
"Halo?" tidak ada jawaban, hanya terdengar suara ricuh di sana.
"Halo, dengan siapa?" ulang Davina dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Setelahnya, Davina nampak menegang. Wajahnya berubah pucat.
"Apa, kecelakaan?" Davina nampak diam beberapa saat.
"Oke, terima kasih Pak. Saya akan segera ke sana." ucapnya kemudian mematikan telepon.
"Siapa yang kecelakaan, kak?" tanya Diandra ikut panik melihat Davina pucat.
"Bang Bimo, ayo kita ke rumah sakit sekarang." setelah mengatakan hal itu, Davina dan Diandra segera menuju rumah sakit yang telah diberitahukan oleh si penelepon tadi.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Davina selalu diam dengan wajahnya yang murung. Sedangkan Diandra, gadis itu terus saja menangis. Ia takut jika Bimo mengalami luka yang parah, ia tidak mau kehilangan sosok abang seperti Bimo.
"Sudah jangan menangis, Di. Kita berdoa saja semoga bang Bimo baik-baik aja." ucap Davina saat melihat Diandra. Tidak dapat dibohongi, Davina juga merasakan hal yang sama, ia juga takut kehilangan Bimo.
Kini mereka berdua sudah sampai di rumah sakit, Davina langsung mencari informasi ruangan tempat Bimo dirawat ke meja resepsionis. Ternyata Bimo berada di IGD, segera Davina dan Diandra menuju ke sana.
Setelah menemukan ruangannya, Davina mengernyit ketika melihat sosok yang ia kenal sedang duduk di depan ruangan tempat Bimo dirawat, dengan ditemani dua orang laki-laki yang Davina yakini salah satu dari mereka adalah orang yang telah menghubunginya.
"Endru?"
Orang yang merasa namanya disebut pun mendongak, menatap perempuan yang memanggilnya.
"Davina?" kemudian ia berdiri.
Kenapa dia ada di sini? Sekiranya tanda tanya itulah yang ada dalam benak mereka berdua.
"Gimana keadaan bang Bimo?" tanya Davina, membuat Endru paham dengan hubungan antara dia dan Bimo.
Namun, Endru hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak tau harus mengatakan apa, karena hanya dokter yang bisa menjelaskannya. Hingga salah satu laki-laki diantara mereka membuka suara.
__ADS_1
"Mohon maaf, mba. Perkenalkan saya Eko, orang yang menghubungi lewat telepon tadi."
"Gimana kronologi kecelakaan kakak saya?" hanya kalimat tersebut yang terlintas dalam benaknya.
"Begini, saya adalah seorang pedagang yang kebetulan berjualan di sekitar lokasi korban, mba. Nah, saya lihat sebelum kecelakaan terjadi, korban sempat berbincang dengan seorang perempuan yang saya tidak tahu. Hingga kemudian si perempuan meninggalkan korban yang tampak sangat marah."
Mendengar cerita bapak itu membuat Davina menebak siapa perempuan yang bersama dengan Bimo kala itu. Pikirannya berpusat pada Rani, ya gadis itu hari ini tidak berangkat ke kampus. Bisa jadi perempuan yang dimaksud oleh Pak Eko adalah Rani. Tapi entahlah, ia hanya berusaha menebak.
"Lalu—" belum sempat melanjutkan ucapannya, seorang dokter keluar dari ruangan.
"Pak dokter, bagaimana keadaan Abang saya?" tanya Davina harap-harap cemas.
Sang dokter pun mulai menjelaskan keadaan Bimo. Davina dan yang lain ikut mendengarkan. Cukup serius luka yang diderita Bimo membuat Davina terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, yang pastinya hatinya sangat kalut dan takut akan fakta yang terjadi pada abangnya itu.
"Dok, tolong lakukan yang terbaik buat kakak saya." ucap Davina memohon.
"Pasti, bu. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Ibu dan keluarga hanya perlu berdoa untuk kesembuhan pasien. Kalo begitu, saya permisi." ucap sang dokter kemudian pergi.
