
Abiyan kini sampai di rumah sakit tepatnya rumah sakit Zea di rawat, namun saat ia mengantar Nisa ke ruang periksa Abiyan berpapasan dengan Umi Sarah yg hendak keluar dari toilet melihat Abiyan duduk di lorong kursi tunggu.
"Biyan".panggil Umi.
" Umi, asalamualaikum ".ucap Abiyan mencium punggung tangan nya.
"Walaikumsalam, Kamu ngapain disini bukannya nungguin Zea malah disini? ".
" Maaf Umi Biyan ada urusan sebentar saja".jawab nya.
"Urusan apa? ayo cerita sama Umi? pintanya.
Abiyan mengusap wajahnya kasar menghela napas panjang ia ingin bercerita kepada Umi nya namun tak berani " Mi, maafkan Biyan kali ini Biyan belum bisa cerita".balas Abiyan.
"Ya udah kalo gitu Umi mau jengguk Zea dulu.
Abiyan mengangguk segera Umi keruang rawat Zea. Abiyan masih menatap kepergian Umi nya kini orang tua Nisa pun baru datang.
" Bagaimana, Abiyan? ".tanya Ayah Nisa.
" Dokter belum keluar ".balas nya.
Dokter yg memeriksa Nisa pun keluar segera Abiyan mendekati.
" Bagai, Dok keadaan Nisa? ".
" Nisa hanya stres dan depresi jadi tekan darahnya tinggi, ini juga beresiko Nisa bisa saja gila".tutur nya.
"Astaghfirullah".saut Bunda nya.
" Ga, Dok anakku tidak akan gila".pekik Bunda.
__ADS_1
"Tenang, Bu, Pak satu-satunya jalan Nisa harus menikah dengan orang yg Nisa cintai karena itu obat Nisa bisa sembuh".ucap Dokter.
Abiyan tak menyaut langsung menundukkan kepalanya" aku tidak bisa".batin Abiyan.
"Maaf Pak, Bu, mas saya permisi jika ada sesuatu bisa panggil saya".
" Iya Dok, terimakasih ".
" Sama-sama ".
Di dalam ruang rawat Zea, Sarah mendekati Zea duduk disebelah nya.
" Sayang, gimana keadaan mu? ".Umi Sarah.
"Udah baik Umi, mungkin besok udah bisa pulang".balas Zea.
" Zee, Biyan kemana? ".
"Ohh... ".sautnya ia ingin bercerita jika Biyan ada disini namun ia tak berani.
" Zea, Umi, Abah, juga Papi, Mami pulang ya, nanti Abiyan datang ".
Zea mengangguk" iya hati-hati ".
Kini Zea sendirian menunggui Abiyan datang selang 10 menit Abiyan masuk dan duduk disebelah Zea, Zea yg sudah terlelap karena lelah menunggu Abiyan. segera Abiyan berwudhu sholat menenangkan diri, Abiyan masih duduk bersimpuh dengan menadah tangan berdo'a agar diberi petunjuk, Zea pun mengerjapkan mata mulai terbangun kala mendengar suara Abiyan melantunkan ayat suci Al-Quran, Zea bangun dan menyadarkan kepalanya di ujung ranjang, Abiyan sedikit menoleh ke arah Zea ia menyudahi membaca Al-Quran nya dan menutup nya.
"Zea".ucap Abiyan bangkit mendekati istrinya.
" Kamu bangun? mau apa? ".
Zea menggeleng kecil.
__ADS_1
" Terus kamu mau saya ambilin minum? ".
" Engga, By".
"Kamu darimana baru pulang? ".tambah Zea.
" Ak.. u sama Bang Narji ngurus data ke panti asuhan untuk data penerima sedekah".bohong nya. "astaghfirullah, maafkan aku Zea berbohong" batin Abiyan .
"Oh... By, aku ga mau kamu bohong ya karena aku paling ga suka dibohongi".Tutur Zea merentangkan tangannya ia ingin memeluk Abiyan.
" Iya".balas Abiyan kemudian membalas peluk kan Abiyan.
Zea begitu nyaman ketika berada di pelukan Abiyan, hati dan pikiran Abiyan berkecambuk . seola ada 2 malaikat baik dan jelek menaungi pikirannya memikirkan bagaimana ia bercerita tentang Nisa.
.
.
Di ruang ICU Nisa mulai terbangun melihat disekelilingnya menatap Bunda dan Ayah nya yg duduk di samping ranjang, Nisa masih merasakan sedikit sakit di kepala.
"Nis".panggil Bunda nya.
" Azam mana, Bun mana dia".ucap Nisa menangis mencari Abiyan.
"Tenan, Nis tenang Abiyan baru saja pulang".tutur Bunda.
" Engga... Bunda ,Nisa mau Azam di sini".teriaknya mencengkram tangan Bunda nya Nisa masih teriak memanggil Azam lalu Ayah nya mencari dokter untuk memenangkan putrinya kini dokter baru datang.
"Nisa mau ketemu Azam, Bun".teriak nya.
" Dok, Nisa bagaimana ini? ".panik Ayahnya.
__ADS_1
" Biar saya beri obat tidur agar Nisa tenang".jawab Dokter, ia menyuruh kedua perawat memegangi Nisa agar dokter bisa menyuntik nya. selang beberapa detik Nisa mulai lemas dan tertidur.