Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Tersadar


__ADS_3

Davina pulang ke apartemennya dengan suasana hati yang buruk, ia kembali teringat ucapan sahabatnya yang mengatakan dirinya gendutan. Tidak ingin buang-buang waktu, Davina menginjakkan kaki di atas timbangan. Disesuaikan berat badan dengan timbangan hingga jarum jam berhenti secara stabil di satu angka.


Davina menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. Benar perkataan Rani, Davina memang gendutan. Berat badannya saja sudah naik tiga kilogram.


"Sekarang aja udah nambah tiga kilo, gimana nanti kalo perutku udah besar? Pasti lucu banget, hihi." gumam Davina membayangkan dirinya sendiri.


Ia kemudian beralih merebahkan dirinya di atas ranjang, "Pantes aja berat badan naik, sekarang aku rada malas. Rebahan mulu, tapi mulut pengen ngunyah terus." ucapnya sendiri.


Berganti pakaian, kemudian berjalan menuju dapur dan berkutat di sana. Memasak sayur, jadi pilihannya sekarang. Ia merebus berbagai sayuran, ditambah sedikit garam sebagai usaha untuk hidup sehat.


Setelah semuanya matang, ia memakan sayuran rebus miliknya sambil menonton tv. Jujur saja, lama-lama ia merasa bosan jika harus berdiam diri di rumah tanpa ada yang menemaninya. Hingga sebuah ide muncul di benaknya.


"Hallo, assalamualaikum Mah." ucap Davina ketika panggilannya sudah tersambung.


"Waalaikumussalam, Dav. Tumben banget nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba telpon Mamah." jawab di seberang sana.


"Yaelah, Mah. Emang nggak boleh ya, sama anak sendiri juga. Davina kangen sama Mamah, Papah, Diandra."


"Kalo kangen kesini dong, cepetan Mamah tunggu di rumah."


"Yaudah deh, Davina siap-siap dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." panggilan pun berakhir.


Setelah panggilan berakhir, Davina segera berganti pakaian menggunakan gamis pemberian ibu mertuanya. Tak lupa hijab membungkus kepalanya. Setelah selesai ia mengendarai mobilnya sendiri untuk sampai ke rumah orang tuanya.


Sebenarnya ia merasa malas untuk berpergian lagi dan masih nyaman dengan kasur empuknya. Tapi entah mengapa tiba-tiba ia teringat dengan orang rumah dan ingin berkunjung ke sana. Mungkin saja karena bayinya ingin sekali bertemu dengan nenek dan kakeknya.


Tak berselang lama, ia sudah memasuki halaman rumah. Dengan semangat ia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi.


"Assalamu'alaikum, Mah. Davina udah sampe." ucapnya tapi tidak ada sautan. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan orang dalam rumah.


"Mah," Davina mencari Mamahnya dari dapur hingga ruang keluarga namun nihil.


"Pada kemana sih orang rumah," karena lelah berjalan kesana-kemari Davina mendudukkan diri di sofa. Hamil muda membuatnya mudah lelah. Ia membuka aplikasi whatsapp di ponsel miliknya dan mencoba mengirim pesan pada sang Mamah.


Ceklek


Mendengar bunyi pintu terbuka, Davina menoleh. Munculah wanita paruh baya, nampak cantik walaupun umurnya sudah tak muda lagi. Ditambah pakaian yang ia kenakan. Ya, dia Yuli Mamah Davina.


"Kamu udah nyampe ternyata, Davina." ucap sang Mamah menghampiri putrinya. Lalu memeluk sang anak, tinggal terpisah membuat dirinya selalu merindukan Davina beserta sifat-sifatnya yang dulu.


"Hm, Mamah dari mana aja sih. Nyuruh cepet dateng, eh malah nggak di rumah. Tau gini kan nggak usah kesini." ucap Davina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Maafin Mamah ya, tadi habis arisan di rumahnya tante Mela. Ini juga Mamah pulang duluan sebelum yang lainnya, karena Mamah udah kangen banget sama kamu."


