Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Sudah Berakhir


__ADS_3

Matahari semakin meninggi artinya hari sudah siang. Davina merasa sangat amat bosan. Ini baru hari pertamanya cuti, lalu bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Sungguh, tidak bisa dibayangkan bagaimana ia melewatinya tanpa keseruan orang-orang kampus.


Davina memutuskan untuk menghilangkan kebosanannya itu. Hingga sebuah ide muncul, ia teringat dengan abangnya. Ia pun bergegas untuk bersiap menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Bimo. Ia akan pergi sendiri karena Harris sedang ada di kampus, tak lupa ia mengirim pesan kepadanya lebih dulu.


Kali ini Davina akan memesan jasa mobil online karena mobil milik Davina dipakai oleh Harris ke kampus, sedangkan mobil laki-laki itu belum kembali karena dipakai oleh Farhan dan teman-temannya di Surabaya. Ia sudah siap, tak lama kemudian mobil pesanannya telah sampai. Davina pun segera menghampiri.


"Sesuai aplikasi ya, Pak."


"Oke, siap Mba."


Mobil tersebut membawa Davina membelah jalanan kota yang sangat terik. Dapat ia lihat dari kaca mobil beberapa pedagang kaki lima yang sedang berjualan di pinggir jalan. Betapa besar perjuangan mereka untuk menghidupi keluarganya. Anak-anaknya pasti bangga memiliki seorang ayah yang pekerja keras. Davina tersenyum simpul.


Saking menikmati perjalanannya, tak terasa dirinya sudah sampai di rumah sakit. Ia cepat turun, melangkah menuju ruangan tempat Bimo di rawat. Sudah empat hari laki-laki itu berada di sana. Kondisinya memang sudah membaik tetapi, dokter menyarankan untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah sakit supaya dokter dapat mengevaluasi sejauh mana pemulihan tangan dan kakinya yang patah itu.


Mata Davina menyipit ketika pandangannya menemukan sosok seseorang yang sedang berdiri di depan pintu ruangan tempat Bimo dirawat. Seperti sedang menunggu, tapi Davina tidak mengenalnya. Ia mempercepat langkahnya kesana, takut terjadi sesuatu pada abangnya.


"Lo, siapa? Ngapain di sini?" suara milik Davina mampu mengalihkan atensi seseorang yang sedang asik dengan ponselnya itu.


Laki-laki tersebut nampak memandangi perempuan yang berdiri di depannya, tapi kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah lain.


Davina yang kesal karena orang tersebut tidak mau menjawab pun langsung meraih gagang pintu.


"Tunggu, jangan masuk." ucapnya menahan lengan Davina yang tertutup baju, sontak Davina menghempaskan tangan laki-laki itu.


"Lo siapa berani larang-larang gue masuk kamar Bimo, hah?" Davina sedikit emosi.


"Saya Aufa, dan saya mohon sama kamu tolong jangan masuk ke kamar itu dulu ya?" ucapnya memohon.


Davina mengernyit, ada apa sebenarnya di dalam sana. Kenapa orang yang mengaku bernama Aufa tersebut melarangnya masuk ke ruangan abangnya sendiri? Davina jadi curiga.


"Saya tau kamu sahabat Rani, sebagai kakaknya saya mohon sama kamu biarkan mereka menyelesaikan masalah yang telah terjadi diantara mereka berdua."


Mendengar pernyataan laki-laki tersebut membuat Davina melotot, jadi di dalam ada Rani? Sialan. Ia langsung menarik handle pintu, tanpa mendengarkan ucapan Aufa.


Pintu terbuka, sontak penghuni kamar langsung menoleh. Terlihat Rani terkejut dengan kedatangan sahabatnya.

__ADS_1


"Owh, ternyata selain jadi pengkhianat sekarang lo mau jadi penyusup, Ran?" ucap Davina mendekat diikuti oleh Aufa di belakangnya.


"Maksud kamu apa?" balas Rani.


"Gue kan udah larang lo buat ketemu bang Bimo, kenapa lo ngeyel sih!" ucapnya, "gue nggak akan lupa kalo lo penyebab Bimo kecelakaan."


"Gue cuma mau minta maaf ya, dan kamu nggak perlu ikut campur urusan gue sama Bimo, Davina." lama-lama dirinya juga merasa muak dengan tingkah sahabatnya itu.


Bimo hanya memandangi perdebatan antar keduanya. Ia tidak punya cukup tenaga untuk melerai mereka. Ia juga tidak menyangka Rani akan datang menemuinya di sini. Karena Bimo menganggap hubungan mereka telah berakhir sejak sebelum dirinya kecelakaan. Semua sudah selesai, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi pikirnya. Karena kedatangan Rani hanya membuat perasaannya kembali terluka.


"Gue nggak mau tau, sekarang lo pergi dari sini!" ucap Davina mengusir Rani.


"Nggak, urusan gue belum selesai." Rani beralih menatap Bimo, ia menggenggam tangan kiri milik laki-laki itu.


"Bim, sekali lagi aku mau minta maaf sama kamu. Aku turut prihatin atas musibah ini, tapi aku berdoa semoga kamu cepet sembuh ya." ucapnya tanpa mendapat respon darinya.


