Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Pulang


__ADS_3

Beberapa waktu telah berlalu, terasa sangat lama bagi orang yang hanya bisa berdiam diri di atas pembaringan. Tubuh yang penuh luka tersebut kini perlahan membaik seiring berjalannya waktu. Berkat dukungan dari keluarga, serta sahabatnya lah kini Bimo mampu bertahan dan sudah diperbolehkan pulang lebih cepat.


Dengan wajah sumringahnya ia duduk di kursi roda. Sebentar lagi dirinya akan pulang ke rumah. Karena tidak ada yang lebih baik daripada pulang ke keluarga, tempat cinta kasih yang sesungguhnya. Ini bukan tentang menemukan rumah melainkan menemukan diri nya sendiri. Bimo selalu merasa menjadi dirinya sendiri jika berada di rumah, ia tidak harus bermuka dua ketika bersama mereka kecuali berhadapan dengan musuh-musuhnya.


Kursi roda miliknya di dorong oleh Harris menuju parkiran. Akhirnya ia akan segera meninggalkan tempat membosankan itu.


"Bimo!" terdengar suara panggilan ketika Bimo hendak masuk ke dalam mobil. Sontak yang lain menoleh kearah gadis yang tengah berlari kearah mereka dengan membawa sebuah buket bunga digenggaman tangannya.


"Askya."


Gadis tersebut hanya tersenyum sembari memberikan buket bunga yang terdiri dari mawar merah dan putih itu, sangat indah. Bimo pun menerimanya dengan senang hati. Kemudian ia menghirup dalam-dalam, membiarkan aroma harum khas mawar menusuk ke dalam indra penciumannya. Jarang-jarang gadis itu bersikap manis seperti ini pikirnya.


"Akhirnya Bim, lo pulang juga. Seneng banget gue lihatnya." bisa terlihat rona bahagia diwajahnya.


"Terimakasih, Kya. Kamu dari mana saja?" tanya Bimo, pasalnya gadis itu sudah dua hari ini tidak datang untuk menjenguknya. Hal itulah yang membuat Bimo sempat khawatir. Padahal dirinya lah yang perlu dikhawatirkan disini.


"Hm, maaf banget ya Bim. Kemarin Bibiku sakit, jadi aku harus tetap tinggal."


"Iya, nggak papa." balas Bimo tersenyum.


"Upss," Askya memandangi orang disekelilingnya, ia baru sadar telah menjadi pusat perhatian.


"Maaf semuanya, gara-gara aku perjalanan kalian terhambat." sambungnya sambil mengatupkan kedua tangannya dan membungkuk, seperti tradisi Jepang.


Yuli hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala, ia sudah tau perangai gadis itu. "Sekarang kamu masuk mobil, temani Bimo." titah Yuli.


Askya tersenyum, keluarga Bimo memang baik padanya. Kemudian ia melirik kearah gadis yang sudah duduk manis di kursi belakang yang sedari tadi menyaksikan kegiatan mereka berdua.


Paham dengan tatapan yang diberikan sahabat abangnya, Diandra pun mengalah.


"Aku bareng Mama Papah." putusnya, kemudian keluar dari mobil dan berpindah menuju mobil orang tuanya.


Setelah mereka semua masuk mobil, perlahan mobil melesat meninggalkan rumah sakit menuju rumah, tempat paling nyaman untuk pulang.


Mereka sudah sampai di kediaman milik Agung. Harris membantu Bimo untuk duduk di kursi roda miliknya. Sedangkan Askya gadis itu mengambil alih untuk mendorong Bimo masuk ke dalam rumah. Harris mengeluarkan koper serta barang bawaan.


"Sayang, ayo masuk." ucap Harris ketika Davina masih setia duduk di samping kemudi.


Davina mengangguk, ia memberikan kode supaya Harris masuk lebih dulu. Ia menatap rumah milik Agung, rumah yang dilarang dirinya hadir di dalamnya. Davina tentu masih mengingat perintah papahnya waktu itu. Sampai saat ini pun ia masih takut untuk menginjakkan kaki di sana, takut kembali diusir di depan orang lain. Tidak lucu jika orang lain melihat dirinya diusir bahkan di rumahnya sendiri bukan?

__ADS_1


Melihat yang lain sudah masuk, Davina keluar dari mobilnya. Mau tidak mau suka tidak suka dirinya tetap harus masuk kesana. Saling berbagi kebahagiaan berkat kesembuhan Bimo bersama keluarga tidak akan ia lewatkan. Meskipun, jika Agung akan melarangnya.


Ia berjalan dengan pelan ke dalam sana, belum sempat menginjakkan kaki di teras ia sudah menghentikan langkahnya. Diam sejenak sambil mengelus perut buncitnya. Seolah mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


Pluk


Kepala milik Davina terpaksa menoleh ketika dirasa ada sebuah tangan yang menepuknya.


"Masuk saja jangan ragu-ragu, Davina. Papah sudah cabut larangan waktu itu. Tidak mungkin Papah akan melarang cucunya sendiri untuk masuk kedalam rumah." ucap Agung sambil tersenyum ketika melihat ekspresi Davina yang sedikit terkejut.


"Papah tunggu di dalam ya, jangan berdiri terlalu lama kasihan cucu Papah." Agung mengusap puncak kepala putrinya yang sudah lama jauh darinya, siapa lagi jika bukan karena ulahnya sendiri.


