
Kemarin setelah berhasil menculik Davina, Ricko langsung membawanya ke markas mereka.
"Ricko sebaiknya wanita ini kita pindahkan saja dari sini." ucapnya memberi ide.
"Tapi Bell, memangnya kenapa?" balas Ricko kebingungan.
"Harris pasti akan datang kesini, karena itu aku tidak mau kehilangan Davina sebelum aku membalaskan dendam ku padanya!" senyum licik terukir di bibirnya.
"Baiklah, kita pindahkan kemana?"
"Kamu bawa saja dia ke gedung tua yang berada di sekitar sini. Sekap dia jangan sampai dia kabur. Kerahkan semua anak buahmu untuk menjaganya. Owh, ya Ricko. Aku akan pergi untuk menjenguk adikku, dan akan kembali besok." ucap Bella.
Bella menghampiri Davina yang belum sadarkan diri. Ia berjongkok tepat di depan Davina dan mencengkeram dagu miliknya sehingga membuatnya mendongak ke atas.
"Tunggu aku sampai besok, Davina. Maka kita akan bersenang senang." ucapnya tersenyum devil. Kemudian pergi meninggalkan markas tersebut.
***
Harris, Bimo, Farhan, dan juga Rani masih mencari keberadaan Davina. Bimo yang sedari tadi masih berkutat dengan laptopnya akhirnya menemukan sebuah informasi mengenai keberadaan Davina.
"Benar apa kataku, Davina dibawa ke markas Ricko." ucap Bimo.
"Kalo begitu ayo kita ke sana sekarang juga." balas Harris.
"Aku ikut," sahut Rani.
"Tempat itu berbahaya untukmu Rani," ucap Bimo tidak mengizinkan.
"Tapi aku mau membantu menolong Davina." ucapnya dengan kekeuh.
Yang lain hanya mendengus kesal dengan gadis di depan mereka.
Farhan menepuk bahu milik Bimo, "Lebih baik kamu antarkan dia pulang. Biar aku dan Harris saja yang pergi ke tempat itu." ucap Farhan final.
"Aku tidak mau pulang! Aku mau mencari Davina." tolaknya tegas.
"Gara-gara aku, Davina jadi menghilang." Rani terlihat menundukkan kepalanya.
"Dan aku akan bertanggungjawab mencarinya." ucapnya langsung mengangkat wajah menatap ketiga laki-laki di depannya.
"Dasar keras kepala! Ayo kita pulang." ucap Bimo dengan lembut, berharap sang gadis mau diajak pulang bersamanya.
"Sudah aku bilang tidak mau." ucap Rani.
__ADS_1
Bimo yang sudah lelah meladeni wanita di depannya dengan terpaksa ia menggendong paksa Rani ala bridal style.
"Turunin aku, Bimo." Rani meronta minta diturunkan, Bimo tak menanggapinya.
Sedangkan Harris dan Farhan hanya bisa menatap perdebatan diantara dua manusia di depannya itu. Harris jadi teringat dengan Davina yang mempunyai watak yang hampir sama dengan Rani yaitu keras kepala!
Ia juga teringat ketika Davina mengajukan sebuah permintaan kepadanya, dan ia justru melakukan hal yang sama dengan membalikkannya seperti mengancam balik.
Harris mengusap wajahnya kasar, yang sedikit berkeringat. Ia jadi teringat dengan istrinya, ia merasa telah merindukannya.
"Semoga, Davina selalu dalam lindungan-Nya." gumam Harris dalam Hati.
"Harris ayo berangkat," ajak Farhan menyadarkan lamunannya.
Harris baru sadar jika Bimo dan juga Rani sudah tidak ada di sana. Kemudian, ia dan Farhan menaiki mobilnya menuju ke tempat yang diucapkan Bimo.
Sesampainya di tempat tersebut, Harris dan Farhan tidak melihat keberadaan siapapun. Yang terlihat hanya sebuah ruangan yang kacau dan tidak terawat.
"Tidak ada apa-apa di sini." ucap Harris.
"Iya, kamu betul. Pasti mereka sudah tau jika kita akan kesini, makanya mereka memindahkan Davina dari sini." jawab Farhan menganalisa keadaan setempat.
"Tunggu sebentar," ucap Harris ketika melihat sesuatu. Ia pun mendekati sudut ruangan yang ada di sana.
"Aku akan menghubungi Bimo untuk melacak keberadaannya lagi." ucap Farhan kemudian menghubungi nomor milik Bimo.
