
Harris kini sedang berada di Kampus, sebenarnya ia masih ingin menemani sang istri di rumah karena khawatir dengan kondisinya. Namun, Davina dengan tegas menyuruh Harris untuk tetap berangkat dengan alasan dirinya baik-baik saja.
Kelas pagi ini sudah selesai, Harris dan beberapa mahasiswa lainnya segera keluar dari kelas guna mencari udara segar setelah dipusingkan oleh materi-materi yang harus mereka kuasai.
Harris berdiri celingukan mencari keberadaan Farhan. Tak lama kemudian orang yang ditunggu terlihat berlari menghampiri dirinya.
"Assalamualaikum, Harris. Huh, huh." Ucapnya sambil ngos-ngosan setelah berlari. Ia akan memberitahu hal yang penting kepada Harris.
"Waalaikumussalam, Farhan kamu dari mana saja. Aku menunggumu sejak tadi."
"Maaf, Harris. Aku habis bertemu dengan temanku. Dan dia bilang jika dirinya melihat sosok yang mirip dengan Ricko." Farhan menjelaskan seperti yang dikatakan temannya.
Harris sedikit terkejut mendengarnya, "Ricko, di mana temanmu melihatnya?" Mendengar nama itu ia mengepalkan tangannya, seolah mengingatkannya kembali pada kejadian yang dialami Davina beberapa hari yang lalu.
Dari kejauhan Shafira melihat Harris, ia ingin menemuinya setelah beberapa hari tidak bertemu. Shafira mengintili Harris dan Farhan dari belakang.
"Di sebuah warung kecil, dekat stasiun." Balas Farhan.
"Kalo begitu ayo Kita kesana." Ucap Harris.
"Aku juga sudah memberitahu Bimo, sepertinya dia sudah lebih dulu kesana."
"Baiklah,"
Harris hendak berjalan menuju parkiran, tetapi Shafira menghampiri dirinya. " Kamu mau kemana, Harris?" Tanya Shafira kepada Harris.
"Aku ada urusan," Jawab Harris. Kemudian matanya menatap Farhan seolah mengisyaratkan supaya Shafira tidak ikut campur dalam urusannya.
"Apa aku boleh ikut? Sekalian saja antarkan aku pulang." Kata Shafira.
"Maaf Shafira, aku tidak bisa." Tolak Harris.
"Sebaiknya kamu pulang bersamaku saja." Ucap Farhan ikut menimpali.
Shafira menatap kearah Farhan, kenapa dia selalu menghalangi dirinya saat akan mendekati Harris. "Tapi kamu kan membawa motor, aku tidak mungkin berboncengan denganmu." Ucap Shafira memang benar adanya.
Farhan terdiam, sedangkan Shafira tersenyum senang, dengan ini Farhan tidak akan bisa menghalangi dirinya lagi.
Harris langsung melempar kunci mobil miliknya kearah Farhan, dengan senang hati Farhan langsung menangkapnya. Farhan tersenyum, dirinya paham sekarang dengan apa yang dimaksud oleh Harris.
"Pakai mobilku, biar aku yang pakai motormu." Ucap Harris, kemudian dirinya pergi mengendarai motor milik Farhan.
"Ayo naik," Ajak Farhan ketika Harris sudah tidak terlihat.
Shafira terpaksa menaiki mobil milik Harris yang dikendarai oleh Farhan. Kenapa Harris selalu saja tidak peka dengan perasaannya. Dan kenapa Harris selalu berusaha untuk menghindar dari dirinya.
"Sudahlah Shafira, jangan terlalu berharap dengan yang bukan mahrammu, nanti kamu malah sakit hati sendiri. Berhenti mengharapkan cintanya yang tidak mungkin membalas cintamu itu." Ucap Farhan seolah memperingatkan Shafira.
"Aku akan terus memperjuangkan Harris, sampai dia menjadi milikku sepenuhnya." Ucap Shafira dengan tekad yang kuat.
__ADS_1
Farhan tersenyum seolah meremehkan ucapan Shafira barusan. Bukannya kenapa, tapi itu hanya akan berakhir dengan sia-sia. Yang Farhan tau jika Harris sangat mencintai istrinya Davina dan tidak akan ada wanita lain lagi. Shafira tidak tau saja jika Harris sudah menikah makanya ia bersikeras untuk mendapatkan cintanya Harris. Coba saja dia tau tentang pernikahan Harris, apakah Shafira akan tetap mencintainya?
"Jangan sampai setan menjerumuskanmu, Shafira. Kamu wanita cantik dan juga berhijab. Jangan sampai cintamu itu membuatmu buta dan sampai melupakan Allah SWT." Ucap Farhan.
Shafira terdiam tidak menjawab lagi perkataan Farhan. Yang dikatakan Farhan ada benarnya juga.
***
Sesampainya di Stasiun Harris langsung memarkirkan motornya. Ia juga melihat motor milik Bimo yang terparkir di sana. Berarti benar yang dikatakan Farhan, jika Bimo lebih dulu pergi.
Harris langsung menelusuri sekitaran warung-warung kecil yang ada di sana. Namun dirinya tidak menemukan keberadaan Ricko. Ia juga tidak melihat keberadaan Bimo di sana.