Setelah mengatakan hal yang seharusnya ia katakan sejak dulu, Agung pun masuk kedalam rumah meninggalkan Davina yang masih terdiam dengan segala pikirannya.


Davina masih diam berdiri, dirinya tidak salah dengan apa yang ia dengar kan? Kenapa tiba-tiba papahnya mengatakan hal itu? Apa dia tidak memikirkan perasaan istri barunya yang menjadi penyebab dirinya diusir, dulu? Apa secepat itu Papahnya berubah.


"Ck, itu nggak penting." gumamnya.


Davina melangkah masuk kedalam rumah tempat tumbuh kembang masa kecilnya.


***


Tadi setelah beberapa saat Bimo sampai di rumah, Gio dan beberapa temannya langsung datang ke sana. Meramaikan kepulangan Bimo dengan ikut berkumpul. Tentu mereka sangat senang mendengar kabar bahwa Bimo sudah pulang, itu merupakan sebuah kemajuan.


Davina yang bosan melihat mereka tertawa tanpa henti pun lebih memilih untuk pergi dari sana. Candaan yang mereka lontarkan terlalu tinggi hingga Davina tidak mampu memahaminya begitu saja. Sepertinya mereka penganut jokes Indra Frimawan.


Dapur, menjadi arah tujuan saat ini. Selain karena dirinya haus ia juga ingin melihat mamanya menyiapkan makanan untuk teman-teman Bimo.


"Kamu di sini, Dav?" tanya Yuli ketika Davina sudah ada di belakangnya.


"Iya, Ma. Aku mau bantuin Mama aja deh." ujarnya.


"Eh, nggak usah. Mama kan udah bilang kamu duduk aja, Sayang. Nanti kamu capek, lagian ada Diandra yang bantuin Mama."


Davina merenggut, tidak melakukan apa-apa membuatnya gabut. Ia pun mengambil segelas air dan meminumnya. Ia memperhatikan adiknya yang katanya membantu sang mama. Lihat saja, bukannya membantu Diandra malah lebih banyak diam dan memperhatikan gerakan Yuli dari pada membantunya.


"Itu yang namanya bantuin, Mama?" ucap Davina menatap sang adik.


Diandra yang disindir begitu hanya terkekeh, "Hehe, aku bingung mau bantuin apa. Kan kakak tau aku nggak bisa apa-apa."

__ADS_1


"Makanya belajar, lagian kamu kan udah besar, Di. Mau dikasih makan apa suami kamu nanti." balas Davina.


"Mama udah berusaha ajarin adikmu ini, Davina. Tapi dianya aja yang kurang telaten, jadi setiap belajar masak seenaknya sendiri. Masa potongin kacang panjang, panjangnya seukuran jari telunjuk. Gimana makannya nanti, dikira mulut orang venom apa. Mamah udah nyerah soal ngajarin Diandra masak." ungkap Yuli.


"Sekarang ambilin Mama piring." titah Yuli pada Diandra yang langsung diangguki olehnya.


Setelah menyajikan makanan yang telah dibuatnya, Yuli pun menyuruh Diandra untuk menyuguhkannya.


"Mau cobain ini nggak?" tanya Yuli mengangkat sebuah piring berisi sebuah kue.


Davina menggeleng, "Nanti aja Ma, perutku masih kenyang." Yuli tersenyum, sedari tadi putrinya itu memang tak berhenti mengunyah.


"Yaudah, sekarang kamu istirahat aja ke kamar. Nanti Mama nyusul sekalian bawain makanan." ucapnya yang diangguki olehnya.


Davina menaiki tangga menuju kamarnya sembari celingak-celinguk berusaha mencari keberadaan seseorang, tapi tidak mendapati keberadaannya.


Sesampainya di dalam kamar ia langsung merebahkan diri di sana. Rasanya rindu sekali dengan kasur empuk miliknya.


"Akh." ringis Davina, ia pun mengubah posisinya menjadi duduk. Davina merasakan tendangan bayi dari dalam perutnya.


"Kamu juga rindu kamar mama ya, Sayang?" ucap Davina sambil mengelus perutnya. Ia tersenyum, beberapa hari ini bayinya memang sering menendang. Seolah ingin diajak bermain.


Ceklek


Pintu terbuka menampilkan Yuli dengan sebuah piring di tangannya. Ia membawa kue buatannya tadi, takut jika tiba-tiba putrinya merasa lapar.


"Kamu kenapa, Dav?" tanya Yuli ketika melihat putrinya seperti kesakitan. Ia langsung menaruh piring di atas nakas dan menghampiri Davina panik.


Davina membawa tangan milik Yuli untuk menyentuh permukaan perutnya dan merasakan tendangan dari sang bayi.


"Masyaallah, ini bayinya gerak. Sepertinya rindu sama Neneknya ya?"


"Iya, dong Ma. Davina juga kangen sama rumah ini." Davina menatap sekeliling kamarnya.


"Mama lebih kangen sama kamu, Davina. Papah kamu emang keterlaluan. Teganya ngelarang anak buat kerumahnya sendiri."


"Mama udah tau?"


Yuli mengangguk, "Papah udah bilang semuanya sama Mama. Termasuk perceraiannya dengan Diana."

__ADS_1


Apa? Pantas saja wanita itu tidak terlihat berada di rumah Agung. Jadi, ini alasan Papahnya bersikap baik kepada dirinya saat ini?


__ADS_2