
30 menit Ujian selesai semua siswa-siswi meregangkan otot-otot yg terasa tegang, Lea bersyukur karena sepuluh menit yg lalau darahnya sudah berhenti, ia mengambil plastik hitam yg sengaja ia bawa untuk menaruh sampah tisu darah nya.
Setelah itu Lea keluar membuangnya ke tempat sampah sambil menoleh ada orang melihat dirinya.
"Lea" teriak Zea saat melihat Lea.
Ia melambai pada Zea berlari kearahnya memeluk erat.
"Akhirnya selesai, Lea! ya ampun kita bakal jadi anak kampus".
Lea terkekeh" Alhamdulillah ".
" Iya alhamdulillah Wasyukurillah allahuakbar "ucap Zea.
" Yuk, pulang".ajak Zea dengan riang.
Lea mengangguk, tapi senyum Zea menghilang, membuat Lea bingung Menyeringkit.
"Kenapa kak? ".tanya Lea.
" Lea! KAMU Mimisan ! ".pekiknya
Lea refleks memegangi hidungnya benar darahnya sudah mengenai bibir dan kerudungnya sudah ada banyak darah yg keluar Zea segera menutup hidung Lea dgn kerudung nya masa bodoh kerudungnya berwarna merah putih, yang penting mimisan Lea cepat terhenti.
" Lea, kok bisa mimisan sebanyak ini sih?! ".
Lea tersenyum tipis, ini tidak sebanyak saat ujian tadi kepala nya kembali sakit Lea sudah tidak bisa menahan ia terjatuh pingsan lagi.
" Lea!! bangun Lea!! ".
Zea menatap sekeliling yg sudah lumayan sepi, hanya tersisa beberapa siswa di sana.
" TOLONG!! ".panik Zea cukup keras membuat siswa yg lain menghampiri mereka.
"Tolong anterin gue dan Lea ke rumah sakit".pinta nya.
.
.
.
Zea menundukkan Kepala ia menangis terduduk di lantai, memeluk lututnya. Sudah 20 menit Zea menunggui dokter yg menangani Lea keluar, tetapi Dokter tak kunjung keluar.
Ia sudah mengabari kedua orang tua nya dan orang tua Abiyan mereka pun segera datang.
" Zea".panggil Mama nya.
Zea mendongakkan kepalanya melihat kedua orang tuanya dan orang tua Abiyan mendekat kearah nya. Zea bangkit memeluk Mama Maya dengan erat.
__ADS_1
"Ma... Lea,?! ".
Maya menenangkan Zea mengelus pundak Zea " Zea tenangin diri kamu".ucap nya.
"Lea tadi mimisan banyak banget dan pingsan Ma, Zea gak tau kenapa Lea, Dokter belum juga keluar".ujar Zea menangis tersedu-sedu.
" Bisa diceritakan kejadiannya, Zee? ".tanya Papa.
Zea melepas pelukan nya menatap Papanya.
" Selesai ujian, Zea langsung ke ruangan Lea, pas Lea lagi didepan ruangan nya Zea ajak pulang Lea, tapi tiba-tiba Lea mimisan banyak banget Zea tanya kenapa bisa mimisan tapi Lea belum menjawab sudah pingsan Zea langsung bawa Lea kerumah sakit".ulas Zea menjelaskan.
"Kenapa kerudung mu dan seragam banyak darah begitu? ".tanya Maya.
"Zea berusaha menahan darah dari hidungnya agar mimisan Lea terhenti".jawab nya.
" Kamu pulang dulu ya, ganti baju dan kerudung mu udah penuh darah".tambah Mama nya.
"Tapi Zea mau nungguin Lea".
" Nan, nanti kamu bisa kesini lagi, setelah ganti pakaian mu".
"Iya Zea, lebih baik bersih-bersih dulu karena seragam mu udah dipenuhi darah, ganti pakaian mu dulu ya, nanti setelah itu kemari lagi".tambah Umi Sarah.
" Baiklah".saut Zea
" Abiyan kamu anterin Zea ya! ".ucap Umi Sarah.
zea segera menggeleng " Jangan Umi Zea bisa pulang naik taksi".tolaknya.
"Udah gak apa-apa, akan lebih baik juga aman jika Abiyan yg mengantar Zea".ucap Zaid.
" Tapi, ".
" Zea, ikuti aja".titah Ahmad.
Akhirnya Zea menurut pasrah mau diantar Abiyan pulang.
