
Suasana kampus yang ramai membuat Davina sedikit merasa bingung dengan apa yang terjadi sekarang, pasalnya ia baru berangkat siang dan semua mahasiswa sedang heboh entah karena apa. Davina yang tidak tahu menahu memilih untuk diam dan duduk ditempat biasanya.
Tak lama kemudian Faras sahabatnya datang menghampiri Davina dengan heboh. Davina menatap Faras bingung, dia jadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi sehingga sahabatnya terlihat sangat heboh.
"Kayaknya kamu bakal punya saingan baru deh, Dav." ucapnya yang baru datang lalu duduk di samping Davina.
Davina mengernyit bingung dengan apa yang di ucapkan sahabatnya itu. Saingan apa maksudnya? Apa soal kepopulerannya di kampus?
"Maksud lo apa Ras,?" tanya Davina penasaran.
"Lo tau Shafira kan? Kayaknya dia bakal jadi wanita populer baru dan menggantikan mu." jelasnya.
Kebetulan saat itu Rani datang dan menghampiri mereka berdua.
"Shafira,,, kayaknya gue pernah denger deh. Owh iya wanita yang pernah kita omongin waktu itu kan?" ucapnya tiba-tiba seraya menunjuk ke arah dua temannya.
Sedangkan Davina nampak berfikir sejenak, ia mengingat-ingat soal Shafira yang pernah mereka bicarakan. Yang ia ingat ialah, Shafira wanita yang muslimah.
"Shafira itu yang kalo pake baju nutupin seluruh tubuhnya? Yang pake hijab kan?" tanya Faras.
"Hahaha, kalian yakin kalo dia bakal populer ngalahin gue? Mana bisa, tampilannya aja kayak ibu-ibu." balas Davina tertawa.
"Dan dia jadi idaman para laki-laki disini. Katanya sih cantik wajah juga akhlaknya." balas Faras.
Rani baru sadar jika Shafira yang sedang dibicarakan mereka ialah Shafira yang berhijab dan selalu memakai pakaian syar'i.
"Shafira fakultas sebelah ya?" ucap Rani.
"Ya iyalah. Bukannya lo yang bilang ya kemaren?" balas Faras.
"Hehe, baru ngeh gue." ucapnya cengengesan.
"Btw, kalian tau nggak, bahkan cowok-cowok biasa dan setingkat ustadz sangat menyukainya." sambungnya.
Davina bangun dari duduknya, ia sangat penasaran dengan seorang Shafira. Seberapa cantiknya sih dia? Kok bisa-bisanya banyak laki-laki yang mengidam-idamkan dia.
"Lo mau kemana Dav." tanya Faras kepadanya.
"Gue ketoilet sebantar." jawabnya berbohong.
"Mau dianter?" tanyanya.
__ADS_1
"Nggak usah." ucapnya lalu bergegas meninggalkan mereka berdua.
Davina yang penasaran lalu bertekad mencari tau menuju kelasnya. Ia melihat seorang wanita yang sedang membaca buku, yang diyakini Davina kalo ia adalah Shafira. Ia memilih memperhatikan Shafira melalui jendela.
Davina terus mengintip dan tidak sadar jika di belakangnya ada seorang laki-laki yang memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi. Orang tersebut bingung mengapa Davina mengintip. Sedang mencari siapa?batinnya.
Orang tersebut berdehem guna menyadarkan Davina jika di belakangnya ada orang.
"Ehem,"
Mendengar deheman Davina langsung menoleh ke belakang, Ia merasa was-was jika ketahuan sedang memperhatikan Shafira. Setelah ia tau siapa yang berdehem, ia mendengus kesal.
"Ngapain lo disini?" tanya Davina.
"Ini kelas saya, jadi wajar saya disini. Lalu apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya.
"Gue mau ketemu sama Shafira."
Hanya kalimat itu lah yang terlintas di kepalanya. Ia bingung harus menjawab apa.
Dan tiba-tiba ia kaget,orang tersebut menarik ujung lengan bajunya.
"Kalo mau ketemu dia, nggak usah ngajak gue juga kali." balas Davina kesal.
"Biar tidak terjadi fitnah. Kamu juga mau ketemu dia kan? Jadi sekalian saja." ucapnya.
Davina tidak bisa mengelak lagi, ia hanya bisa mengikuti keinginan orang itu.
"Assalamualaikum," ucap Harris.
"Waalaikumsalam, Harris." jawabnya, lalu memperhatikan orang di belakangnya.
" Kamu Davina kan?" tanyanya meyakinkan. Ia bingung kenapa wanita populer tersebut menemui dirinya.
Harris yang menyadari tatapan bingung Shafira lalu ia menjelaskan.
"Saya mengajak Davina kesini supaya tidak timbul fitnah." Ucap Harris, Shafira yang mengerti pun hanya mengangguk.
" Iiihh, malah pacaran lagi. Bilang aja mau jadiin gue nyamuk," **b**atinnya kesal.
"Saya mau bicara sebentar Shafira, apakah bisa?" tanya Harris ke Shafira.
__ADS_1
"Bisa kok Harris." balas Shafira.
Davina yang menyadari tatapan yang tak biasa dari Shafira ke Harris, lalu ia menyimpulkan jika Shafira menyukai Harris.
Davina yang merasa keberadaannya tak dianggap, ia langsung bergegas keluar sambil menghentakkan langkah kakinya.
Harris yang melihatnya bergegas menyusul Davina.
"Sudah dulu ya, kalo begitu saya pergi dulu." ucapnya lalu bergegas mengejar Davina.
Harris mengejar Davina, dan menghadangnya menggunakan tangan.
"Nggak usah ngalangin jalan gue!!" kata Davina.
"Kenapa tadi langsung pergi?" tanyanya.
"Males gue liatin orang pacaran. Sekarang minggir!" ucap Davina kesal.
"Saya minta maaf." balas Harris.
"Terserah." jawabnya acuh.
"Maafin dulu, baru boleh pergi." balasnya lagi.
"Iya gue maafin, minggir lo!"
Harris tersenyum mendengarnya lalu ia memberikan jalan supaya tidak menghalangi jalan Davina.
"Yang ikhlas dong maafin nya my future wife," kata Harris.
Davina yang mendengarnya hanya tersenyum sekilas sebelum pergi meninggalkan Harris yang masih berdiri di belakangnya.
•
•
•
Dukung novel ini dengan cara: vote,like,komen,⭐5.
Terimakasih🙏
__ADS_1