"Iya-iya, Davina juga kangen Mamah makanya kesini."


"Owh, ya. Mamah di rumah sendirian lagi? Yang lain pada kemana?" tanya Davina.


"Papah mu itu lagi dinas keluar kota, biasa masalah bisnis. Kalo adikmu lagi pergi ke rumah temannya. Paling bentar lagi pulang." jawab sang Mamah.


"Bang Bimo kemana, Mah? Udah lama nggak liat batang hidungnya."

__ADS_1


"Bimo pergi ke Singapura, udah ada semingguan. Mungkin akan balik ketika pernikahan sahabatmu itu, siapa ya Mamah lupa."


"Owh iya. Faras sama Ricko, Mah."


"Mamah dengar mereka menikah karena accident ya?" tanya Yuli penasaran.


"Sebenarnya mereka tuh pacaran, awalnya si aku kaget dengernya. Tapi taulah Faras orangnya rada tertutup gitu, dia bilang ke aku waktu dia minta aku bantu bebasin Ricko. Tak berapa lama setelah itu, Faras mengaku kalo dia lagi hamil."


"Ricko, bukannya dia kan yang nyulik kamu waktu itu? Kenapa bisa sahabatmu dekat dengan laki-laki nakal seperti dia. Terus bukannya pelaku penculikan mu sedang dipenjara, kenapa malah mau nikah. Mamah masih nggak paham. " Yuli nampak ikut kesal.


"Tau deh, namanya juga cinta buta. Mengenai Ricko, ternyata dia tidak sepenuhnya salah Ma. Dia diancam oleh Bella, untuk menculik aku kalo tidak maka Bella akan mencelakai Faras."


"Duh, Mamah jadi pusing. Ngomong-ngomong, kamu udah cinta belum sama Harris?"


Yuli bertanya seperti itu karena ia tau dulu Davina menikah karena terpaksa dan perjodohan. Ia hanya ingin memastikan pernikahan sang anak baik-baik saja dan diantara mereka berdua sudah mulai menerima.


Davina terdiam, membuat Yuli ikut diam takut pertanyaannya menyinggung putrinya.


Melihat ekspresi sang Mamah, Davina langsung tertawa.


"Hahaha, Mamah lucu deh. Aku dan Harris udah saling cinta kok, Mah. Buktinya udah ada si dia." ucap Davina tersenyum sambil mengelus perut miliknya.


Yuli tau apa maksud putrinya, matanya langsung berbinar mendengar kabar yang sudah ia nanti-nantikan.


"Kamu hamil?" tanyanya memastikan.


Davina mengangguk, " Iya, Mah. Davina hamil dan sebentar lagi Mamah bakal punya cucu."


"Yeaay, sebentar lagi aku punya keponakan." sahut Diandra dari arah pintu, sontak Davina dan Mamah menengok ke asal suara.


"Beneran kakak hamil? Coba mana liat perutnya." Diandra menghampiri Davina dan meraba-raba perut kakaknya.


"Iihh, apaan sih kamu, Di." Davina menyingkirkan tangan adiknya.


"Yaelah, cuma mau pegang dede bayinya juga. Dasar pelit." Diandra mengejek Davina.


"Eh, kalian bisa nggak jangan berantem terus. Setiap ketemu selalu aja berantem. Mama capek liatnya." ucap Yuli dengan tegas, kedua anaknya itu memang jarang sekali akur.


"Iya-iya, yang waras mah selalu ngalah." ucap Diandra kemudian berlalu menuju kamarnya.


Melihat tingkah anaknya, Yuli hanya geleng-geleng kepala.


Davina memutar bola matanya malas, " Dasar ngambekan."


***


Hari sudah malam, Harris kini masih bersama Farhan di bengkel miliknya. Tadi setelah selesai dengan urusannya, Harris hendak langsung pulang. Sayangnya ban mobil miliknya kempes, alhasil ia menghubungi Farhan untuk memperbaiki mobilnya.