Sesampainya di depan rumah Zea langsung keluar yg duduk di kursi belakang meninggalkan Abiyan begitu saja tanpa salam.
Abiyan yg sabar menunggu di dalam mobil sekitar 5 menit Zea keluar ia segera masuk mobil Abiyan dan duduk di belakang, Abiyan langsung menjalankan mobilnya. Abiyan fokus mengendarai mobilnya. sedangkan Zea yg memalingkan muka menatap jalanan tak ada percakapan atau obrolan dan tak butuh lama mereka sampai di rumah sakit Zea yg lagi-lagi keluar dari mobil lebih dulu dan meninggal kan Abiyan.
"Mungkin gak tau cara berterimakasih".gumam Abiyan dengan menatap kepergian Zea.
Zea menuju ruang tindakan yg ditempati Lea namun tidak ada keluarganya dan Lea di sana, segera Zea ke resepsionis menanyakan keberadaan mereka semua. tentunya Abiyan mengekorinya
" Permisi, mohon maaf Sus, saya mau tanya pasien bernama Lea Nacita salika yang dirawat di sana kemana ya, Sus? ".cerocos Zea
"Ohhh, pasien nona Lea dipindahkan ke ruang perawatan inap VIP nomor 312 dilantai 3 mba".jawab suter penjaga.
__ADS_1
" Terimakasih ".
" Sama-sama ".
Zea langsung menuju ruang Lea dilantai 3 menuju lift ia menekan tombol lift agar segera terbuka, Zea dan Abiyan masuk kedalam lift, sampai di ruang 312 Zea hendaklah menarik kenop pintu, namun ia urungkan karena mendengar penjelasan Dokter dan Papa nya berbincang mengenai lea.
" Mohon maaf,Pak,. Leukemia yg diderita putri bapak sudah stadium akhir, kemungkinan kecil lea untuk bertahan, apalagi lea yg sering lelah fisik dan otaknya, itu memicu kesehatan lea menurun".
"Dek.... Dek.. ".
bagai disambar petir siang bolong Zea yg masih mematung dibalik pintu" Leukemia? ".ucap Zea keras semua menatap dan menoleh zea di belakang pintu.
Zea pun langsung masuk" Lea Leukimia?".tanyanya ulang.
"Zea.. ".pekik Maya mendekati Zea.
" Ma, Lea leukimia? ".
"Dok, bilang sama saya adik saya baik-baik saja kan dia gak sakit leukemia kan? ".ucap Zea menatap lekat Dokter.
" Pasti gak bener kan, Dok! ".teriak Zea.
" Zea tenang, Nak".ulas Mama.
"Saya permisi dulu".pamit Dokter
Tangis Zea pecah kembali Zea menatap sang adik yg terbaring lemah dgn segala alat bantu, mata lea tertutup rapat.
" Ma, Lea gak sakit kan, ma?Lea gak boleh sakit leukemia lea dan aku masih punya mimpi yg tinggi".
"Zee, lea memang sakit, Nak".
Ahmad menatap Zea dan mendekati" Karena Lea yg minta agar kami tidak bilang kekamu, Zee".
"kenapa Papa, Mama sembunyikan dari Zee? ".
Maya dan Ahmad saling menatap" Maafkan Papa , Zee Papa salah".
lalu Papa nya menjelaskan kejadian"Saat itu lea, Abiyan dan Mama pesan cincin lea pingsan dan mimisan, kemudian lea dibawa ke rumah sakit dan saat itu kita semua baru tau jika lea menderita Leukemia ".jelas Ahmad.
" Dan sudah stadium 3 , artinya Lea kemungkinan kecil bertahan, dan dokter menyarankan untuk merawat inap sampai keadaan nya membaik, tapi lea menolaknya dia tidak mau dan meminta untuk pulang dan kami tidak boleh memberitahu ke kamu soal penyakitnya, Lea sudah mengidap lama penyakitnya".tambah Mama Maya.
"Kita serahkan semua nya kepada Allah, Nak".ucap Papanya.
Zea yg lemas mengetahui semuanya tubuhnya segera ditarik Ahmad dan memeluk nya kedalam dekapannya mengusap pucuk rambut Zea " Maafin Papa karena sudah membohongi mu".
Zea yg masih menangis di pelukan Papa nya, Abiyan yg melihat nya menunduk ikut bersedih karena dia sudah tau jika Lea sakit namun tidak memberi tahu ke Zea.
Zea hancur mendengar penjelasan Ahmad membuat Zea syok.
__ADS_1