"Jawab dong, Bim. Dari tadi kamu cuma diam? Kamu nggak menghargai kedatangan aku ke sini, plis Bim jawab aku, hiks." Rani nampak menangis.


Sedangkan Bimo sedari tadi hanya diam memalingkan wajahnya ke sisi kanan dan mendengarkan Rani berbicara. Tak terasa air matanya ikut menetes tapi tidak ada yang menyadarinya. Bohong jika ia tidak mencintai Rani, justru Bimo masih sangat mencintai perempuan itu hingga saat ini. Tapi perjuangannya dirasa sudah selesai ketika dengan tegas Rani menyatakan hubungan mereka telah berakhir.


Davina merasa puas dengan ucapan Bimo, "Lo dengarkan bang Bimo bilang apa? Cepetan lo pergi dari sini!" usir Davina pada sahabatnya.


"Rani, lebih baik sekarang kita pulang. Kehadiran kita disini tidak diterima dengan baik." suara Aufa terdengar memenuhi ruangan, ia tidak terima melihat adiknya diperlukan seperti itu.


Rani belum ingin beranjak, ia kembali meraih tangan Bimo dan memejamkan matanya "Untuk terakhir kalinya, aku minta maaf sama kamu Bimo Ariestian. Terimakasih atas kebaikan kamu selama ini, semoga kamu bahagia dan ingat kata-kataku. Setelah ini aku harap kita bisa berteman dengan baik." ucapnya sangat tulus. Kemudian Rani melepaskan tangannya.


Hiks, hiks Rani masih menangis. Berat mengatakan hal tersebut. Berat rasanya mau meninggalkan Bimo sendirian disaat kondisinya seperti itu. Dalam hatinya, Rani sangat ingin merawatnya tapi ia sudah bukan siapa-siapa lagi. Hubungan mereka sudah berakhir.


"Nunggu apalagi?" tanpa basa-basi Davina sedikit menarik lengan perempuan itu untuk keluar.


"Dav—" Rani hampir saja tersungkur jika saja Aufa tidak sigap menangkapnya.


Aufa yang melihat kejadian itu mengepalkan tangannya, "Tidak pantas seorang perempuan berlaku kasar pada perempuan yang lainnya. Kami datang dengan baik-baik dan akan pulang dengan cara yang baik pula. Tidak perlu kamu usir kami sampai seperti ini. Rani juga sahabatmu bukan?" ucapnya dengan tajam pada Davina. Sedangkan wanita itu hanya diam.


Hiks, hiks. Rani tampak masih menangis dalam pelukan sang kakak.

__ADS_1


"Apa hanya karena masalah ini hubungan persahabatan kalian hancur begitu saja? Kalo begitu persahabatan kalian tidak lebih dari sampah!!!"


"Ayo Ran, kita pergi dari tempat ini." ajaknya pada sang adik.


Davina diam mematung melihat kepergian mereka. Ia meraih sisi ranjang ketika dirasa tubuhnya sedikit oleng. Ia memejamkan matanya, mengingat kembali apa yang telah ia lakukan barusan. "Gue jahat banget ya?" batinnya.


"Bang, lo kenapa?" tanyanya ketika melihat Bimo mulai bergetar menahan tangisannya.


Davina langsung memeluk Bimo dengan erat. Ia dapat merasakan apa yang Bimo rasakan sekarang.


"Rani pergi, Dav. Sekarang aku harus gimana? Aku sendirian." ucapnya disela tangisannya.


"Jangan nangis bang, lo nggak sendirian. Masih ada aku sama keluarga kita kan."


"Ini sakit banget, gue nggak bisa!" Bimo memukuli dadanya yang sesak. Rasanya kini dirinya sudah hancur, bukan hanya fisiknya tapi juga perasaannya.


Lagi lagi Bimo berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Ditinggalkan oleh orang yang dia cintai. Sungguh butuh waktu yang lama untuk sembuh dan kembali bangkit.


***


"Lo bodoh banget sih ninggalin bang Bimo sendirian!" terlihat Davina sedang memarahi sahabat abangnya itu.


"Gue minta maaf, Dav. Tadi gue pergi ke kantin sebentar." balas Askya merasa bersalah. Akibat kecerobohannya Bimo jadi harus menggunakan bantuan oksigen karena sesak di dadanya.


"Gue nggak peduli, pokoknya kalo lo mau keluar harus ada yang gantiin jaga di sini."


"Udah jangan marahin Kya, Davina. Ini bukan salahnya dia, aku yang nyuruh Kya buat pergi." sahut Bimo. Kini dirinya sudah lebih tenang.


"Tetep aja dia salah."


"Iya gue minta maaf." balasnya.


Askya sebenarnya tau mengenai kedatangan Rani tadi, tapi ia tidak mau mengganggu mereka. Siapa tau Rani ingin mengatakan sesuatu. Bagaimanapun mereka masih saling mencintai pikirnya. Askya hanya ingin memberikan ruang kepada mereka berdua untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.


***

__ADS_1


__ADS_2