
Semenjak kejadian tadi Zea dan Abiyan tak membiak percakapan, saat keduanya makan malam yg sudah di pesan Abiyan online, makanan Zea sudah habis menuju wastafel membawa piring kotornya dan dicuci nya. tiba-tiba Abiyan berdiri di belakang Zea "permisi" ucap Zea karen Abiyan menghalangi nya
"Zea saya minta maaf".
" Untuk? ".
"Karena saya sudah bersikap tidak baik sama kamu".
" Hm.. oke kalau gitu permisi. "
"Abiyan tak beranjak membuat Zea geram,mengepal tangan menahan emosi nya, agar tidak meluap.
" Permisi, Abiyan saya mau istirahat ".zea berlalu ke kamar nya Abiyan pun menggeser tubuh nya dan mengikuti Zea ke kamarnya.
" Kamu manggil saya apa? ".
tanya Abiyan pada Zea saat merapihkan sprei ranjang.
" Abiyan ".saut Zea lantang.
" Kenapa? ".
"Bukannya tadi kamu yg mau dipanggil Abiyan!! ".
" Kalau terpaksa mending gak usah".
"Maksudnya? Aneh ya, tadi marah-marah minta dipanggil pake nama, giliran udah dipanggil nama justru kayak gini. Maunya gimana? ".
"Kalau itu membuatmu dingin sama saya, lebih baik gak usah".
" Gapapa, aku berusaha membiasakan diri"..
"Karen malam ini hujan dan cuaca nya dingin, aku tidur dikamar tamu aja, gak apa-apa gak ada AC".
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu Zea menuju kamar tamu saat Abiyan mengikuti nya Zea segera menutup pintu dan menguncinya. Abiyan mendengus kesal.
Zea terbangun pukul 05.00 ia bingung kenapa Abiyan tidak membangunkan nya Zea segera ke kamar mengecek Abiyan , ia bertambah bingung ketika melihat Abiyan masih memejamkan mata.
"Abiyan, bangun".
mata Abiyan Mengerjapkan melihat dihadapan nya ada Zea yg tengah menyikap tangan di dada
" Jam berapa? ".tanya nya.
" Jam lima".
"Astaghfirullah".
Abiyan bangkit meringis kesakitan merasakan sakit kepala.
" Kenapa? ".
" Belum".
"Ambil wudhu, kita subuh an bareng".
segera Abiyan masuk kamar mandi, Zea segera menyiapkan alat sholat Zea pergi ke kamar mandi lain untuk wudhu.
Tak lama Zea kembali, dilihat Abiyan sedang memasang peci dengan mata terpejam. Zea menghampiri ,Abiyan segera berdiri didepan nya memulai sholat.
Selesai sholat Abiyan berzikir dan berdoa namun tak lama Abiyan kembali menundukkan kepala yg terasa sakit.
"Kenapa? ".
" Gak apa-apa ".
" Ada yg sakit".ucap Zea.
__ADS_1
Segera Zea menempelkan tangannya di kening Abiyan "Kamu demam".
Zea beranjak berdiri melepas mukenah dan mematikan AC. menarik tubuh Abiyan dan memapah keranjang, membaringkan tubuh Abiyan " sebentar ya aku ambil P3k ".
semenit kemudian Zea kembali membawa P3k nya, dan duduk di tepi ranjang menempelkan termometer mengecek suhu tubuh Abiyan" 39,8 kamu demam tinggi".
"Duh, masih pagi gini mana belum buka tukang buburnya".
" Sebentar aku bikinin bubur dulu".
Abiyan mengangguk.
Zea segera ke dapur membuatkan bubur ia mengambil beras dan mencucinya, kemudian mengambil air panas di dispenser namun saat ingin menuangkan air panas terciprat di punggung tangan Zea"Aduh aduh panas banget".lirih nya.
Zea meringis kesakitan tangan nya memerah Zea melanjutkan memasak bubur setelah matang menaruhnya di mangkuk, dan mengambil air putih dan membawa Hadplas kompres demam masa kini menuju kamar nya "Abiyan bangun.. ".
Abiyan bangkit dan duduk di kepala ranjang Zea menyuapi Abiyan " maaf kalo gak enak".
Abiyan menerima suapan demi suapan, Zea mengambil handplas demam memakai kan nya di kening abiyan "maaf aku, pakain dulu".ijin Zea memegang kepala abiyan.
membuat Abiyan tersenyum.
" Makasih ".ucapnya.
" Hmm.. makan lagi".
Abiyan menerima suapan Zea lagi hingga habis, segera Zea membuka p3k mengambil parasetamol dan dibukakan untuk di minum Abiyan "Diminum obat nya".seraya menyodorkan obat .
Abiyan meminumnya .
" Terimakasih ".ucap Abiyan.
Zea membantu Abiyan kembali berbaring dan menyelimuti nya"tidur dulu ya, biar cepet ilang pusingnya".ucap Zea.
__ADS_1