
Waktu kini terus berjalan, terkadang terasa seperti melesat jauh ke depan. Bagaimanapun keadaan kita, mau sedih atau bahagia waktu tidak pernah berhenti menunggu.
Satu bulan telah berlalu, waktu seakan menjadi saksi bisu adanya serangkaian cerita yang ditaburi bumbu-bumbu cinta, pahitnya perpisahan serta kerinduan yang entah kapan berujung.
Davina Arista, wanita cantik berjilbab itu sedang duduk termangu di ruang tamu. Matanya setia menatap layar TV di depannya. Namun jangan salah, perhatiannya tidak fokus ke sana. Pikiran dan hatinya mengambang tak tentu arah.
Bunyi bel berhasil mengalihkan perhatiannya dari layar, ia melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul tiga sore. Siapa gerangan yang datang berkunjung sore-sore begini? Begitu pikirnya. Segera dia bangkit menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Kakak ipar nyuruh aku kesini. Takut kakak kenapa-kenapa." basa-basi si tamu seolah mengerti kebingungan si tuan rumah.
Davina mengernyit, dia baik-baik saja.
"Owh, ku kira ada apaan. Nggak ada angin ngga ada hujan, tumben-tumbenan kamu ke sini, Di."
"Hehe, tanpa sadar sepertinya aku juga kangen. Ya walaupun terdengar sedikit aneh." gurau Diandra adik Davina.
Mereka memang jarang bersama, itu yang membuat mereka tidak akur seperti orang lain dengan saudaranya.
"Memang aneh, mungkin hanya terjadi pada kita saja." Davina terkekeh. Walau terlihat tidak akrab dengan sang adik, namun Davina sangat menyayangi Diandra. Hanya saja ia tak pernah mengatakannya langsung, begitupun sebaliknya.
"Kalo kesepian di sini sendiri, kenapa kakak nggak ke rumah aja?" tanya Diandra.
Davina menggeleng. "Biar di sini keurus, kalo aku ke rumah Mama nanti apartemennya kotor. Kan aku ngga tau kapan pastinya Harris pulang."
Mata Diandra menyipit, "Bilang aja karena ada jejak kakak ipar Harris kan?"
"Tau aja kamu, Di." ucap Davina, kemudian ia mempersilahkan sang adik untuk masuk.
"Pasti, Diandra gitu lho."
***
"Kira-kira kamu lagi pengen makan apa, Di?" tanya Davina pada sang adik.
"Makan apa aja bisa," jawabnya.
"Yaudah ayo bantuin aku masak."
Jadilah Davina dan Diandra kini sedang bergelut dengan bahan-bahan masakan. Bekerja sama untuk membuat keributan di dapur setelah tadi sempat menonton drakor lewat ponsel.
Tak lama kemudian hidangan yang mereka buat telah selesai, siap untuk dinikmati. Davina memilih seblak, karena itu makanan kesukaan sang adik. Mumpung bersama sang adik, pikirnya.
"Beneran nggak papa kalo makan seblak? Takutnya dede bayi kenapa-kenapa." ujar Diandra was-was, takut nanti dia yang disalahkan jika Davina dan bayi terjadi sesuatu.
"Nggak papa kok asal jangan terlalu pedas, tadi aku udah nanya google." balas Davina.
Diandra menganggukkan kepala ketika telah membuktikan sendiri dengan membuka google, salah satu blog terpercaya. Benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu pada sang kakak dan keponakannya.
__ADS_1
"Kak Dav, sekarang keren ya. Bisa masak, ngurusin rumah segala macem. Pokoknya sekarang jempol, deh." ujar Diandra sambil menampilkan satu jempol kanannya.
"Hm, semua karena tanggungjawab. Sebenernya kalo dipikir-pikir emang enak dulu sebelum menikah. Kamu tau sendirikan, aku sering banget pulang malam, keluyuran, Di. Hanya demi kesenangan anak muda. Masuk dapur pun jarang, ya kecuali ambil minum. Kembali lagi sama tanggungjawab karena kakak sudah menikah." ucap Davina.
"Kalo menikah bisa merubah kakak, kenapa nggak dari dulu aja ya Mamah sama Papah jodohin kalian." ujar Diandra yang langsung dipelototi Davina.
"Apaan sih kamu, Di."
"Bener dong, apalagi pernikahan suatu hal yang ditunggu seorang perempuan di mana mereka akan mendapatkan pangeran seperti keinginannya. Seperti kakak, mendapatkan seorang ustadz." ucap Diandra.
Davina hanya tersenyum menanggapinya.
"Owh, ya. Gimana keadaan rumah?" tanya Davina.
"Seperti biasa, semenjak kakak menikah rumah jadi sepi, karena Papah sekarang sering pergi keluar kota. Mamah yang sering ngeluh, ditinggal sendirian karena aku kuliah. Bang Bimo sendiri jarang di rumah, beberapa kali aku melihat dia ketemuan sama cewe yang ngga tau siapa." ujar Diandra.
"Rani, maksud kamu?" tanya Davina.
Diandra menggeleng. "Bukan, cewe itu nggak berhijab. Tapi keliatan cantik, sih."
"Owh, mungkin temennya Bimo."
"Soal Papah, apa kamu nggak coba bilang istirahat dulu. Kasihan Mamah, dia juga butuh suami di sampingnya kan?"
"Aku juga udah pernah ngomong, tapi mau gimana lagi. Siapa yang mau nerusin bisnis Papah, gitu katanya."
