Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Ketua Para Preman?


__ADS_3

Davina dan Harris sudah sampai di depan pintu. Harris kemudian mengetuk pintu, tak lama kemudian muncullah Umi Khumaira.


"Assalamualaikum," icap Harris dan Davina bersamaan.


"Waalaikumussalam," balas Umi sambil tersenyum melihat menantu dan anaknya saling bergandengan tangan.


Davina yang paham dengan senyuman itu ia jadi merasa malu sekarang. Kemudian ia melepas tautan tangan miliknya dari Harris dan langsung menyalami Uminya, dengan senang hati Umi memeluk menantunya itu yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri, diikuti pula oleh Harris.


"Ayo masuk," ucap Umi mempersilahkan.


Di ruang tamu sudah ada ayah mertua yang biasa dipanggil Abi Imron, ia sedang sibuk membaca koran. Hingga tak sadar kini anak dan menantunya sudah di depannya.


"Khemm," suara deheman Harris membuat Abinya tersadar jika di depannya kini ada dua orang yang sedang menatapnya.


"Kalian, kenapa tidak memberi salam dulu." ucapnya seraya melipat koran yang telah dibacanya tadi.


"Kami sudah salam tadi, Abi saja yang terlalu fokus sama koran." balas Harris, Imron hanya tersenyum membalas ucapan putranya. Lalu Harris melepas rindu dengan sang Abi.


Sedangkan Davina ikut menyalami Ayah mertuanya itu. Karena mereka sudah menjadi mahram satu sama lain setelah mereka menikah.


Maka mahram dengan besanan terkait dengan istrinya ayah adalah anak dari selainnya. Kalau istri anak adalah ayahnya. Kalau ibunya istri adalah suami. Allah telah menyebutkan dalam ayat di surat An-Nur:


ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن أو آباء بعولتهن أو أبنائهن أو أبناء بعولتهن ..


““Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka.” (QS. An-Nur: 31)


Ayah dari suami dan anak dari suaminya termasuk mahram wanita karena pernikahan. Karena Allah telah sebutkan bersama ayah dan anaknya, dan mereka semua disamakan hak dalam menampakkan perhiasan baginya.” (Al-Mughni, 6/555).


"Davina, ayo bantu Umi di dapur." ucap Umi Khumaira.


Davina tersenyum canggung lalu menganggukkan kepalanya dan mengikuti Umi menuju dapur.


Sedangkan Harris dan Abinya sedang mengobrol bersama di ruang tamu.


"Apa kamu bisa memasak, Davina?" tanya Umi Khumaira kepadanya.


Davina berpikir sejenak.

__ADS_1


"Hmm, hanya mie instan sama telur saja, Umi." balas Davina sambil menunduk.


Davina merasa takut, jika nantinya Umi akan memarahinya karena tidak bisa memasak makanan yang sehat.


"Apa tidak bisa makanan yang lebih sehat?" ucapnya lagi. Davina hanya menggeleng.


Umi hanya menghembuskan nafasnya, "Hmm, tidak papa Davina. Dulu saja waktu Umi menikah dengan Abinya Harris sama sekali tidak bisa memasak. Tapi setelah menikah, Umi selalu berusaha untuk belajar memasak. Karena itu sudah menjadi kewajiban seorang istri kepada suaminya. Dan alhamdulillah, akhirnya Umi bisa memasak." ucap Umi Khumaira.


Davina hanya mengangguk mengerti.


"Apa Umi mau mengajari Davina memasak?" ucap Davina ragu-ragu.


"Bisa dong, kalo begitu mari kita buat makanan kesukaan Harris." balasnya.


Khumaira benar- benar telaten dalam mengajari menantunya memasak. Di mulai dari mengupas bawang, mengulek bumbu, memotong sayur, dan mencapurkan bumbu agar terasa sedap dinikmati.


Setelah masakan sudah matang, Davina menghidangkannya di meja makan. Sedangkan Uminya membereskan dapur.


"Wih, kayaknya enak nih." ucap Harris ketika melihat makanan yang telah dihidangkan.


"Itu masakan istri kamu loh." balas Khumaira.


" Nggak kok, aku cuma bantu Umi." ucap Davina seadanya. Memang dia yang membantu Uminya memasak.


"Sebaiknya kita sholat isya dulu." ucap Abi Imron.


" Di rumah atau masjid, Abi?" tanya Khumaira.


Harris melirik kearah Abinya karena ia yang akan memutuskan.


" Kita pergi ke-masjid saja." ucap Imron.


Harris dan Abinya melaksanakan sholat di masjid, sedangkan yang perempuan cukup di rumah.


"Kamu mau sholatkan? Biar Umi ambilkan mukena dulu." Davina mengangguk mengerti.


"Ini, kiblatnya kearah sana." ucapnya sambil menyerahkan mukena.

__ADS_1


" Umi tidak sholat?" tanya Davina.


" Umi sedang berhalangan, Davina. Kamu sholat lah di lantai atas di kamar yang tertulis nama Harris." ucap Umi yang diangguki oleh Davina.


Davina berjalan menuju kamar milik suaminya. Ia sedikit takut Karena kamarnya begitu gelap. Ia mencari saklar dan menghidupkannya. Kemudian ia berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Davina tersenyum ketika mengingat bahwa dirinya kini jadi lebih rajin melaksanakan ibadah setelah menikah dengan Harris.


Yang dulunya sering telat melaksanakan sholat, kini ia selalu berusaha untuk melaksanakan sholat diawal waktu. Itu semua karena kehadiran Harris, suaminya. Harris memang sudah sedikit berhasil mengubah kebiasaan buruk Davina.


Setelah selesai sholat Davina segera melipat mukenanya sambil mengedarkan pandangan ke semua penjuru kamar Harris. Pandangannya jatuh pada sebuah bingkai foto yang berjajar rapi di dinding.


Davina yang merasa penasaran kemudian mendekat kearah bingkai foto tersebut.


"Itu bukannya Harris," ucap Davina kemudian mengambil bingkai foto tersebut.


Davina melihat dengan seksama orang-orang yang berada dalam bingkai tersebut.


Foto tersebut ialah foto masa lalu Harris.


"Ini, bukannya ini wanita yang bersama dengan Harris saat di cafe?" ucapnya sambil menunjuk orang yang berada di samping Harris.


"Ini, juga preman yang waktu itu. Kalo nggak salah Ricko namanya." ucapnya pada diri sendiri.


"Ada hubungan apa mereka?" gumamnya pada diri sendiri.


"Atau jangan-jangan Harris kelompok preman?" ucap Davina menebak.


Davina tidak menyangka jika benar Harris adalah seorang preman, tepatnya ketua para preman? Entahlah. Menurut Davina Harris nampak gagah dalam foto tersebut walaupun dia terlihat seperti berandalan.


"Tapi bagaimana Harris bisa berubah menjadi seorang ustadz?" begitulah isi kepala Davina sekarang, dipenuhi tanda tanya tentang masa lalu suaminya.


Ternyata banyak yang tidak diketahui oleh Davina tentang Harris. Entah mengapa kini Davina jadi merasa bangga mempunyai seorang Harris karena pesona yang dimilikinya.


Davina menepuk jidatnya sendiri, "Aku tidak boleh terpesona dengan Harris." ucapnya.


Tapi ia sangat penasaran kenapa Harris bisa menjadi seorang ustadz?

__ADS_1


Tak mau berlama-lama di kamar tersebut, kemudian Davina memilih turun untuk menemui Uminya dan mungkin akan bertanya tentang Harris.


***


__ADS_2