
Setelah Maya berkata jika Abiyan akan menerima hukuman, Zea berpikir dan ia memutuskan untuk mendatangi Abiyan dipesantren.
...----------------...
Kedatangan Zea membuat semua orang yg sudah berkumpul ditengah lapangan teralihkan padanya. Zea datang bersama Maya setelah ia meminta tolong pada Cika untuk menjaga Arshaka sebentar saja. sedangkan Ahmad berada sejak pagi tadi.
Terik mentari tak membuat orang yg berada disini beranjak, justru mereka semakin penasaran untuk menyaksikan Abiyan dan Shafira yg akan menerima hukuman pada siang ini.
"Zea.. ".
Sarah sudah berderai air mata, ia tak sanggup melihat Putra nya yang akan disiksa. Ia menghampiri Zea dan memeluknya.
" Zea maafkan Abiyan ".
" Umii ".
" Zea umi, mohon maafkan Abiyan. Umi ga sanggup melihat Abiyan di dera dan di rajam, dia sedang sakit, sudah dua hari ini dia sakit semenjak hujan-hujanan malam itu".
Zea pun juga tak sanggup tetapi ia tak bisa berbuat.
"Umi.. maafin Zea. Zea ga tahu harus gimana? ".
Zea melihat Abiyan dan Shafira yg berada di tengah lapangan, dengan tubuhnya nya diikat tetapi tangan Abiyan memegang tasbih yg Zea berikan tempo lalu. Mata Abiyan menutup dan ditutup dengan kain tangannya yg terus mengulir tasbih berzikir, Shafira pun sudah ditutupi kain penutup mata.
Tadinya, Zaid meminta Sarah untuk mendera Shafira. Tapi Sarah menolak, ia tak bisa melakukan itu dan menyerahkan tugas tersebut pada Ustazah Sifa.
Zaid mengambil Cemeti yg sudah ia siapkan, Ia menatap anaknya yg masih tertunduk dengan bibir yg terus berzikir.
"Hitung bersamaan".
Santri mengerti, mereka diminta Zaid untuk menghitung cambukan secara bersamaan.
Zea beralih pandangan nya saat Zaid mulai mengakat kan Cemeti nya.
Tak!
" Arghhh! ".
__ADS_1
" SATU! "
Suara cambukan dan hitungan terus terdengar. Shafira sudah menjerit kesakitan sedangkan Abiyan masih menaha rasa sakitnya.
"LIMA PULUH"
Zea memberanikan diri menatap Abiyan. Ia terkejut ketika melihat Abiyan memakai jubah putih yg ia kenakan berubah warnanya menjadi merah di bagian punggungnya.
"LIMA PULUH LIMA! ".
Tubuh Abiyan ambruk, pria itu menunduk karena sudah tak sanggup menahan rasa sakitnya. Air mata Zea menetes melihat nya, ia melepaskan genggaman tangan Maya dan berlari menuju Zaid.
Zea menahan tangan Zaid tengah mengangkat cemeti, hendak kembali mencambuk Abiyan . Zea menggeleng keras dengan air matanya yg sudah menanak sungai.
"Abah.. Zea mohon hentikan".
" Lepaskan tangan Abah, Nak".
"Engga, Zea mohon jangan siksa Abiyan lagi".
Zea bersimpuh didepan Zaid memohon agar Zaid menghentikan cambukan nya pada Abiyan.
Tak!
" Abah, Zea mohon. Zea ga sanggup melihat Abiyan disiksa seperti ini".
Tak!
Tak!
Tak!
"Arghhh! " Erangan kesakitan terdengar dari bibir Abiyan, membuat Zea beralih mentapnya.
Tak!
"Zea!! ".
__ADS_1
Cambukan ke tuju puluh tidak mengenai tubuh Abiyan, tetapi mengenai tubuh Zea, Wanita itu sudah berlari kearah Abiyan melindungi tubuh Abiyan dan memeluknya, melindungi tubuh Abiyan dari cambukan Zaid.
" Zea.. ".lirih Abiyan susah payah tenaga nya sudah habis.
" Abah.. lanjutkan. Biar Zea yg menerima sisa cambukan nya".ucap Zea pada Zaid.
"Zea.. menyingkir! ".ucap Zaid.
"Engga, Bah. Jangan Siska Abiyan lagi".
Zea semakin mengeratkan pelukkan nya pada Abiyan aaat pengurus pesantren hendak menarik tubuh Zea menjauh dari Abiyan sesuai perintah Zaid.
" Lepasin! ".teriak Zea saat pengurus pesantren berhasil menariknya.
Tak!
Tak!
Zea berusaha melawan pengurus pesantren dengan mengigit tangan wanita itu yg menahannya, ia kembali beralari menghampiri Abiyan yg sudah terkulai lemah.
Tak!
" Abiyan!! ".
Abiyan tak sadarkan diri, Zea segera menahan tubu Abiyan agar tidak terjatuh ke tanah membuka kain penutup kata Abiyan dan menatap sekelilingnya.
" Tolong bawa Abiyan keruang kesehatan! "pekik Zea.
Tak ada satupun orang yg beranjak mendekat kearah mereka, membuat Zea beralih menatap Zaid dengan sorot permohonan.
" Abah.. Zea mohon".
"Bawa dia!!. titah Zaid sebelum beranjak meninggalkan lapangan.
Ustadz Rehan dan Bang Aji segera membantu menolong Abiyan kemudian dibawanya ke ruang kesehatan. diikuti Zea.
...----------------...
__ADS_1
Author jelaskan ya masalah Pezina itu termasuk pelajaran Fiqih, zian itu ada dua :Musha dan Ghairu, Kalau zina mushan dilakukan sama seseorang yg sudah pernah menikah(hukumannya dera dan rajam) sedangkan ghairu yg belum pernah menikah (hukuman nya dera dan diasingkan) jadi itulah kenapa Abiyan mendapatkan rajam sedangkan Shafira diasingkan, karena Abiyan sudah menikah sedangkan Shafira belum menikah.