
Kini Davina sedang berada di dapur memanaskan makanan pemberian Uminya supaya bisa dijadikan sarapan untuk dirinya juga Harris. Karena hari ini mereka berdua tidak ada jadwal kuliah, jadilah mereka sedikit bersantai.
Harris yang baru keluar dari kamar, melihat Davina yang sedang di dapur langsung menghampirinya.
"Harris, lepas." Pekik Davina ketika dirinya merasa terganggu oleh suaminya.
"Biarkan seperti ini dulu, Davina." Harris memeluk sang istri dari arah belakang dan menyusupkan kepalanya di leher jenjangnya, rambut Davina di cepol menggunakan jepitan sehabis keramas.
Davina terus saja memberontak, berusaha melepaskan tangan Harris yang melingkar di perutnya. Bukannya apa-apa Davina saja yang belum terbiasa dengan perlakuan Harris yang seperti itu.
"Lepaskan, jangan membuatku kesal kalo kamu masih mau sarapan pagi ini." Ancam Davina yang membuat Harris langsung melepaskan pelukannya.
"Rambutmu wangi Sayang," Bisik Harris sebelum menghampiri meja makan.
Davina tersenyum sekilas melihat Harris yang berlalu menuju meja makan.
Davina dengan cepat menyajikan makanan tersebut dan mengisi piring kosong milik suaminya itu untuk segera diisi dengan makanan.
"Terimakasih," Ucap Harris dibalas anggukan oleh Davina.
Setelah selesai sarapan, Davina membuka suara.
"Harris, apa kamu yang memenjarakan Ricko?" Ucap Davina ketika mereka sudah selesai. Davina baru mengatakan hal tersebut karena ia lupa akibat semalam.
Harris mengernyit bingung, "Apa maksudmu, Davina?" Ucapnya.
"Kemarin waktu di supermarket aku bertemu dengan Faras, dia pun menceritakan tentang Ricko yang di penjara dan memintaku untuk membantu membebaskannya." Ucap Davina menerangkan.
Harris nampak terkejut akan hal itu, karena Ricko adalah sahabatnya dulu dan karena hal itu ia tidak memenjarakannya walaupun ia sempat mencari-carinya untuk meminta penjelasan.
"Faras yang mengatakannya?" Tanya Harris, pasalnya ia sedikit bingung karena yang ia tau mereka tidak saling kenal.
Davina mengangguk, "Mereka berdua berpacaran." Ucap Davina seolah memberi jawaban atas pertanyaan Harris.
Harris hanya manggut-manggut, "Kita cari tau besok saja bagaimana?" Usul Harris.
"Baiklah," Ujar Davina.
"Jangan lupa nanti siang Kita ke rumah Umi." Ucap Harris kemudian pergi untuk menonton tv. Davina mengangguk setuju.
Davina langsung membereskan meja makan dan mencuci beberapa piring kotor dilanjutkan dengan membersihkan semua ruangan yang ada di apartemennya. Sekarang ia sudah mulai paham akan tanggungjawabnya sebagai seorang istri, walaupun sesekali Harris juga akan membantunya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 di mana Harris dan Davina sudah bersiap pergi ke rumah Uminya.
Mereka berdua menaiki mobil milik Harris untuk sampai kesana.
***
Setibanya di sana, Davina dan Harris di sambut oleh Uminya yang kebetulan sedang tidak berada di butik.
"Kalian datang kok nggak bilang sama Umi?"
"Iya, Umi. Katanya Davina kangen sama Umi." Jawab Harris membuat Davina jadi malu.
"Maaf ya, Davina. Kemarin Umi nggak nungguin kamu pulang soalnya udah mau maghrib. Takutnya Abi nyariin Umi."
"Enggak gitu Umi, harusnya Davina yang minta maaf karena nggak bisa ketemu sama Umi karena harus mampir ke toko buku dulu." Ucap Davina menyesalinya.
"Shutt, masya Allah Davina kamu terlihat sangat cantik dengan gamis dan hijab seperti ini." Ucap Khumaira ketika baru menyadari keadaan Davina sekarang.
Khumaira tentunya sangat senang dengan perubahan yang dilakukan oleh Davina, hal itu merupakan salah satu keinginannya ketika sang putra menikahi gadis yang dulunya urakan supaya dapat merubahnya menjadi wanita yang sholihah.
