harris membukakan pintu untuk Davina.
"Terimakasih," Ucap Davina .
"Kita akan kemana dulu, ketempat Bimo atau Rani?" Tanya Harris.
"Kerumah," Ucap Davina.
Harris yang mengertipun langsung melesatkan kendaraannya menuju rumah Davina.
__ADS_1
"Baiklah, sudah lama juga aku tidak bertemu mertuaku." Ucap Harris.
"Jangan bilang macam-macam sama Mamah," Ucap Davina mengingatkan.
Harris menyunggingkan senyumannya, "Kamu mau mengancamku Sayang, tentu kamu tak bisa."
"Jadi kamu berniat mengadukannya pada orangtuaku?" Ucap Davina kesal.
"Untuk apa aku mengadukan kepada mereka? Jika hal itu bisa membuatmu mengakuiku kenapa tidak." Ucap Harris terkekeh.
"Harris," Teriak Davina dalam mobil.
Harris menutup kupingnya karena teriakan sang istri, "Baiklah aku tidak akan mengatakan kepada mereka." Ucap Harris pada akhirnya.
Tak lama kemudian mereka telah sampai ke rumah Davina. "Tumben rumah jadi sepi gini," Setelah masuk kedalam. Melihat jam menunjukan pukul 13.00.
"Ya iyalah, karena sang pembuat onarkan udah ikut suaminya." Ucap Harris menyindir Davina, tapi yang disindir hanya diam saja.
"Eh, Davina kamu sudah lama tidak main kesini Sayang. Mamah jadi rindu kamu." Ucap Sang Mamah memeluk sang anak.
"Maaf yah Mah, Davina juga kangen sama Mamah." Ucap Davina membalas pelukannya.
"Nak Harris ayo duduk-duduk dulu, Kita ngobrol-ngobrol." Ajak Yuli.
"Yah beginilah, Dav. Mamah seringnya di rumah sendirian. Semuanya pada sibuk sendiri-sendiri." Ucap sang Mamah.
"Memang yang lain kemana Mah?" Tanya Davina.
"Papahmu lagi sibuk di kantor terkadang juga lembur sampai malam. Diandra sekarang lebih sering keluar bersama teman-temannya." Ucap Yuli.
Di sana Yuli menceritakan kegiatannya, Davina juga sama. Harris hanya memperhatikan keduanya sesekali menanggapi dengan senyuman.
"Owh, ya Bimo ada di mana Mah?" Tanya Harris.
"Sepertinya dia masih di kamar kalo nggak dia sedang tidur. Soalnya Bimo baru kembali dari Singapura tadi pagi." Ucap Yuli.
Orang yang sedang dibicarakan pun akhirnya muncul menghampiri mereka.
"Hey, bro." Ucap Bimo. Kemudian bersalaman dengan Harris dan Davina.
"Gimana, udah ada kabar tentang Ricko?" Tanya Harris kepada Bimo.
Bimo memandang kearah Tantenya yang nampak bingung karena tidak paham apa masalahnya.
"Lebih baik Kita kerumah Rani biar lebih tau jelasnya. Tapi nanti setelah aku mandi." Ucapnya kemudian kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Harris dan Davina menganggukkan kepalanya.
"Harris, Davina sambil nungguin Bimo mandi mending kalian makan dulu ya." Ucap Yuli.
Davina memandang kearah Harris, seolah meminta jawaban dia ikut makan atau tidak dan Harris menggeleng.
"Yaudah aku mau makan, Harrisnya nggak mau." Ucap Davina kemudian berjalan menuju meja makan. Davina mengambil nasi secukupnya karena tadi di kampus dirinya sudah makan banyak.
Harris meyusul Davina ke meja makan. Ia mengambil segelas air putih lalu meminumnya hingga habis.
"Lahap banget makannya kamu, Davina." Ucap Harris memandangi sang istri sambil menopang dagunya.
"Uhuk, uhuk." Davina tersedak.
Dengan cepat Harris memberikan segelas air putih kepada Davina dan langsung diminumnya.
"Pelan-palan makanya Davina, jangan khawatir aku tidak akan meminta makananmu." Ucap Harris melihat ekspresi Davina.
"Ngapain kamu liatin aku seperti itu." Ucap Davina.
"Aku heran saja, sekarang kamu makannya lebih banyak dari biasanya. Memangnya kamu tidak takut gemuk?" Tanya Harris.
"Biarin aku gemuk, supaya kamu malu punya istri seperti diriku." Jawab Davina ketus membuat Harris terkekeh dan geleng-geleng kepala.
"Khem, jangan debat mulu nanti nggak mau pisah." Ucap Bimo duduk do sebrang Davina.
"Apaan sih Bang,"
"Tungguin bentar ya, aku mau makan dulu." Ucap Bimo.
Harris dan Davina memandangi Bimo yang sedang makan. Terlintas dalam benak Davina untuk menanyakan hubungan Bimo dan Rani.
"Btw, hubungan Abang sama Rani gimana?" Tanya Davina pada Bimo.
Bimo menghentikan kegiatannya.
"Memangnya kenapa bertanya seperti itu?" Ucap Bimo.
"Yah, aku nggak mau melihat temanku di PHP in terus sama Abang." Ucap Davina.
Bimo terkekeh, "Siapa yang PHP in dia? Aku memang cinta sama Rania, tapi aku bukan laki-laki kurang ajar yang berani mempermainkan perasaan seorang wanita. Tenang saja, setelah siap aku akan langsung menikahinya." Ucap Bimo sukses membuat Davina melongo. Dan Harris? Ia senang akan hal itu.
Dan akhirnya Bimo telah mengatakan isi hatinya?
***
__ADS_1