"Harris, ini sudah malam. Apa kamu tidak berniat pulang, ban mobilnya juga sudah selesai diperbaiki." ucap Farhan.


"Sebentar lagi," ucap Harris sambil memejamkan matanya. Sedari tadi ia tiduran di atas bangku panjang yang ada di sana.


"Ini sudah malam, lho. Bukannya aku mau mengusir. Aku hanya tidak mau nanti Davina meneror ku karena kamu lebih memilih bersamaku dibanding dengannya." ucap Farhan tanpa respon dari Harris.

__ADS_1


"Kamu dengar tidak," ucap Farhan lagi.


Merasa terganggu, Harris bangkit dari tidurnya.


"Apa kamu tidak kasihan, bukannya istrimu di rumah sedang sakit? Kamu malah enak tiduran di sini." ucap Farhan.


Mendengar penuturannya, Harris mengerenyitkan dahinya.


"Siapa yang sakit?" tanya Harris.


"Ya istrimu lah, Davina. Masa istriku, aku kan masih jomblo."


"Dia tidak bilang apa-apa padaku." ucap Harris.


"Astaghfirullah, Harris. Seharusnya kamu itu perhatian jadi suami. Atau kalo kamu sudah bosan dengan Davina, bisalah aku jadi gantinya." ucap Farhan terkekeh.


Harris langsung menoyor kepala Farhan. "Kamu berani?" ucapnya sambil melotot.


"Maaf, cuma bercanda. Lagian sudah beberapa hari ini aku perhatikan kalian selalu menghindar satu sama lain. Apa kalian sedang ada masalah?" Farhan menatap Harris menunggu jawabannya.


"Itu bukan urusanmu." balas Harris ketus.


"Tentu ini menjadi masalahku, sebagai sahabat sudah sepatutnya kita saling mengingatkan. Mau menerima atau tidak itu hak mu." ucap Farhan pasrah.


"Kalo benar kalian sedang marahan, lebih baik turunkan dulu ego mu. Sebagai suami harusnya kamu lebih bisa mengayomi keluargamu, itu baru kepala keluarga yang bijaksana." Farhan menasehati.


Mendengar ucapan Farhan memang ada benarnya, sekarang Harris jadi merasa bersalah telah mendiamkan istrinya.


"Owh, ya. Beberapa hari lalu aku melihat Davina di rumah sakit saat sedang mengantar ibuku berobat. Katanya dia sedang menengok saudaranya yang sakit, tapi aku tidak yakin hal itu karena wajahnya sendiri terlihat sangat pucat."


Harris menatap kearah Farhan, mendengar hal itu ia jadi khawatir.


"Setelah itu, aku kembali bertemu dengannya di supermarket saat petang. Dan apa kamu tau apa yang dia beli?" ucap Farhan seolah menyuruh Harris untuk menebak.


"Dia membeli keperluan dapur, karena aku sendiri yang menyimpan belanjaannya." ucap Harris mengingat kembali memori kemarin.


"Tepat sekali, tapi masih ada satu barang yang mungkin tidak kamu tau."


"Barang apa? Aku sudah lihat sendiri, isinya hanya sayuran dan keperluan dapur." Harris nampak ngeyel.


"Susu hamil."


"Cepetan deh pulang, bengkel ku udah mau tutup. Kasian tuh karyawan ku cuma nungguin kamu pergi." Farhan menepuk bahu Harris kemudian meninggalkan Harris.


Harris masih saja diam, mencerna setiap ucapan Farhan yang masih berputar di kepalanya.


Dengan cepat ia menyambar kunci mobil miliknya di atas meja, dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan bengkel Farhan.


Di depan pintu, Farhan melihat kepergian sahabatnya.


"Setidaknya dengan ucapan ku, Harris akan sadar kedepannya. Bukan seperti remaja labil yang sedang galau karena putus cinta."


***

__ADS_1


__ADS_2