Khumaira pun langsung mengecup kening milik Davina, ia sampai meneteskan air matanya saking senangnya.
Buru-buru ia menghapusnya supaya tak terlihat oleh kedua anaknya. Namun, hal tersebut tentu tak luput dari pandangan Harris dan Davina.
"Segitu senangnya Umi melihat aku berhijab, sampai beliau meneteskan air matanya?" Batin Davina.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo masuk. Kebetulan hari ini Umi masak banyak loh." Ucapnya yang langsung diangguki oleh Harris dan Davina.
Mereka pun masuk ke dalam menghampiri sang Abi yang sedang duduk bersama seorang wanita yang terlihat memangku seorang balita dan seorang pria duduk di sampingnya, Davina sendiri tidak tahu siapa mereka karena dirinya baru pertama kali melihatnya.
"Assalamualaikum," Salam Harris mengalihkan perhatian mereka.
"Waalaikumussalam." Jawab mereka serentak.
"Nah, ini dia yang lagi diomongin muncul juga." Ucap laki-laki tersebut menatap Harris.
Harris nampak tersenyum menanggapinya, kemudian menyalami Abi diikuti oleh Davina.
"Apa kabar kamu, Akbar?" Ucap Harris sambil berpelukan dengannya, karena sudah lama tidak bertemu.
"Alhamdulillah baik, Harris. Owh, ya perkenalkan ini istri dan anakku." Ucap Akbar mengenalkannya kepada Harris.
Harris tersenyum seraya menangkupkan kedua tangannya. " Harris,"
"Dewi," Balasnya sama seperti Harris.
Davina juga menyalami wanita yang bernama Dewi, yang ia taksir umurnya masih lebih muda darinya.
"Sudah-sudah kenalannya, kalian duduk saja dulu." Sahut Abi Imron menengahi.
Davina yang merasa canggung hanya mengikuti intruksi ayah mertuanya dan duduk di samping Harris.
"Kapan kamu sampai di sini, Bar?" Tanya Harris.
"Baru tadi pagi Harris." Jawabnya.
Karena canggung Davina memilih berlalu menuju dapur membantu sang Umi yang sedang bertempur dengan alat dapur.
"Itu istrimu, ya Harris?" Tanya Akbar karena Harris belum mengenalkannya.
"Iya, dia istriku. Maaf lupa ngenalin tadi."
Kemudian Harris menjelaskan alasan dirinya tidak mengundang Akbar juga kerabat yang lain karena itu keinginan istrinya dan hanya mengundang keluarga inti saja.
Sedangkan Davina menghampiri Umi nya yang sedang sibuk memasak.
"Umi, sini biar Davina bantu." Ucap Davina.
"Boleh, ini tolong dikupas dulu." Perintah Umi.
"Iya," Davina meraih beberapa siung bawang merah dan bawang putih untuk dikupasnya.
"Owh, ya Umi. Di depan itu siapa ya?" Tanya Davina karena penasaran.
"Memangnya kamu belum kenalan ya sama mereka?"
"Sudah sih Umi," Balas Davina sambil terkekeh.
"Kebetulan kamu kesini sekarang jadi bisa tau saudaranya Harris. Akbar itu sepupunya Harris. Nah, ibunya Akbar itu adik dari Umi yang bernama Farida. Sayangnya, Farida sudah meninggal sejak Akbar berumur 15 tahun dan adiknya Dika berumur 10 tahun."
Davina mengangguk, " Tapi, ayahnya mereka di mana?"
Umi Khumaira terlihat menghela nafasnya ketika mendapat pertanyaan dari Davina.
"Ini yang Umi sesali, Farida menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia pergi meninggalkan keluarganya ketika Farida sedang mengandung si bungsu, tanpa pamit pula. Sudah dicari-cari tapi hilangnya bagai ditelan bumi."
Umi pun menceritakan kisah adiknya yang membuatnya berkaca-kaca.
"Maaf Umi," Ucap Davina.
"Kamu tidak perlu minta maaf Davina, sudah seharusnya kamu mengetahui tentang keluarga kami." Khumaira menepuk bahu Davina sambil menatap Davina.
Davina tersenyum seraya mengangguk mengerti, kemudian mereka melanjutkan kegiatannya.
