
Karena hujan turun semakin deras, Harris mengajak Davina masuk kedalam masjid karena sebentar lagi akan memasuki waktu maghrib. Davina mengikuti Harris masuk kedalam, kemudian Davina menuju ketempat wudhu setelah itu ia mengambil mukena yang telah disediakan di sana.
Di masjid tersebut banyak ibu-ibu, anak-anak juga para remaja yang mengikuti sholat berjamaah yang sebelumnya telah mengaji.
Davina jadi merasa malu ketika melihat para remaja yang seusianya rajin mengaji juga pergi ke masjid. Sedangkan dirinya? Ia malah sibuk keluyuran bersama teman-temannya ketempat maksiat.
Kemudian Davina menempatkan dirinya di sebelah ibu-ibu yang ikut berjamaah.
Terdengar suara merdu adzan yang dikumandangkan oleh Harris panggilan untuk segera melaksanakan sholat.
Setelah melakukan iqamah, maka seluruh jamaah segera berdiri untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Karena hujan yang masih turun deras, Harris dan Davina menunggu hingga deras reda. Tetapi, hingga waktu isya datang hujan tak kunjung mereda. Mereka memilih sholat isya terlebih dahulu.
Hingga waktu menunjukan pukul 20.00 hujan baru reda. Mereka bersiap-siap untuk pulang.
"Hujan sudah mulai reda, Davina. Lebih baik kita pulang sekarang." ucap Harris.
"Iya," jawab Davina.
Mereka keluar dari masjid tersebut.
"Ustadz Harris," panggil salah satu ibu-ibu paruh baya.
"Iya, bu?" tanya Harris.
"Tumben ustadz membawa seorang perempuan kesini? Apa itu istrinya?" ucap Ibu tersebut.
Harris terlihat gelagapan mendapat pertanyaan tersebut. Ia melirik sekilas kearah Davina, yang dilirik hanya membuang muka.
__ADS_1
Di dalam hatinya, Davina berharap jika Harris akan mengakui dirinya sebagai istrinya. Tapi ia juga tak ingin semua orang mengetahui hubungannya dengan Harris saat ini.
"Itu,,, dia saudara jauh saya, Bu. Kebetulan sedang berkunjung ketempat saya." jawab Harris ragu, sang ibu tersebut hanya mengangguk, namun dari raut wajahnya terlihat seperti kecewa.
Harris mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Pertama ia tak mau melanggar perjanjian mereka. Ke-dua ia takut jika mengatakan hal yang sebenarnya maka Davina akan marah, dan Davina yang belum bisa menerima dirinya sebagai seorang suami.
"Owh, begitu. Saya kira tadi mbaknya istri atau pacar ustadz." balas Ibu tadi.
Davina tersenyum mendengarnya, "Emang bener kok, pacar sekaligus istri." batinnya.
"Ustadz keliatan serasi banget sama kakak itu." ucap salah satu anak perempuan yang berada di sana.
Davina dan Harris saling pandang beberapa detik, sebelum kemudian mereka mengalihkan pandangannya kearah lain.
Harris tak ingin lagi mendengar ucapan-ucapan para ibu lebih lanjut, ia lebih memilih menghindar dari mereka sebelum diberi lebih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan memaksanya untuk berbohong.
"Hm, kebetulan ini hujannya sudah reda, bu. Kami pamit dulu ya. Assalamualaikum." ucap Harris meninggalkan beberapa ibu- ibu.
"Sebenarnya sih mereka terlihat sangat serasi, tapi sayang perempuannya tidak menutup aurat." ucap Ibu yang satu ke yang lain ketika Harris dan Davina sudah pergi jauh.
"Sudahlah, itu urusan mereka. Lebih baik sekarang kita cepat pulang, Bu. Mumpung hujan nya sudah reda." balas Ibu-ibu yang lain.
***
Di dalam mobil suasananya menjadi canggung, mungkin karena ucapan para ibu-ibu tadi masih mengganggu pikiran mereka.
"Kamu sudah makan, Davina?" ucap Harris membuka suara, sambil menengok kearah Davina.
Davina menggeleng, "Aku belum makan dari siang." balas Davina.
__ADS_1
"Kalo begitu kita mampir dulu sebelum pulang. Kamu mau makan apa di mana?" tanyanya.
"Aku mau bakso, di perempatan sana nanti belok kanan." ucapnya.
Harris mengangguk setuju, dingin-dingin begini memang enaknya makan yang panas-panas dan berkuah.
Sesampainya di sana mereka langsung memarkirkan mobilnya agak jauh dari sang penjual bakso, di karenakan ramainya pengunjung yang datang ke sana.
Setelah turun dari mobil Davina berjalan lebih dulu. Sedangkan Harris mengambil payung untuk mereka berdua karena gerimis kembali turun.
Davina menghentikan langkahnya ketika merasakan tubuh yang tidak terkena rintikan air hujan. Lalu mendongakkan kepalanya.
"Biar nggak kehujanan, takutnya nanti kamu sakit." ucap Harris ketika akan mendapat penolakan dari Davina.
Walaupun hanya rintik-rintik hujan yang turun, tetap saja akan membuat seseorang meriang.
"Baikhlah." ucap Davina.
Mereka menggunakan satu payung bersama. Sebagian orang pasti akan menganggap hal itu romantis, namun tidak menurut Davina.
Mereka memilih tempat duduk di pojokan, karena hanya itu yang tersisa.
Ada seorang pelayan yang menghampiri mereka kemudian memesannya.
"Mas, pesan bakso dua porsi sama teh angetnya dua gelas." ucap Davina yang diangguki Olehnya.
Tak lama pesanan pun tiba.
Harris dan Davina sangat menikmati memakan bakso tersebut, terlihat dari mangkuknya yang bersih tak tersisa. Mungkin efek tak makan dari siang, haha.
__ADS_1
Setelah selesai mereka segera membayar tagihannya dan segera kembali ke apartemen, karena mereka juga sudah mengantuk.
***