
"Davina." panggil seseorang.
Davina yang hendak pulang pun terpaksa menghentikan langkahnya, menoleh mencari asal suara itu.
"Rani?" gumamnya.
Gadis tersebut berjalan menghampiri Davina. Dia yang belum sempat mengucapkan kata selamat saat di kelas, mau tak mau harus mengejar sahabatnya itu.
"Baru juga selesai kelas, cepet banget mau pulang." ujarnya.
"Lagian udah nggak ada kelas lagi, Ran." balas Davina.
"Iya, tau. Yang mau cuti, kok nggak pamit sama aku."
Davina memutar bola matanya malas, "Dari tadi kamu ke mana? Aku nggak lihat kamu di kelas." ucapnya.
"Hm, Pak Dika tadi memanggilku keruangannya. Owh, ya kamu mau hadiah apa?" ucap gadis itu dengan penuh semangat.
Davina mengernyit, tapi kemudian ia mengingat sesuatu. "Aku cuma mau tau, dua hari ini kamu ke mana, aja? Bolos kuliah, ponsel nggak bisa dihubungi?"
Rani diam, wajahnya berubah menjadi sedih. Ia kembali mengingat kejadian di mana ia bolos kuliah waktu itu.
"Hm, sebenarnya—"
Davina takut-takut mendengar jawaban dari sahabatnya. Semoga saja dugaannya salah.
"Sebenarnya apa, ayo cepat katakan."
"A—aku, baru putus dengan Bimo." ucapnya, "Sebenarnya aku mau cerita ini ke kamu kemarin, tapi aku belum siap. Dan sekarang aku baru bisa cerita, entah aku harus senang atau sedih sekarang, Dav. Di satu sisi aku udah nggak akan sakit hati lagi ngeliat Bimo jalan sama perempuan lain, tapi aku masih cinta sama dia." sambungnya, ia menunduk sedih.
Mendengar perkataan Rani, tangannya mengepal. Dugaannya ternyata benar, Rani penyebab Bimo kecelakaan. Pikirannya tertuju pada abangnya yang kini masih kritis di rumah sakit.
"Dav, kamu kenapa?" tanyanya, ketika Davina hanya diam saja sedari tadi.
Sedangkan pikiran Davina dipenuhi dengan kemarahan. Otaknya kini tidak bisa berpikir dengan jernih. Matanya memerah menahan emosi. Ia menatap wajah Rani penuh kebencian.
"Dav—"
Plakk
Satu tamparan keras sukses mengenai pipi sebelah kiri milik gadis itu. Ia tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Davina kepadanya.
Rani memegangi pipinya, sungguh tamparan itu sangat sakit. Tapi tidak lebih sakit dari kenyataan yang menamparnya ialah Davina, sahabatnya sendiri.
"Dav, apa-apaan?" Rani kesal, ia tidak terima jika tiba-tiba ditampar tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu bilang? Kamu yang apa-apaan, Ran!"
"Kamu nggak boleh kaya gini, Davina. Kalo ada masalah kamu bisa cerita sama aku." Rani memegang kedua bahu sahabatnya itu guna menenangkannya.
Jujur saat ini ia lebih panik melihat kondisi Davina yang terlihat sangat marah. Ia takut jika terjadi sesuatu pada perempuan hamil yang kini berada di depannya.
Dengan kasar Davina mendorong Rani, hingga gadis itu hampir saja terjatuh jika ia tidak pintar menjaga keseimbangan tubuh.
Davina maju sedikit, "Masalahnya ada pada dirimu!" tunjuk Davina tepat di depannya.
"Aku salah apa Davina, sampai kamu bersikap seperti ini?"
"Tanya sama diri kamu sendiri, Rani. Kenapa kamu tiba-tiba putusin bang Bimo. Apa karena bang Bimo yang berselingkuh atau sebaliknya." Davina menatap tajam kearah Rani.
"Cukup, Davina! Aku bahkan tidak pernah berpikiran sedikitpun untuk selingkuh di belakang Bimo." ia membela diri.
"Owh, kalo gitu kasihan banget ya, Endru cuma jadi pelampiasan kamu." Rani sontak menatap Davina, darimana dia tau? Begitu pikirnya.
"Nggak usah kaget, aku sering lihat kalian jalan berdua. Apa namanya jika bukan selingkuh?" Rani menunduk.
Melihat Rani yang terdiam Davina merasa puas, ia bersiap meninggalkan tempat itu.
"Tunggu, Davina." ucap Rani menghentikan langkahnya.