__ADS_1
"Owh, ya. Apa kamu tau kalo Akbar dan Dewi menikah muda loh." Ucap Umi disela-sela kegiatannya.
"Davina sudah mengira si Umi, kelihatan dari wajah mereka yang masih sangat muda." Ucap Davina beropini.
"Iya benar, Akbar memutuskan menikahi Dewi ketika mereka berumur 19 tahun. Dan sekarang sudah menginjak 2 tahun lamanya pernikahan mereka. Alhamdulillah, mereka sudah dikaruniai seorang putra. Umi do'ain ya Davina, semoga kamu dan Harris segera menyusul mendapat momongan." Ucapnya.
"Aamiin, terimakasih Umi." Balas Davina. Khumaira hanya tersenyum melihatnya.
"Ini sudah siap, tolong kamu taruh di meja makan ya." Perintah sang Umi.
Davina pun menyajikan makanan yang telah siap di meja makan. Setelah semuanya siap, Davina pun memanggil semuanya untuk makan bersama.
"Abi, Harris, Dewi, Akbar ayo makan dulu, semuanya sudah siap." Ajak Davina kepada mereka.
"Ayo Kita makan siang dulu, kasian Umi sama Davina yang sudah memasak." Ucap Abi.
"Iya, tapi Akbar sama Dewi nanti saja Bi, kasihan kalo Ali ditinggal." Ucap Akbar.
"Sini biar Alinya sama aq aja, Dew. Kamu sama Akbar makan dulu aja." Ucap Davina karena jujur dirinya tertarik untuk menggendong Ali.
"Eh, mba nggak usah. Nanti mba makannya gimana?"
"Udah itu gampang, nanti aku terakhiran saja. Soalnya masih kenyang nih." Balas Davina.
"Ya udah mba, maaf kalo ngerepotin." Ucap Dewi sambil menyerahkan Ali kepada Davina.
"Enggak kok." Davina kemudian meraih Ali kedalam gendongannya.
Davina pun mengajak Ali untuk bermain, sedangkan yang lain sedang di ruang makan menikmati makanan yang telah dimasak tadi.
Karena Ali yang masih berumur kurang lebih 5 bulan, makanya ia lebih sering tertidur. Buktinya saat diajak bermain oleh Davina, Ali berulang kali menguap membuat Davina akhirnya memilih untuk menggendongnya supaya lebih cepat tertidur.
"Ali ganteng cepat tidur ya." Ucap Davina sambil mengelus dengan lembut pipi gembul milik Ali.
Tak lama kemudian, Ali sudah tertidur dalam gendongan Davina. Berulang kali Davina menciumi pipi gembulnya karena merasa gemas dengannya.
"Kamu sudah pantas jika memiliki anak, Davina." Ucap seseorang dari arah belakang.
"Apaan sih, Harris." Elak Davina sambil meletakkan Ali di sofa.
"Memangnya kamu tidak ingin memiliki anak ya?" Goda Harris.
"Mau lah," Ucap Davina spontan.
Mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Davina, Harris tersenyum.
"Eh, tapi tidak sekarang!" Ralat Davina. Harris menaikkan satu alisnya.
"Kenapa?" Harris mendekatkan dirinya pada Davina.
Davina gelagapan mencari alasan, "Aku kan masih kuliah,"
"Hanya itu? Dewi juga masih kuliah." Harris terus saja mendekatkan wajahnya.
"Harris stop," Perintah Davina karena dirinya sudah mentok di sisi sofa.
Harris tak menghiraukannya, membuat Davina memejamkan matanya siap menerima kecupan dari Harris.
"Khem..khem..." Deheman seseorang membuat Harris mengurungkan aksinya.
Davina dan Harris melotot saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka tersadar, Harris pun langsung bangkit dari posisinya diikuti oleh Davina.
"Kalo mau gituan inget tempat, Harris. Untung Alinya tidur, kalo ngga bisa kena mental nanti anakku." Ucap Akbar sambil terkekeh dengan Dewi di sampingnya.
Malu sungguh malu yang Davina rasakan. Sudah beberapa kali dirinya di posisi ini. Davina merutuki Harris yang selalu menggodanya.
"Maaf, khilaf tadi." Balas Harris tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
****