
Setelah mendapat kabar tentang Bimo yang mengalami kecelakaan, Harris langsung pergi menuju bandara setelah menyelesaikan acara seminar dan meninggalkan kedua sahabatnya yang akan pulang menggunakan mobil miliknya. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah sakit, melihat secara langsung keadaan kakak iparnya itu.
Pikirannya tidak tenang memikirkan bagaimana keadaan Davina saat ini, pasti istrinya itu sangat terpukul dengan musibah yang menimpa Bimo. Mengingat Davina pernah mengatakan, jikalau Bimo adalah segalanya, baginya.
Kini Harris sudah sampai di rumah sakit tempat Bimo dirawat. Ia mendekat ke meja informasi untuk menanyakan keberadaan Bimo.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Saya mencari pasien yang mengalami kecelakaan kemarin."
"Atas nama siapa?"
"Bimo, Bimo Ariestian."
"Tunggu sebentar ya, Pak." ucap petugas tersebut. "Atas nama Bimo Ariestian baru saja dipindahkan ke ruangan Anggrek nomor 5." sambungnya.
Setelah mengucapkan terimakasih Harris melangkah menuju ruangan yang telah disebutkan tadi. Dengan pelan ia membuka pintu dan memasuki ruangan Anggrek tersebut. Dirinya bisa bernafas lega setelah melihat Bimo yang berbaring di atas ranjang pasien.
"Assalamualaikum," salam Harris mengalihkan atensi mertuanya yang sedang beres-beres.
"Waalaikumussalam." balasnya.
"Nak Harris, kamu sudah pulang?" ucapnya terkejut melihat keberadaan sang menantu tiba-tiba.
"Iya Mah, Harris dapat kabar kalo Bimo mengalami kecelakaan." ucap Harris sambil menyalami ibu mertuanya.
"Owh ya, bagaimana kondisi Bimo sekarang, Mah?" tanya Harris sambil melirik ranjang pasien tempat di mana Bimo berbaring dengan mata yang masih terpejam.
"Alhamdulillah Harris, kondisi Bimo sekarang sudah jauh lebih baik dari kemarin. Mamah sempat khawatir karena setelah dilakukan tindakan operasi, kondisi Bimo kritis. Tapi, sekarang Mamah sangat bersyukur karena Bimo dapat melewati semuanya dengan baik."
"Iya Mah, Bimo orang yang kuat. Dia tidak akan mudah menyerah."
"Owh ya, Harris. Mamah belum sempat mengabari Davina terkait kondisi Bimo yang sekarang. Asal kamu tahu, istrimu itu tidak berhenti menangis saat mengetahui abangnya mengalami kecelakaan. Bahkan dia tidak mau pulang, Davina ingin tetap menunggui Bimo hingga sadar. Mereka itu saling menyayangi sejak kecil, walaupun Bimo bukan kakak kandungnya tapi mereka sangat dekat sudah seperti saudara kandung. Mamah juga sudah menganggap Bimo sebagai anak kandung, Mamah harap kamu tidak cemburu atau apapun itu." ucap Yuli kepada Harris.
Harris pun mengangguk paham, ia paham akan kedekatan antara dua manusia itu. Ia pun tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Harris selalu ingat dengan perkataan Davina dulu.
"Owh ya, Mamah juga mau mengatakan sesuatu." ucap Yuli menghentikan ucapannya membuat Harris sedikit penasaran.
"Mamah tau Davina juga sangat merindukanmu, Harris. Sebagai seorang istri apalagi sedang mengandung, ia pasti membutuhkan suami untuk selalu berada di sisinya. Mamah harap kamu tidak akan bepergian jauh setelah ini, entah karena pekerjaan atau apapun itu. Mamah kasihan sama Davina." ucap Yuli mengutarakan apa yang mungkin juga Davina rasakan.
"Iya, Mah. Harris akan selalu ingat pesan Mamah. Terimakasih juga sudah ikut membantu menjaga istri Harris selama Harris pergi." ucap Harris.
__ADS_1
"Iya sama-sama. Owh ya, Mama titip Bimo sebentar ya. Diandra juga sebentar lagi ke sini membawa makanan." ucap Yuli menepuk bahu menantunya.
" Iya Mah."
Setelah Yuli meninggalkan ruang perawatan, tak lama kemudian datanglah sang adik ipar.
