
Mendengar perkataan Bang Aji,Abiyan segera beranjak bangkit mendekati Bang Aji memegang bahu nya.
"Itu ga bener kan? "
"Mohon maaf, Gus".jawab Aji dengan kepala tertunduk.
Abiyan menghela napas kasar ia segera keluar ruangan Zaid tak peduli dengan Zaid dan Sarah yg memanggilnya. Pikiran Abiyan tertuju Zea dan Shaka.
Saat keluar ruangan, Abiyan menjadi sorotan para santri karena seluh santri mengetahui tentunya abiyan saat ini menjadi buah bibir.
Tetapi Abiyan tak peduli, Abiyan berjalan menuju kamarnya untuk memakai kaos dan mengambil kunci mobilnya melaju kan mobilnya 20 menit ia sampai di kediaman Ahmad dan Maya.
"Ting... tung".
Abyan mencet bel rumah pintu terbuka, tetapi bukan Zea melainkan Ahmad.
" Asalamualaikum, Pa".
"Walaikumsalam...".saut Ahmad,Abiyan ingin menyalami tetapi Ahmad segera menyimpan tangannya dibelakang matanya menatap tajam Abiyan yg menunduk.
" Maaf, Abiyan ingin bertemu Zea, Abiyan ingin bicara dengan nya".
"Pulang!! ".satu kata yg Ahmad ucap untuk Abiyan.
" Pa, beri Abiyan waktu untuk bertemu dan menjelaskan semuanya pada Zea ".
" Tidak perlu!! kamu telah menyakiti putri ku. Putri sata dan cucu saya akan tinggal disini".
Abiyan menggeleng keras, segera bersimpuh lutut dihadapan Ahmad "Abiyan mohon, jangan pisahkan Abiyan dengan istri dan anak Abiyan. Pah, tolong kasih Abiyan kesempatan untuk menjelaskan dengan Zea".
"Tidak.. saya tidak akan membiarkan kamu menemui putri saya! ".
Ahmad kembali masuk kedalam rumah, Abiyan beranjak bangun menuju halaman rumah yg berhadapan langsung desa jendela kamar Zea yg dilantai dua.
" Zea!! ".teriak Abiyan.
"Zea aku mohon.. kamu pasti tau aku disini dan kamu bisa mendengar suara aku".
" Zea, kasih aku kesempatan untuk bicara dengan kamu. Aku gak ingin pisah aku ga akan menalak kamu?! ".
" Aku ingin menjelaskan semua, aku mohon sayang".
Dari dalam Zea mendengar semua ucapan Abiyan, ia meletakkan tubuh Arsha di ranjang dengan hati-hati, anaknya itu baru saja tertidur.
"Zea aku cinta sama kamu, aku ga mau pisah dari kamu! ".
Zea memejamkan mata hatinya kembali sakit mengingat kejadian itu, air matanya pun sudah menanak sungai, Ia beranjak menuju jendela membuka Curtain sehingga bisa melihat posisi Abiyan yg berdiri dibawah sana menghadap jendela kamar nya.
__ADS_1
Pintu terbuka Maya masuk membawa susu hangat untuk Zea, Maya meletakkan dimeja setalah itu menghampiri Zea.
"Zea".
Zea menepis air matanya yg menetes, menutup kembali Curtain, maya sudah ada dihadapan Zea seraya memeluk nya.
" Ga ingin kamu temui suami mu? ".
" Ga.. ma hati Zea belum sanggup".
"Keputusan kamu sudah bulat? kamu benar-benar ingin pisah? ".Maya mengusap punggung Zea.
" Iya, Ma".
"Lalu bagaimana dengan Arsha? ".
Zea terdiam pandangannya beralih pada Caka yg tengah terlelap.
"Zea jangan cepat mengambil keputusan, ingat penyesalan selalu dibelakang".
" Sepertinya sebentar lagi hujan, Papah sudah menyuruh Abiyan pulang, tapi Abiyan enggan mau pulang, Papah juga ga memperbolehkan Abiyan masuk menemui kamu, coba bujuk Abiyan ya, untuk pulang".
Zea menggeleng"engga, Mah".
"Zea sudah jam sembilan malam jika Abiyan kehujanan ia akan sakit".
"Zea--.
Suara rintik-rintik hujan terdengar, bersamaan suara petir. Zea membuka kembali Curtain Abiyan yg disana sudah basah kuyup dengan posisi yg sama berdiri menghadap jendela kamar Zea.
"Zea Abiyan bakal sakit".
" Hati Zea sakit, Mah".
Maya memeluk nya lagi membiarkan Zea menangis lagi. "Mah, Zea minta tolong suruh Abiyan pulang".
" Abiyan tidak akan pulang jika bukan kamu yg--".
"Ma, Zea mohon".
Zea melepaskan peluk kan Maya ia menuju lemari mengambil hoodie miliknya yg memang tidak terbawa saat pindahan.
Zea memberikan pada maya " Ma, tolong ya suruh Abiyan pulang ganti pakaian nya.
...----------------...
"Abiyan".
__ADS_1
Abiyan mendongak, maya memanggilnya dan mendekati Abiyan dengan memakai payung karena hujan sangat deras dan angin kencang.
" Mamaa".
Abiyan meraih tangan Maya mengecup punggung tangannya.
"Mah, maafin Abiyan. Maafkan Abiyan udah buat Zea nangis tapi tolong jangan minta Abiyan untuk menceraikannya Abiyan ga akan melepaskan Zea".
" Iya, Nak".
Maya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Abiyan.
"Abiyan".maya menatap nya terlihat jelas matanya sangat merah dan sebam.
" Pulang, Ya".
"Abiyan ingin menemui istri dan anak Abiyan".
" Zea meminta kamu pulang ".ucap Maya.
" Engga, mah".
"Abiyan, Zea itu keras kepala, dia membutuhkan waktu untuk berpikir dan menenangkan diri, lebih baik sekarang kamu pulang, ya biarkan Mama dan Papa yg menjaga Zea dan Arsha untuk sementara waktu ".
" Tapi, Ma".
"Biyan, Mama dan papa memang kecewa dengan kamu setelah mendengar apa yg terjadi. tapi mama masih ingin mendengar penjelasan kamu, dan kamu bisa menjelaskan pada Zea ketika sudah lebih tenang'.
" Pulang, ya Nak Zea akan bertambah sedih jika kamu sakit, pulang ya? ".
Mata Abiyan mengerjapkan ia menatap Maya penuh harapan" Zea masih peduli dengan Abiyan, Ma? ".
Maya mengangguk ia menyerahkan papaerbag berisi hoodie milik Zea pada Abiyan.
"Zea meminta mamah menemui kamu untuk menyuruh kamu pulang dan ganti pakaian, ini hoodie milik Zea gua ga mau kamu sakit".
" Makasih ma".
"Iya Nak".
" Mama, Abiyan minta maaf Abiyan akan mencari bukti kalau ini semua ga benar, Zea lihat itu ga benar. Mama Terimakasih Abiyan mohon untuk bujukin Zea agar mau bertemu dan bicara sama Abiyan ".
Maya mengangguk ia mengusap air mata Abiyan yg kembali menetes " sekarang kamu pulang ya, sudah malam, jangan ngebut dan langsung mandi, mama antar sampai mobil".
Maya bangkit lebih dulu diikuti Abiyan "Zea!!. teriak Abiyan
" Aku bakal buktikan ke kamu, Sayang!! ".
__ADS_1
" Aku ga akan lepaskan kamu, aku akan perjuangkan rumah tangga kita, aku cinta kamu dan Shaka, Zea Nacita Salika".