
Ketika adzan subuh telah berkumandang, Harris hendak bangkit dari tidurnya.Ia tersenyum ketika mendapati Davina yang masih memeluk dirinya erat.
Ia lalu membangunkan Davina, "Davina, ayo bangun. Ini sudah subuh." icap Harris kepada Davina, tapi ia tak menjawabnya.
"Davina," panggil Harris lebih keras lagi.
"Kamu duluan aja, aku masih ngantuk." balas Davina semakin mengeratkan pelukannya pada Harris. Ia belum menyadari jika yang dipeluknya bukanlah guling melainkan tubuh suaminya.
Ia juga belum menyadari jika dirinya dan Harris tidur dalam satu ranjang.
Harris tersenyum mendengar ucapan Davina.
"Bagaimana aku bisa bangun, kalo kamu terus memelukku dari semalam." ucap Harris. Sontak Davina langsung membuka matanya lebar-lebar dan ia melotot kan matanya memandang Harris dan tangannya bergantian, ia tak menyangka akan memeluk Harris.
"Minggir Harris." ucapnya seraya mendorong tubuh Harris, alhasil Harris terjatuh kelantai.
"Kenapa kamu mendorongku Davina?" balas Harris tak terima.
"Itu balasan untukmu, yang sudah berani tidur satu ranjang denganku." balas Davina kesal. Pasalnya Davina tak pernah mengijinkan Harris tidur bersamanya.
Harris bangkit lalu mendekat kearah Davina, "Lalu? Balasan apa yang pantas buatmu yang sudah berani memelukku?" tanya Harris yang membuat Davina gelagapan.
"Itu...itu tidak sengaja!" ucap Davina terbata-bata seraya memundurkan badan menjauhi Harris yang semakin mendekatinya.
Davina takut jika Harris akan berbuat macam-macam kepadanya. Terlebih lagi ia sudah menjadi suaminya.
"Kenapa wajahmu memerah Davina?" ucap Harris tersenyum, ia tau jika Davina sedang menahan rasa malu.
"Ayo kita sholat subuh." Itulah kalimat yang berhasil lolos dari mulut Davina. Ia bingung harus bagaimana menghindari Harris saat ini.
" Baiklah, ayo bersiap-siap." ucap Harris kemudian turun dari ranjang dan berlalu menuju kamar mandi.
Melihat kepergian Harris, Davina merasa lega. Tak lama ia bangkit dari ranjang dan membersihkan diri untuk segera melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Setelah sarapan Davina dan Harris bergegas berangkat ke Kampusnya.
Mereka berangkat menggunakan mobil masing-masing sesuai keinginan Davina. Karena Harris sempat menawarinya untuk berangkat bersama, namun Davina menolaknya dengan alasan tidak mau rahasianya terbongkar.
Sesampainya di kampus, Davina langsung menghampiri kedua sahabatnya.
"Tumben wajah lo keliatan sumringah gitu." ucap Rani.
"Iya bener. Lagi seneng pasti ya?" sahut Faras.
"Hmm, nggak kok biasa aja." balas Davina.
"Yaudah deh, yuk masuk keburu dosennya datang." ucap Rani.
Mereka masuk menuju kelas menunggu sang dosen datang. Dosen datang dan memberikan materi seperti biasanya.
"Eh, kalian mau pesan apa?" tanya Faras.
"Gue cappucino aja." ucap Davina.
"Gue sama kaya Davina." sahut Rani.
Setelah pesanan datang.
"Eh, kalian tau nggak. Kemarin malam gue liat si ustadz Harris ketemuan sama perempuan gitu?" ucap Faras.
"Uhuk..uhuk.." Davina tersedak.
"Lo nggak papa Dav?"
" Nggak kok, apa tadi kamu bilang?" ucap Davina penasaran.
__ADS_1
" Iya, kemarin kan gue pergi sama temen, terus liat dia di cafe. Mana si ceweknya meluk-meluk ustadz Harris lagi." ucap Faras.
" Masa sih, nggak mungkin lah ustadz Harris kayak gitu." sahut Rani.
"Tapi beneran, gue nggak bohong." balas Faras.
"Pasti perempuan itu orang yang bersama Harris waktu itu. Tapi siapa?" batin Davina.
"Menurut lo gimana Dav, apa benar ustadz Harris seperti itu?" tanya Rani kepada Davina.
"Gue nggak tau lah, bisa jadi kan? Tampangnya aja yang sok alim, tapi di belakang sama busuknya." ucap Davina tanpa sadar.
"Maksud lo Dav?" ucap Rani.
"Tau ah, gue mau pulang." ucap Davina, berlalu menuju tempat pembayaran kemudian bergegas pulang ke apartemen.
"Kenapa sih Davina, aneh gitu." ucap Rani, yang dibalas gelengan kepala oleh Faras.
Akhirnya mereka berdua memilih menyusul kepergian Davina.
Sesampainya di apartemen Davina langsung merebahkan dirinya.
Ucapan Faras masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Siapa sih wanita itu? Kalo emang dia pacarnya Harris, kenapa dia mau dijodohin sama aku!" gumam Davina kesal.
"Arghhh..." teriak Davina sambil mengacak-acak rambutnya. Tanpa sadar Davina meneteskan air matanya.
Tak lama kemudian Davina tertidur.
Apakah Davina cemburu?
***
__ADS_1