"Dasar Alan sialan." umpatnya sambil membuka pintu perlahan.
"Assalamualaikum." sahut Harris melihat Diandra masuk tiba-tiba.
"Upss, ada kakak ipar. Iya waalaikumussalam, hehe." Diandra masuk sambil meletakkan beberapa makanan dan minuman.
"Siapa laki-laki yang kamu sebut sialan itu?" tanya Harris sedikit tidak suka.
"Eh— enggak kak, dia temen aku." ucap Diandra malu telah berkata kasar.
"Kamu itu perempuan, Diandra. Janganlah berkata kasar, nggak baik buat kamu." ucapnya menasehati.
"Iya kak, maaf."
"Kamu udah kasih kabar ke kakak kamu kalo Bimo udah pindah ruangan?" Diandra menggeleng.
"Bagus, sekarang kamu kabari dia, tapi jangan kasih tahu kalo aku ada di sini."
"Kamu menjaga dengan baik kakakmu itu kan? Apa dia melakukan sesuatu?" tanya Harris.
"Tentu, sejauh ini baik-baik aja sih kak Davina. Tapi kak Harris nggak lupa kan sama janjinya, kemarin?" Diandra terlihat menaikkan satu alisnya.
Harris tersenyum, "Iya, nanti kakak kirim nomernya. Ngebet banget sih kamu, Di." ujar Harris terkekeh.
"Nggak ngebet, nggak dapet!!"
***
Kini Davina sudah lebih tenang sejak perdebatannya tadi dengan Rani. Akibat kecerobohannya sendiri, hampir saja dirinya terserempet oleh pengendara sepeda motor. Untung saja ada seseorang yang menyelamatkan dirinya tepat waktu.
"Terimakasih banyak ya, Shafira. Hari ini kamu udah nyelametin aku, bawa aku ke tempat pembuatan kue donat milik kamu. Dan aku makan banyak donat jadinya, haha." ucapnya diakhiri kekehan. Entah sejak kapan Davina merubah panggilannya, sepertinya ia sudah nyaman dengan Shafira karena pembawaannya.
"Iya sama-sama, aku juga seneng kok bisa ajak kamu ke toko milikku. Lain kali mampir lagi ya, Davina." yang diangguki oleh Davina.
"Tapi jujur ya, donat buatan kamu enak banget gila. Aku inget dulu Harris pernah ngasih donat yang katanya dari kamu kan? Dan waktu itu sebenarnya aku ketagihan, tapi ya— kamu tau kan gengsi ku gede banget."
__ADS_1
Shafira tertawa, "Makanya gengsi jangan diturutin. Padahal ya, kalo kamu mau lagi pasti Harris bakal beliin lagi tuh. Lagian, Harris kan tipe laki-laki sayang istri." ujar Shafira sedikit menggoda.
"Kamu benar, Shaf. Harris sayang banget sama aku. Kamu gimana?" Davina menoleh menatap Shafira, di dalam benaknya masih saja berfikiran jikalau Shafira juga menyukai suaminya.
"Kamu masih belum paham ya?" Shafira terlihat merubah posisi duduknya. "Dari dulu dugaan kamu ke aku itu nggak bener, tentang aku yang berusaha merebut Harris lah, aku cinta sama Harris itu semua salah. Itu cuma persepsi kamu doang, Davina. Dan ya sebelum kamu tau tentang aku, aku udah tau tentang kamu duluan. Tentang perjodohan, pernikahan kamu sama Harris aku udah tau." ucap Shafira membuat Davina tertegun.
"Kenapa aku selalu berusaha dekat dengan Harris? Ya karena aku sedang mencari tau siapa wanita yang akan dinikahinya. Justru aku mau menyelamatkan wanita itu."
Davina mengernyit tidak paham maksud perempuan disampingnya. "Maksud kamu?"
"Arabella, kamu ingat nama itu?" Davina mengangguk, tidak mungkin dirinya melupakan nama itu.
"Dia mantan Harris sekaligus orang yang telah menculik dan hampir membunuh kamu kan?" tanya Shafira.
"Ka—kamu tau dari mana?"
Shafira tersenyum, kemudian merubah ekspresinya menjadi datar. "Dia kakak kandung aku."
Deg.
"Apa? Jangan bohong kamu, Shaf. Nggak mungkin kan?" ucapnya tidak percaya. Bagaimana wanita seperti Shafira bisa mempunyai kakak seperti iblis? Sangat tidak masuk akal.