Harris termenung memikirkan bagaimana keadaan istrinya itu. Apa istrinya diperlakukan baik oleh Ricko? Apa mereka menyakiti Davina?
Harris sungguh cemas dengan keadaan Davina, ia menyesal dengan dirinya sendiri yang datang terlambat untuk menolong Davina. Dia tidak bisa tinggal diam sekarang, ia pun mencoba menghubungi nomor milik Ricko. Sialnya, nomor tersebut tidak bisa dihubungi.
"Sial, kau Ricko! Awas saja kau!!" teriak Harris.
Farhan menepuk bahu Harris untuk menguatkannya, " istighfar, Harris. Kendalikan emosimu, jangan sampai sifat burukmu yang dulu muncul lagi." ucapnya mengingatkan.
"Astaghfirullahaladzim." Harris beristighfar.
Harris merasa sangat frustasi karena mencari keberadaan Davina yang sampai saat ini belum juga ditemukan.
Apa sebaiknya dia memberitahu keluarga Davina dan keluarganya jika Davina diculik? Tapi sepertinya keluarga Davina sudah tau tragedi penculikan ini.
"Harris, ini sudah petang. Lebih baik kita pulang dulu dan melanjutkan pencarian besok." ucap Farhan yang diangguki oleh Harris.
Harris mengantarkan Farhan sampai ke rumahnya, kemudian ia pulang menuju rumah orangtuanya. Saat ini Harris hanya butuh sebuah dukungan dari orang-orang terkasihnya.
__ADS_1
***
Kini Harris sedang berada di rumah orangtuanya.
"Kamu kenapa Harris, tumben banget kesini?" tanya Umi heran.
"Davina diculik sama Ricko, Umi, Abi." ucap Harris.
Sontak Khumaira dan Imron terkejut dibuatnya. Bagaimana bisa menantunya itu diculik, apa Harris tidak menjaganya? Pikir mereka.
"Apa? Ricko teman premanmu dulu?" ucap Uminya.
"Iya, Umi." balas Harris.
"Bagaimana bisa, Harris. Apa kamu tidak menjaganya, kamu itu sebagai suami harusnya selalu melindungi istrinya di manapun dia berada. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya? Abi tidak akan memaafkan kamu." ucap Abi Imran marah. Bagaimana tidak, menantu kesayangannya sekarang sedang berada dalam bahaya.
Harris menundukkan kepala, ia tau dirinya bersalah. Tidak bisa menjaga istrinya sesuai janjinya dulu.
"Abi,," ucap Khumaira seraya menatap suaminya memberi kode untuk menghentikan ucapannya.
"Harris, kamu yang sabar ya. Mungkin ini salah satu ujian yang diberikan Allah untuk kehidupan rumah tanggamu. Berdoalah kepada-Nya untuk keselamatan istrimu, dan semoga kalian segera menemukannya." ucap Umi menasehatinya seraya menepuk bahu miliknya.
"Iya, Umi." balas Harris.
"Apa kamu mempunyai masalah sebelumnya dengannya, Harris?" tanya Abi Imran.
"Tidak, Abi. Semenjak Harris berhijrah kami tidak mempunyai masalah apapun." balas Harris.
"Sebaiknya kamu melaporkan Ricko pada polisi, Harris. Hal ini sudah dalam kategori kriminal dengan menculik istrimu. Abi tau, Ricko temanmu tapi, jika sudah melewati batas seperti ini tidak ada toleransi untuknya." ucap Abi Imran kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Harris tertegun dengan ucapan Abinya. Memang sampai saat ini ia belum melaporkan kasus ini ke polisi. Bukannya tanpa alasan. Harris hanya sedang menanti temannya itu untuk bertaubat, seperti halnya Bimo dulu.
Dimana Bimo memilih untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi dan meninggalkan hal yang buruk. Harris juga berharap Ricko nantinya akan seperti Bimo.
"Sudahlah Harris, ini sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat dulu, pasti kamu lelah karena mencari Davina seharian. Umi tinggal ya." ucapnya yang diangguki Harris.
Harris berjalan menuju kamarnya, ia mendudukkan diri di atas ranjang. Tak lama kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang berkeringat.
Setelah selesai, Harris keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaiannya. Ia duduk di atas ranjang kemudian meraih ponselnya, siapa tau ada sebuah informasi mengenai keberadaan istrinya.
Semalaman Harris tidak tidur, untuk memejamkan matanya saja rasanya susah, tidak ada istrinya membuatnya gelisah.
***
__ADS_1