
Sesampainya di kamar milik Harris, Davina langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Davina hendak memejamkan matanya tetapi terdengar suara pintu terbuka, ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
Terlihat Harris menutup pintu dan langsung menguncinya. Harris berjalan perlahan mendekat kearah Davina.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" ucap Davina ketika Harris terus mendekatinya.
"Aku hanya ingin bertanya kepada istriku ini," ucapnya dengan sedikit menyeringai.
"Bertanya apa?" balas Davina pura-pura tidak tahu.
"Apa kamu sudah lupa atau jangan-jangan kamu pikun lagi." ucap Harris seraya tertawa.
"Ngomong yang jelas Harris, kalo nggak aku mau tidur." ucap Davina kesal, kemudian ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Harris menarik nafasnya, "Dari mana kamu tau soal masa laluku." ucap Harris datar, Davina yang mendengar itu langsung membuka selimut yang menutupi kepalanya.
"Kamu terlalu ceroboh Harris." ucap Davina yang membuatnya mengernyitkan dahi.
"Apa maksudmu, Davina." ucap Harris.
"Ck, lupakan saja." balas Davina kesal. Ia kembali menutup kembali wajahnya dengan selimut.
"Jangan harap aku akan membiarkanmu tidur, sebelum kamu menjawab pertanyaanku." ucap Harris menarik selimut yang dipakai Davina.
"Iiih, apaan sih Harris. Aku mau tidurrr." ucap Davina menarik kembali selimutnya, namun karena tenaga Harris yang lebih kuat ia kalah.
"Cepat katakan Davina!" suara Harris terdengar meninggi.
"Haha...Apa kamu takut kalo semua masa lalumu terbongkar? Sayangnya aku sudah tau semuanya Harris." ucap Davina.
__ADS_1
Harris menatap tajam kearah Davina, entah mengapa ia merasa terpancing emosinya sekarang karena ulah Davina.
"Dan kamu bukanlah orang yang pintar menyembunyikan kebohongan rupanya." ucap Davina tersenyum sinis. Ia akan menggunakan masa lalu Harris untuk melawannya.
Harris terus mendengarkan apa yang Davina katakan, ia ingin sejauh mana Davina mengetahui tentang masa lalunya.
"Cepatlah katakan!" ucap Harris.
Davina lalu melirik kearah dinding di mana terdapat beberapa foto masa lalunya Harris, tempat yang telah memberitahukan Davina betapa tertutupnya Harris kepadanya.
Harris mengikuti arah pandang Davina. Ia terkejut setelah melihatnya.
Deg,
"Hah, foto itu kenapa masih ada di sini?" batin Harris.
" Kamu kaget, Harris." ucap Davina melihat ekspresi terkejutnya.
"Aku tak menyangka seorang ustadz muda yang banyak dikagumi oleh kaum hawa, dulunya seorang penjudi, peminum, dan sering keluar masuk penjara? Dan dia sekarang suamiku?" sambungnya.
Harris menatap tajam kearah Davina, entah kenapa hatinya merasakan sakit saat Davina mengatakan hal tersebut.
"Tenang saja, aku bisa kok menjaga rahasiamu itu." ucapnya lagi.
Harris mengalihkan pandangannya.
"Apa kamu malu, Davina?" tanya Harris mendekatinya.
Davina yang ketakutan langsung memundurkan badannya hingga mentok di kepala ranjang. Ia takut ketika melihat ekspresi wajah Harris.
__ADS_1
"Ak,,,aku.."
"Kenapa kamu gugup? Apa kamu takut dengan preman ini?" ucap Harris menunjuk dirinya sendiri.
Harris mengakui jika memang dulunya ia seorang preman, bahkan ia menjadi pemimpin / ketua sekelompok preman.
"Sudahlah jangan takut, aku ini suamimu. Jadi aku tidak akan melukaimu." ucap Harris sambil membelai pipi Davina. Kemudian ia merebahkan dirinya di sebelah Davina.
"Hah? Apa dia tidak marah aku mengatakan semua itu? Padahal aku berniat membuatnya marah." Davina tersadar dari lamunannya dan menatap kearah sampingnya.
"Ngapain kamu tidur di sini?" ucap Davina mendorong tubuh Harris. Alhasil, ia terjatuh.
"Akhh, kamu ini apa-apaan Davina." balas Harris seraya bangkit dari lantai.
"Kenapa kamu tidur di ranjang!" omel Davina.
"Di sini tidak ada sofa, jadi kita harus tidur satu ranjang. Dan jangan memintaku tidur di luar karena ini rumah Umi bukan di apartemenku. Bukannya kemarin kita juga tidur satu ranjang, hah?" goda Harris.
"Tapi awas ya, jangan berani macam-macam. Awas aja kalo sampai melewati batas guling ini." ucap Davina sambil menunjuk guling yang sudah di pasangnya sebagai batasan.
"Hmm, kalo tidak khilaf." balas Harris kemudian merebahkan dirinya di samping Davina yang membelakanginya.
Sebenarnya Davina belum tidur, ia hanya malas saja menjawab ucapan Harris.
Tak lama kemudian terdengar deru nafas yang beraturan dari Harris yang menandakan jika ia telah tidur.
Davina yang sudah mengantuk ikut memejamkan matanya menyusul Harris yang sudah terlelap.
***
__ADS_1