
Zea menarik napas dalam-dalam sebelum mengejan kembali, ia menggenggam erat tangan Abiyan dan menyenderkan tubuhnya di tubuh Abiyan yg sebagai penopang tubuh Zea sambil Abiyan berdzikir ditelinga Zea dan berbisik"Isteri ku, kamu bisa sayang, bisa Allahuakbar ".
Peluh keringat Zea bercucuran membuat Abiyan terus menghapus nya, ia mengusap kepala Zea dengan lembut.
" Nyebut sayang".bisik Abiyan.
"Allah..Allahhuakbar ".lirih Zea.
"Ayo Bu sedikit lagi kepalanya mulai terlihat, sekali lagi ibu mengejan ".
Zea menarik napas dalam-dalam memejamkan mata nya berusaha Sekuat-kuatnya tenaga mengejan, berusaha terus menahan sakit dan tanpa sadar Zea menangis.
" Ayo, Bu lagi
" Bismillah.. Allahuakbar! ".
Zea mendorong keras anaknya dan merasakan bayinya terdorong keluar, Dokter tersebut menarik bayi Zea, terdengar tangisan yg menggema diruang itu.
"Alhmdllh.. YaAllah".ucap Abiyan mengecup pucuk kepala Zea.
" Laki-laki ".
" Terimakasih, Zaujati".Bisiknya ditelinga Zea.
Zea mengangguk kecil memejamkan matanya ketikan merasakan keccupan lembut dari Abiyan dikening nya.
"Aby, anak kita laki-laki, bukan perempuan".tanya Zea.
" Iya sayang. Jagoan kita".
Zea tersenyum dengan susah payang ia merogoh tasbih yg disaku jaketnya memberikan pada Abiyan "selamat hari lahir, habibi".
" Maaf aku cuma kasih kamu tasbih ini. Tapi tasbih ini aku buat sendiri ".
Abiyan menerima nya dan memeluk tubuh Zea, dengan lemah Zea membalas pelukan nya" Selamat menjadi Abba, suamiku Terimakasih karena kamu sudah menjadi suamiku yg terbaik dan aku yakin kamu akan menjadi Abba terbaik didunia dan akhirat.
Perlahan pelukan Zea pada Abiyan mulai mengendur.
"Dok... Bu Zea pingsan".
__ADS_1
Abiyan segera menenggak tubuhnya ia menatap wajah Zea matanya sudah terpejam.
" Sayang, bangun sayang ".ptkik Abiyan.
" Zea bangu!! ".
"Mohon maaf, pak tolong tunggu diluar agar kami bisa memberikan tindakan".
" Engga, saya ingin menemani istri saya. Istri saya baik-baik aja kan!! ".
" Pak, dimohon untuk tunggu diluar kami akan memeriksa nya ".
Abiyan mundur, ia membiarkan Dokter menangani Zea. ia keluar dan suster menutup pintu ruang persalinan.
Abiyan mengingat perkataan Zea" Kamu percaya sama aku kan? Aku bisa, By".ucapan Zea kembali terniang.
"Zea aku yakin kamu kuat, aku yakin kamu bertahan. Kamu bisa, istri ku".lirih Abiyan.
...----------------...
"Pak Abiyan? Bisa diazankan dahulu putra nya? ".tanya seorang suster yg muncul di balik pintu ruang bersalin.
Abiyan mendekati suster Abiyan dipersilahkan untuk masuk saat ia ingin mendekati Zea yg tengah ditangan ni oleh 2 Dokter suster tersebut segera mencegah nya..
"Putra bapak sudah menunggu".
Abiyan segera mengikuti suster yg satunya menuju ruang inkubator.
"Jika Bapak ingin mengadzani dari luar tidak apa-apa, namun ingin menggendong juga tidak apa-apa".
Dengan tangan gemetar Abiyan memasukkan tangannya kedalam inkubator, meraih tubuh bayinya yg sedang tertidur.
" MasyaAllah, ya rabb ".ucap Abiyan dengan manatap wajah tampan anaknya.
Segera mengadzani anaknya.
" Allahuakbar Allahuakbar.. ".
Seketika tangisannya keras, digendongan Abiyan.
__ADS_1
" Laa illaha illallah ".tangis bayinya terhenti, matanya mengerjap, membuat Abiyan meneteskan air matanya dan mengecup pipi bayi mungil nya.
" Sudah, Pak? ".
Abiyan kembali menganggukkan kepala, dan menaruh bayinya di inkubator karena memang anaknya masih membutuhkan kehangatan.
"Sus, boleh saya temani istri saya? ".
" Mohon maaf, pak istri Bapak sedang ditangani Dokter ".
"Saya mohon ijinkan saya bersama nya Sus, istri saya membutuhkan saya'.
Suster tersebut memaksa Abiyan untuk keluar membuat nya menurut dan keluar sekilas menatap Zea yg masih tak sadarkan diri.
...----------------...
" Biyan.. ".
Sarah sudah duduk disebelah nya dengan cepat ia memeluk Umi nya menangis dipeluk kan nya.
" Umi, sudah hampir q jam kenapa? Dokter yg menangani Zea belum juga keluar".
"Sstttt..tenang sayang".ujar Umi menenangkan
" Biyan bisa kamu ceritakan kenapa Zea bisa seperti ini? ".tanya Maya, Ahmad dan Zaid ikut menyimak.
" Sebelumnya Abiyan minta maaf, karena ga menjaga Zea dengan baik, Ma, Pa, ".
"Semalam Abiyan ke pesantren dijalan Abiyan ingin mengabari Zea, tapi Zea ga angkat telfonnya, tak lama Zea menghubungi Abiyan Zea bilang kalau dia jatuh dari tangga, saat sampai dirumah Zea sudah pendarahan dan kesakitan.
"Biyan, minta maaf, Ma, Pa".Abiyan mengecup punggung tangan mertuanya ia merasa bersalah.
" Ini bukan salah kamu, Nak".ucap Maya.
"Bagaimana keadaan anak kalian? " tanya Zaid.
"Alhamdulillah, putra kamu baik-baik aja, Nah".
"Putra? ".
__ADS_1
" Alhamdulillah, Masha Allah ".
" Berhenti menyalahkan diri kamu, Zea akan baik-baik saja".ucap Ahmad mengusap bahu nya.