Tak lama ia mendengar suara gaduh seperti orang yang sedang berkelahi di belakang stasiun. Dan benar saja, Bimo sedang berkelahi melawan Ricko dan ke-empat temannya. Terlihat wajah Bimo lebam di beberapa tempat. Bagaimana tidak, dia dikeroyok oleh lima orang sekaligus.
"Dasar pengecutt!!!" Teriak Harris membuat mereka menghentikan perkelahian dan langsung mencari asal suara.
"Harris.." Gumam Ricko.
"Kenapa? Tidak usah terkejut seperti itu Ricko. Apa kamu sudah jadi penakut sehingga membawa teman-temanmu untuk mengeroyok Bimo?"
"Diam, kau Harris! Aku tidak penakut dan juga bukan pengecut." Balas Ricko dengan amarah.
Bimo memanfaatkan waktu ketika mereka sedang lengah. Bimo memukul salah satu teman Ricko dari arah belakang, alhasil dia jatuh tersungkur sambil merintih kesakitan.
Ricko yang melihat temannya tersungkur menggeram emosii..
"Sialannn!" Teriaknya kemudian berlari mendekati Bimo hendak menghajarnya. Bimo yang membelakangi Ricko, tak tau jika ia akan diserang. Tanpa aba-aba Bimo terhuyung kedepan akibat dorongan dari Ricko, dengan cepat Bimo langsung membalas serangannya.
Bugh..bugh..bugh
Berulang kali dirinya dihujami oleh pukulan yang bertubi-tubi hingga mengeluarkan cairan putih dari mulutnya.
"Harris!" Panggil Bimo ketika melihatnya sudah terbaring. Bimo pun langsung menghampiri Harris.
"Dasar biadab! Pergi atau ku habisi kalian sekarang juga!" Ucap Bimo dengan sorot mata penuh kemarahan.
Tanpa pikir panjang, Ricko dan anak buahnya segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Harris, tolong bertahanlah. Tunggu sebentar, aku akan mencari bantuan." Ucap Bimo kemudian mencari bantuan.
"Bimo," Panggil Farhan dari kejauhan.
"Farhan, cepat kemari."
Farhan pun menghampiri Bimo dengan tergesa-gesa.
"Dimana Harris, kenapa kamu cuma sendirian? Apa Ricko sudah ditangkap?" Tanya Farhan khawatir.
"Ayo ikut aku,"
__ADS_1
Alis Farhan mengernyit, apa Bimo sudah tidak waras. Dia hanya tanya keberadaan Harris, kenapa malah suruh mengikutinya.
"Kau ini kenapa, Bimo. Aku hanya tanya di mana keberadaan Harris kenapa malah suruh mengikutimu."
"Diam, jika kamu ingin tahu." Ucapnya kemudian kembali menuju tempat di mana Harris berada. Dengan terpaksa Farhan mengikuti Bimo. Betapa terkejutnya ketika Farhan melihat Harris tergeletak tak sadarkan diri.
"Astaghfirullahaldzim, Harris." Farhan menghampirinya.
"Apa yang terjadi dengannya, Bimo? Kenapa bisa sampai seperti ini." Tanyanya sangat panik.
"Dia dihajar oleh anak buah nya Ricko. Cepat bantu aku membawanya kerumah sakit."
Farhan membantu membawa Harris menuju mobil. Harris dibaringkan di jok bagian belakang bersama Bimo. Sedangkan Farhan yang mengemudikan mobilnya. Sebelumnya Bimo sudah menghubungi sahabatnya untuk membawa motor yang ditinggal.
"Bimo, cepat hubungi Davina. Katakan kepadanya apa yang terjadi pada Harris." Ucap Farhan.
"Baiklah, sebentar."
Bimo menghubungi nomor milik Davina, namun tidak mendapat jawaban darinya.
Harris membuka matanya sedikit, "Jangan katakan apapun padanya, Bim. Aku tidak mau membuatnya khawatir." Ucapnya dengan lirih.
"Tapi, Harris..."
"Ku mohon, bawa aku ke apartemen milikku saja." Perintah Harris yang diangguki oleh Bimo.
"Farhan, putar balik ke apartemen milik Harris." Ucap Harris pada Farhan.
"Oke,"
***
Di rumah, Davina merasa sangat gelisah. Entah kenapa dirinya merasa sangat tidak tenang.
"Mah, kenapa aku merasa tidak tenang ya?" Ucap Davina pada Mamahnya.
"Pasti kamu lagi memikirkan sesuatu, iya kan? Jangan banyak pikiran dulu, tidak baik buat kesehatan kamu. Mending kamu istirahat di kamar." Ucap sang Mamah.
"Yaudah Mah, aku kekamar dulu." Davina meninggalkan Mamahnya yang sedang menonton tv.
Davina sudah tidak menggunakan kursi roda, karena menurutnya itu sangat mengganggunya dalam beraktivitas.
Sesampainya di kamar, dirinya langsung merebahkan diri perlahan di atas ranjang. Ia melirik ponselnya yang berkedip merah tanda ada panggilan yang tak terjawab. Karena penasaran ia pun mengambilnya.
"Panggilan tak terjawab dari bang Bimo, ada apa ya?" Gumamnya. Karena penasaran, dirinya pun menghubungi balik namun tidak mendapat jawaban darinya.
Davina juga menghubungi ponsel Harris namun ponsel miliknya tidak dapat di hubungi.
Davina jadi khawatir dengan keadaan suaminya. "Apa Harris baik-baik saja?"
__ADS_1
****