"Ayo duduk dulu kak."
Diandra yang melihat sang kakak syok pun langsung menenangkannya. "Kakak jangan khawatir, ya. Biarkan dokter menangani bang Bimo. Pasti semuanya akan baik-baik saja."
"Mama, Di."
"Tenang kak, aku udah hubungin mamah. Bentar lagi juga sampai."
"Ini, Dav. Sepertinya kamu perlu minum dulu." ucap Endru memberikan air mineral.
Davina pun menerimanya, setelah berhasil meneguk air tersebut membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
***
Kini Davina sedang duduk di samping Yuli sambil bersandar di pundaknya. Sudah setengah jam ia berada pada posisi yang sama. Yuli dengan tegar menenangkan Davina. Tinggal keluarga Davina yang ada di sana, Endru dan dua pria yang lain sudah pulang.
__ADS_1
Awalnya mendengar kabar kecelakaan Bimo membuatnya sangat terkejut. Ia tidak menyangka musibah tersebut akan terjadi pada anak laki-lakinya. Ya, Bimo sudah seperti anak baginya.
Baru tadi pagi ia berbincang dengannya, Bimo bercerita perihal rencana pernikahannya dengan Rani karena Bimo sudah sangat serius dengan hatinya.
"Ma, bang Bimo akan sembuh kan?" ucapnya.
"Iya, pasti dong. Bimo akan segera sembuh, karena sudah ada dokter yang menanganinya. Kamu jangan terus-terusan sedih, kasihan cucu mamah." dengan lembut Yuli mengelus puncak kepala sang anak.
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang, Di. Ajak kakakmu, tidak baik wanita hamil berlama-lama di rumah sakit."
Bukan Yuli yang mengatakannya, tetapi Agung. Pria paruh baya tersebut sedang duduk di kursi seberang tempat Davina duduk. Belum ada yang diperbolehkan untuk sekedar menjenguk Bimo di dalam sana.
"Sebaiknya kamu pulang ya, Dav. Benar kata papah, kamu nggak boleh kelelahan, nanti mamah lagi yang dimarahin sama suami kamu." ucap Yuli
"Ih, aku kan masih pengen di sini, mah." tolak Davina.
"Nggak boleh, kamu harus istirahat di rumah. Tenang aja, mamah akan terus kasih kabar tentang abangmu itu." Davina lesu, tidak ada alasan lagi untuk menolak. Sekarang juga ia harus segera pulang.
"Udah ayo, kak. Aku juga udah ngantuk banget." ucap Diandra.
Memang waktu masih menunjukan pukul delapan malam, tapi gadis itu sudah merasa sangat lelah karena berada di rumah sakit sejak sore tadi.
Dengan malas Davina bangkit dari duduknya, tidak bisa dibohongi jika tubuhnya ingin berbaring. Pinggangnya terasa pegal karena duduk terlalu lama. Coba saja Harris ada di sini sekarang, jika Davina mengeluh sakit di area pinggang pasti dengan pekanya Harris akan langsung memijatnya guna meringankan rasa sakit tersebut. Ia jadi teringat kalo hari ini suaminya itu belum menghubungi sama sekali. Tapi Davina memaklumi kalo suaminya pasti sedang sibuk sekarang.
"Yaudah, aku pamit dulu Mah. Assalamualaikum." ucapnya, ia hanya melirik Agung tanpa mau menyapa. Kemudian pergi bersama dengan sang adik.
"Gimana mas, udah puas? Lihat sikap Davina sama kamu, bahkan anak kamu sendiri enggan menyapa kamu, Mas!" ucap Yuli berniat menyindir sang suami.
Agung mengusap wajahnya kasar. Semua yang dikatakan Yuli memang benar. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Kiranya peribahasa itulah yang cocok menggambarkan situasi dirinya sekarang. Hubungannya dengan sang putri sedang tidak baik-baik saja.
"Biarkan aku menyelesaikan permasalahan ini satu persatu, Yul. Aku hanya perlu dukunganmu." balas Agung.
***
__ADS_1