Rani berjalan menghampiri Davina yang berdiri di tempatnya. "Aku tau kamu nggak akan bersikap seperti ini tanpa alasan kan? Davina, kita bersahabat sudah sangat lama, aku mengenal dirimu begitupun sebaliknya. Jadi aku paham, nggak mungkin kamu berani menamparku hanya karena aku putusin Bimo kan? Ayo jawab, Davina!" Rani menggoyangkan kedua bahu milik Davina.
"Bang Bimo kecelakaan dan saat ini kondisinya sangat kritis. Itu semua gara-gara kamu!" tunjuknya sambil meneteskan air mata.
Deg
Rani terkejut, kedua tangannya terhempas begitu saja ke bawah.
"Apa, Bimo kecelakaan?" gumamnya lemas.
"Puas kamu Ran, gara-gara kamu bang Bimo harus berjuang antara hidup dan mati. Aku nyesel udah biarin bang Bimo kenal sama kamu! Aku nyesel, hiks." Davina mengusap air matanya, kemudian pergi meninggalkan Rani yang masih mematung.
Rani memandangi kepergian sahabatnya itu, "Bimo kecelakaan dan sekarang kritis? Nggak, nggak mungkin. Pasti Bimo baik-baik aja. Davina kamu bohongkan?" teriaknya, sayangnya Davina tidak menghiraukan.
Sekarang hubungan persahabatan diantara mereka sudah retak, perasaan benci ulahnya.
***
Davina berjalan menjauhi kampus untuk menenangkan pikirannya yang berantakan tak karuan karena perdebatannya tadi. Davina berjalan dengan tatapan yang kosong. Hatinya terasa tidak tenang.
Terjebak antara perasaan bersalah dan tidak ingin kehilangan.
__ADS_1
Tinn!!
"Aaa—"
Davina menutup kedua matanya dengan rapat, nyawanya hampir saja melayang jika saja seseorang tidak menariknya tepat waktu.
"Bu, hati-hati dong bawa motornya! Masa sen kanan belok kiri!"
"Salah siapa mbaknya jalan di tengah!" balas Ibu tadi tidak mau disalahkan kemudian pergi begitu saja.
"Davina, kamu gapapa kan? Sekarang kamu aman, jangan khawatir."
Davina membuka matanya, menatap wajah seseorang yang begitu dekat jaraknya sekaligus seorang perempuan yang sempat ia benci karena kedekatannya dengan Harris.
"Shafira?"
Ya dia adalah Shafira, perempuan yang berhasil menyelamatkan nyawa Davina hari ini.
Shafira tersenyum, menahan kedua bahu milik Davina yang tidak seimbang karena keterkejutannya. "Kita minggir dulu ya, ngga baik di jalanan gini." mereka pun menepi.
"Kok bisa sih kamu di jalanan gini sendirian? Awas aja kalo aku sampai ketemu sama Harris, pasti bakal aku marahi dia!" ujar Shafira kesal kemudian memberikan sebotol air mineral kepada Davina.
Dengan senang hati Davina menerima pemberian perempuan itu.
"Ini bukan salah Harris kok, akunya aja yang ngga sadar kalo jalan terlalu jauh dari kampus. Padahal tadinya aku mau langsung pulang." ucapnya setelah meminum air mineral tersebut.
"Tetap aja, harusnya Harris selalu berada di dekat kamu, Davina. Apalagi perut kamu sudah sangat besar, bisa saja kan kamu tiba-tiba lahiran."
Davina tersenyum melihat kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Shafira kepadanya. Tidak menyangka orang yang selama ini ia benci ternyata sangat baik kepadanya.
"Shafira," panggilnya.
"Iya Dav." ia menoleh.
Davina menunduk, tiba-tiba dirinya merasa malu mau mengatakannya. "Gue mau minta maaf, selama ini gue selalu bersikap buruk sama lo. Gue selalu fitnah dan ngehina lo. Tapi lo selalu bersikap baik sama gue, dan hari ini gue berhutang budi sama lo, Shafira. Kalo nggak ada lo pasti gue udah cel—"
"Shutt, udah jangan diterusin aku ikhlas kok nolong kamu. Masa lalu biarlah berlalu, aku juga udah maafin kamu. Sama seperti halnya Harris, kamu juga sahabat aku. Jadi kalo butuh bantuan aku selalu siap kok." ujarnya mampu membuat mata Davina berkaca-kaca.
"Hm,,, gue boleh peluk lo nggak?" ucap Davina lirih takut Shafira menolak.
Shafira nampak diam sejenak, tapi kemudian ia tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. "Boleh kok."
Davina pun langsung menghambur kedalam pelukannya. "Maafin gue ya."
"Iya Davina, udah aku maafin." balasnya.
__ADS_1
***
Yang merasa pernah melukai hati, maafkan.