"Makanya buruan kamu nikah, Di. Nanti suami kamu nerusin bisnis Papah." ucap Davina.
"Ngga papa, itung-itung nikah muda. Nanti aku tanya Harris, siapa tau punya sahabat yang bisa dikenalin."
"Kalo ustadz, bisa kok dibicarakan dengan baik-baik." ucap Diandra terkekeh.
"Maumu,"
***
Pagi ini seperti biasa Davina sudah siap untuk pergi ke kampus. Tidak seperti biasanya, beberapa hari ini Davina nampak tidak bersemangat di karenakan tidak ada Harris di sampingnya.
Suaminya itu sedang mengurus pekerjaan, yang mengharuskan dia menginap di sana. Dan karena ini pertama kalinya Davina tinggal jauh dari suami, membuatnya sangat merindukan Harris di sisinya.
Tak lupa dengan status pernikahan dan kehamilan yang masih di sembunyikan dari publik terkecuali hanya sahabat dekat dan keluarga saja yang tau. Selama itu pula Davina berusaha menyembunyikan perut buncitnya selama di kampus.
Seperti kali ini dia memilih menggunakan sebuah gamis longgar dipadukan dengan cardigan serta hijab pashmina hitam miliknya.
Davina berjalan kearah kelasnya, ia celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya Rani. Namun nihil, anak itu tidak ada. Mungkin benar dugaannya, Rani masih sakit seperti kemarin. Semenjak kepindahan Faras hanya Rani yang menjadi teman ngobrolnya.
Di lorong koridor banyak mahasiswa yang berdiri sambil berbisik-bisik menatap kedatangan Davina, menatap dari atas hingga bawah dan terfokus pada bagian perut yang memang terlihat buncit. Merasa terus di perhatikan seperti itu, dengan sigap Davina menutup perutnya dengan cardigan yang dipakai.
__ADS_1
Beberapa dari mereka Davina kenal, teman sekelasnya. Davina bersikap acuh dengan omongan mereka, ia tidak peduli. Namun jika terus-terusan di perlakukan seperti itu siapa yang tidak kesal. Rasanya Davina ingin menangis.
Tiba juga dirinya di kelas. Davina menghempaskan tubuhnya untuk duduk di bangku sebelah yang kosong, itu bangku Rani.
Suasana kelas lumayan ramai, ia bisa mendengar teman-temannya berbisik-bisik di belakangnya. Sayup-sayup Davina masih mendengar cemohan mereka.
"Pantesan, belakangan sering pake baju gede-gede." ucap seseorang tak jauh dari tempat Davina duduk.
"Penampilan aja alim, ternyata cuma buat nutupin." suara-suara itu terdengar jelas di telinga milik Davina.
"Yang digodain yang ganteng pula, mana ustadz lagi. Kan jadi kebongkar kebusukannya, iya ngga?"
"Mana ada nolak rejeki kan dosa, langsung sikatt dong. Jadinya kebobolan deh." mereka tertawa lagi, lebih keras.
Telinga Davina memanas mendengar semuanya, ia hanya bisa diam dengan tangan terus mengepal menahan amarahnya.
"Dav!" seseorang di belakang memanggilnya. Seorang perempuan berambut pirang pendek yang cantik itu memanggilnya.
"Gimana, enak ngga ngelakuin dosa' sama yang paham agama?" tanya perempuan itu.
Mata Davina membulat, bagaimana dia bisa menanyakan hal semacam itu.
"Gak mungkin nggak enak dong, liat aja sampe hamil gitu." sahut yang lain.
"Kok diem sih, Dav? Tunjukin dong caranya kamu ngerayu ustadz Harris. Kamu pasang tarif murah ya?"
Demi Tuhan mata Davina memanas. Sepertinya air mata itu akan segera menetes mendengar beberapa pertanyaan dari mereka.
Davina berani bersumpah jika dirinya bukan wanita seperti yang mereka tuduhkan. Menjual kehormatan demi materi? Tidak pernah, Davina akui dulu dirinya sering pergi ke klub malam. Tapi dia bukan seperti wanita-wanita yang ada di sana. Ingin menjelaskan pun rasanya percuma, karena mereka tertawa sambil mengejek.
"Abis ketahuan hamil langsung dinikahin ya?" ejek perempuan tadi.
"Gak nyangka sih, yang dikira alim eh ternyata sebaliknya. Penggemar kecewa,,,"
Sudah,
Cukup!!!
Davina tidak bisa menerima itu lagi. Sudah tidak kuat lagi dirinya menahan air mata yang sedari tadi mendobrak ingin keluar. Dirinya bangkit dari duduk, meraih tas miliknya kemudian pergi dari sana.
"Hey, kenapa pergi? Kita belum selesai." ucapan mereka masih terdengar.
Dia bukan perempuan seperti tuduhan mereka.
Air matanya meluncur deras. Hatinya terasa hancur seketika. Rahasia yang tersimpan rapat, harus terbongkar dengan cara yang bahkan tidak pernah Davina bayangkan. Rasanya menyesakkan sekali.
Orang-orang yang dianggap teman, nyatanya bisa berubah menjadi monster yang menghancurkan dirinya. Masa bodoh dengan kelasnya nanti, dia tidak peduli.
__ADS_1
Davina tak menampik jika masalah yang timbul ini juga karena dirinya yang merahasiakan pernikahan antara dirinya dan Harris. Davina sadar, sadar akan hal itu. Tapi bukan seperti ini akhirnya yang ia harapkan.
***