"Kenapa?"
"Kalian sangat berbeda."
Shafira tersenyum, "Orang tua kita berpisah dan aku memutuskan untuk ikut ibu, sedangkan dia lebih memilih ikut ayah. Dia lebih tua satu tahun dariku. Dia orangnya ceria juga orangnya baik, dia sosok kakak yang memang sangat menyayangi adik seperti pada umumnya. Dia selalu membagi ceritanya padaku. Tentang sekolahnya, dan juga pacarnya. Setiap hari selalu begitu. Hingga suatu hari kakakku pulang dalam keadaan menangis, entah karena apa aku juga tidak tahu. Di malam itu, dengan tiba-tiba ayah membawa Bella pergi dari rumah. Saat itu juga aku tau kalo ayah telah resmi bercerai dengan ibuku." Shafira berhenti sejenak, rasanya sakit ketika orangtuanya berpisah kala itu masih teringat dengan jelas.
"Aku masih berhubungan baik dengan kakakku, sesekali dia mengajak aku untuk bertemu melepas rindu. Dia menangis, ketika menceritakan telah putus dengan Dzaki, nama yang baru ku dengar dari mulutnya kala itu. Dia sempat mengurung diri, katanya tidak bisa hidup tanpa Dzaki. Hanya Dzaki, Dzaki, dan Dzaki yang ku dengar dari mulutnya setiap hari. Hingga aku memutuskan untuk mencari tau siapa sebenarnya laki-laki itu. Aku mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk, di kamarnya aku menemukan sebuah foto seorang laki-laki terlihat berandalan dengan pakaian yang dikenakannya. Hingga aku menyadari wajah orang tersebut sama seperti temanku di kampus, yang bernama Harris Mudzaki. Yah, baru kusadari ternyata mereka adalah orang yang sama. Dengan wajah yang sama, tapi kepribadian yang berbeda membuat aku terus mencari tahu yang sebenarnya."
"Aku inget banget waktu itu, aku sampai frustasi harus membela siapa? Disatu sisi ada kakak kandung aku yang disakiti sepihak, disisi yang lain aku yakin kalo Harris adalah orang yang baik dan punya alasan jelas kenapa mereka bisa putus. Di saat itulah aku mulai mendekati Harris dengan cara mengikuti beberapa organisasi yang sama, bersama Farhan juga kami bertiga berteman. Semakin hari aku semakin yakin kalo Harris adalah orang yang baik, tidak seperti yang kakakku tuduhkan. Dan aku balik mencurigai Bella ketika aku berhasil memergoki dirinya berbicara di telepon tentang rencana busuknya terhadap istri Harris. Dari situ aku baru tau kalo Harris sudah menikah, dan itu dengan kamu Davina." ucap Shafira.
Davina diam, ia bingung harus bereaksi seperti apa. Dirinya sangat terkejut dengan fakta yang dikatakan oleh Shafira.
"Kalo kamu sudah tau niat busuk Bella, kenapa kamu tidak menghentikan dia? Bella hampir ngebunuh orang Shaf, dan itu bukan hal sepele!" ucap Davina kesal.
"Kalo kamu pikir aku tidak berusaha menghentikan dia, kamu salah besar Davina. Bella itu orangnya nekat, apalagi kalo tentang Harris. Aku nggak mungkin biarin Bella menyakiti ibuku, makanya aku diam. Dan hukuman penjara rasanya cukup. Kamu ingat Ricko dan Faras?" tanya Shafira membuat Davina terkesiap ketika nama sahabatnya disebut.
"Bella orangnya sangat licik, makanya mereka berdua jadi target kelicikannya. Ricko dipaksa untuk memperkosa sahabat kamu itu."
Davina menutup mulutnya tak percaya, perihal kehamilan Faras yang ia tahu jika mereka berdua melakukan karena saling mencintai. Ternyata?
__ADS_1
"Maafin aku Davina, baru bisa ngasih tahu kamu sekarang. Aku harap kamu bisa jaga diri baik-baik, mengingat Bella orangnya nekat. Dan, aku tegaskan sekali lagi bahwa aku tidak mempunyai rasa apapun terhadap suami kamu." setelah mengatakan hal tersebut, Shafira merasa hatinya sangat lega. Beban yang selama ini ia pikul akhirnya bisa lepas juga.
***