
"Akhirnya sang Jombloan ini melepas lajang nya"
"Daun muda lagi".cibir nya.
" Si Biyan diem-diem suka yg muda kayak gini".
"Iya, anak Putih Abu-Abu disikat".
Abiyan menatap tajam ke empat sahabatnya" mau sampai kapan nyinyir terus? ".
"Hahahaha... ".ke empat pria itu tertawa memeluk Abiyan bergantian.
" Cie... udah gak jomblo lagi, By".
Abiyan menggeleng kecil"Mending kalian turun deh".
"Bukan main, sohib kita umur 27 dapet gadis cantik 19tahun".
" Jangan emosi Bambang Malik ".
"Astaghfirullah".sebut Abiyan.
"Udah-udah jangan diledek terus kasihan pengantin nya ucap salah satu teman nya.
" Selamat ya, Biyan, akhirnya nikah juga".
Salah satu pria menatap Zea yg menunduk"Hai, Dek Zea ".sambil mengedipkan mata.
Zea mendongak, tersenyum" panggilnya Zea aja, Om".
"Om? hahaha! ".tawa renyah ketiganya.
"Masak kita dipanggil Om-om sih! Kita masih umur 27 th loh,. Perkenalkan saya Joni, yg ini Rio, yg itu Rian dan ini Fahri ., keempat sahabat Abiyan saat di Gontor sampai saat ini".
" Salam kenal Abang-abang ".ucap Zea menelangkup kan kedua tangannya.
" Panggil aku Kak, atau Mas aja".ucap Rian.
"Iya Kak".
" Zea, kalau bosen sama Biyan dan mau jadi istri aku yg kedua, boleh kabarin Mas Joni ya".
Zea tersenyum canggung dan Abiyan menyadari jika Zea tak nyaman dengan tingkah polah sahabat-sahabat nya.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh ".
" Posesif banget".sindir Rian.
"Yaudahh lanjut nanti aja, selamat ya kalian".ucap Rio.
" Terimakasih ".
" RI.. ".
" Hmm? ".
Rian menyalami tangan Abiyan tetapi Abiyan bingung ketika merasakan ada sesuatu didalam genggaman mereka.
Rian menyerah sesuatu di dalam genggaman nya, ia mendekati Abiyan dan membisikan ditelinga Abiyan.
" Jamu kuat, supaya sampai subuh".
Seketika ekspresi Abiyan berubah memerah karena kesal dan malu, segera Rian dan ketiga nya turun dari pelaminan dengan tertawa senang.
"Apaan tuh".selidik Zea penasaran melirik tangan Abiyan yg tergenggam rapat.
" Bukan apa-apa ".saut Abiyan.
.
.
" Kenapa? ".tanya Abiyan ketika menatap Zea meringis kesakitan kakinya.
" Sakit, gak bisa pakai hak-hak begini ".
"Lepas aja".
" Terus gue ceker, kayak ayam? ".
Abiyan mengambil sepatu sandal milik Umi nya.
" Pakai, nih!! ".
"Nah, gini kan nyaman".
Zea mensejajarkan disebelah Abiyan mendongak menatap Abiyan " gue makin pendek disebelah lo".
__ADS_1
Abiyan melirik"siapa suruh pendek".
"Siapa suruh Om-om? ketinggian? kan Rata-rata anak SMA memang segini".gerutu Zea.
" Bawel".
"Apa lo bilang, gue bawel? ".ucap Zea berdecak pinggang.
Abiyan hanya mengangguk kecil.
"Om ngeselin, sebel gue".
Zea seketika mematung melihat pria tersenyum dihadapan nya " Zea".
"Hans".
Zea sengaja tak mengundang dirinya, tapi malah dia datang membuat hati Zea sakit, seperti ini.
" Selamat ya".
Zea menunduk tak sanggup menatap nya "Zee, jangan nangis".ucap nya pelan.
Ingin sekali Hans mengusap kepalanya tapi diurungkan melihat Abiyan menatap dirinya penuh sinis " Selamat, jaga Zea jangan kamu sia-siakan ".ucap nya.
" Zea aku pulang ".pamitnya Hans pergi turun dari pelaminan, Abiyan bernapas lega , kemudian Abiyan merogoh tisu yg berada di samping meja pelaminan nya memberikan ke Zea. " hapus air matanya "
Zea mengambil nya mengusap air matanya yg tumpah. .
.
.
Selesai acara Abiyan dan Zea akan pindah ke rumah pribadi milik Abiyan namun Zea harus mengambil barang-barang nya terlebih dulu.
"Zea, biar mam yg ambil koper mu, tunggu di sini aja".ulas Mama.
Mamanya kembali mendorong koper milik Zea dua koper berwarna abu dan hitam membuat Zea nyengir bingung.
" Ma, ini buka koper Zea deh? ".
" Kamu tenang, ini udah Mama pindahin baju-baju kamu biar rapi pakai koper ini".
"Tapi, ".
__ADS_1
" Udah tenang aja percaya sama Mama".
perasaan Zea sudah tak enak, yakin jika mamanya sudah menaruh pakaian tidak biasa ia pakai.