Dijodohkan Gus Abiyan

Dijodohkan Gus Abiyan
Penjelasan


__ADS_3

Dibawa nya Abiyan ke ruang kesehatan dengan bantuan ustadz Rehan dan Bang aji diikuti Zea. sesampainya di ruangan kesehatan, Zea mencoba untuk memanggilnya, tetapi tak ada respon.tubuh Abiyan diletakkan di brankar, Bang Aji dan Rehan mundur ketika sudah membaringkan Abiyan di brankar ruang kesehatan, Zea menatap wajah Abiyan mengusap lembut wajahnya.


"By.. ".


Zea membuka semua laci yg berada di sana dan menemukan alat stetoskop tersebut, ia meletakan pada paru-paru dan jantung Abiyan detak jantung nya sangat lemah dan pernapasan nya pun sama lemah.


"Abiyan.panggil zea lagi, ia membuka kelopak mata Abiyan memastikan jika Abiyan masih baik-baik saja.


" Zea.. "


Sarah membawa pakaian ganti untuk Abiyan.


"Sebentar lagi Dokter datang, kamu tolong ya gantikan pakaian Abiyan, jubahnya kamu gunting gappa".ucap Sarah seraya menyodorkan baju ganti.


Zea mengangguk ia menerima sarung dan kemeja" saya minta semuanya untuk keluar! biarkan saya yg mengantikan pakaian Abiyan ".


Dekan dan beberapa santri yg berada disana segera keluar memberi waktu untuk Zea menggantikan nya.


"Bang Aji, tolong bantuin Zea".


" Iya, Ning".


"Bang, tolong iringkan tubuh Abiyan. Zea ingin mengobati luka punggungnya".


Aji mengangguk ia segera memiringkan tubuh Abiyan sehingga Zea dapat membersihkan darah yg ada dipunggung Abiyan. Zea mengelap dengan hati-hati setelah itu memberikan alkohol dan mengobati luka nya dengan obat merah.


" Bang, tolong bantu untuk mendudukkan Abiyan? ".


Aji mencoba merubah posisi Abiyan menjadi duduk dengan cepat Zea menggantikan pakaiannya sarung untuk menutupi kaki Abiyan, karena ia hanya menggunakan celana pendek selutut.


" Terimakasih, Bang Aji".


"Nggih, Ning".


Tok.. tok.


Aji membuknya seorang Dokter wanita masuk dengan membawa tas berisi perlengkapan. Zea membiarkan Dokter tersebut mengecek nya.


" Jantungnya sangat lemah dan pernapasan pun juga sama begitu. Saya rasa Pak Abiyan tidak mengonsumsi makanan dan minuman sehingga pak Abiyan mengalami dehidrasi yg cukup ".


Seperti dugaan Zea, Dokter tersebut menyiapkan infus, ia menggantungkan cairan infus di tiang lalu menyambung kan pada selang infus.


" Dok, boleh saya aja yg melakukan nya?.".tanya zea ketika Dokter hendak menyentuh tangan Abiyan untuk disuntik.

__ADS_1


"Tapi--".


" Saya mahasiswi kedokteran mengerti pembuluh darah mana yg harus disuntik kan untuk diberikan cairan. Biar saya saja ".


Akhirnya Dokter mengalah mundur mempersilahkan zea melakukannya.


" Bismillahirrahmanirrahim ".


Zea mengambil tangan Abiyan, membersihkan punggung tangannya dahulu sebelum ditusukkan jarum ke tangan Abiyan, setelah selesai disuntiknya zea beralih mengatur selang agar cairan mengalir ke dalam tubuh Abiyan.


...****************...


Abiyan mengerjapkan mata rasa pusing masih menjalar di kepalanya, ia menatap seseorang yg tengah berzikir di samping brankar nya dengan mata terpejam.


" Subhanallah Wabihamdihi subhanallah ila dzimmi ".


" Sayang".. ucap Abiyan dengan tersenyum.


Zea membuka mata dan beralih menatap Abiyan. Zea hendak menaruh tasbih dinakas kembali menghadap Abiyan, pria itu berusaha menyentuh pipi Zea.


"Zea.. isteriku".lirih Abiyan seraya mengusap pipi Zea.


"Makan ya? ".


"Ingin ketemu kamu".


" Dengan cara konyol seperti itu? ".


" Makan ya".


"Kamu suapin".


Zea kembali menghembuskan napa, ia mengangguk mengalah setelah itu keluar untuk mengambilnya.


Selama menyuapi Abiyan, Zea tetap diam menundukkan kepala , ia tak sanggup menatap nya yg pastinya Zea akan dihipnotis Abiyan.


"Sudah, sayang".


" Sekali lagi ".


" Aku udah kenyang".


Zea menaruh dimeja, ia mengambil air putih dan disodorkan pada Abiyan. setelah meminumnya Abiyan tersenyum, tangannya terangkat mengusap pipi Zea dan menangkup nya.

__ADS_1


"3 hari tidur tanpa kamu ga ada yg peluk aku, Aku kangen".


" Lepas".


"Engga, sayang aku mau peluk kamu, boleh ya? ".


Zea melirik tangan Abiyan yg berada di pipinya, selang infus berubah warna menjadi merah. Dengan cepat Zea meletakkan tangan Abiyan, ia beranjak menuju tian infus untuk mengatur infusan.


" Bisa diem ga tangannya? Darahnya naik".omel Zea.


"Galak banget".sarkas Abiyan dengan mengulum senyumnya.


"Shaka apa kabar, sayang? ".tanya Abiyan.


" Baik".


"Rewel ga? ".


" Anakku pintar".


"Anak ku juga, sayang".


Zea tak menjawab, ia hendak pergi keluar, tetapi Abiyan menahan nya.


" Disini aja, aku masih kangen banget sama kamu".Abiyan menarik tangan Zea agar kembali duduk dipinggir bankar.


"Dengerin penjelasan ku Zea, ".


" Aku ga butuh penjelasan apapun! ".


" Zea aku ga melakukan apa-apa, kamu harus percaya sama suami kamu, dia menjebak dan fitnah aku".


"Menjebak? terus yg aku lihat itu apa?kamu pasrah diri kamu untuk dijamah sama dia! Dia mengusap usap tubuh kamu, menciumi kamu, bahkan cium wajah kamu, kamu ga menolak!! ".ketus Zea kembali mengingat kejadian itu.


" Zea bukan seperti itu kejadian yg sebenarnya ".


"Aku masih nifas, Abiyan aku belum bisa memberikan hak kamu lagi. Tapi aku bisa membantu kamu menyelesaikan syhwat kamu, kenapa kamu malah bercumbu dengan wanita lain? ".zea kembali meneteskan air matanya.


" Aku gak pernah melupakan syahwatku dengan siapapun cuma kamu, Zea!! ".


"Terus itu apa? ".


" Zea kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya ke kamu, aku mohon, aku janji akan mencari bukti kalau ini hanya fitnah "

__ADS_1


Zea menggeleng kecil"aku meminta Abah untuk membatalkan hukuman rajam kamu. Dan sebagai gantinya kamu nikahin dia".


__ADS_2