
Setelah mengantarkan Dara. Zea beranjak pulang disana terlihat mobil Fahri terparkir di halaman rumahnya.
"Umma".panggil Abizan.
Zea merentangkan kedua tangan nya menyambut peluk kan untuk Abizan.
" Abi, udah mam belum? ".tanya Zea.
" Udah, Umma. Bareng Om Fahri, tante Cika, sama kakak Aqila juga".
"Hai, Zea".
Zea menoleh mendapati Cika menghampiri nya.
"Hey, Cik, Apa kabar? MasyaAllah kenapa kamu gak kabarin aku kalau mau ke rumah? ".
Cika terkekeh" tadi Aqila mendadak bilang kalau kangen Bizan. Aku udah telfon kamu loh, tapi ga diangkat ".
" Tadi ponselku ketinggalan di rumah sakit ".
" Loh? bukannya kamu di rumah sakit? terus dimana? ".
__ADS_1
"Tadi aku ke makam, terus ngobrol di taman deket makam".
" Sama siapa? ".
" Dara".
"Kenapa kamu masih berbaik hati sama Dara? Sampai biaya pengobatan anaknya kamu yang tangguh? kamu ga inget apa yang dia lakukan sama kamu dan Abiyan? ".
Zea menghela napas berat, ia tersenyum pada cika, Zea baru saja selesai bercerita tentang Dara namun Cika mulai emosi.
" Sudah tugas seorang Dokter untuk menyelamatkan nyawa seseorang, kan? ".
" Abiyan selalu mengajarkan aku untuk ikhlas dan ga boleh dendam pada siapapun, walaupun orang tersebut sudah memberikan banyak luka atau jahat sama kita".
" Cik, boleh aku berpesan sama kamu? ".
" Apa? ".
" Aku titip anak-anakku sama kamu. Kamu sayangi anak-anakku seperti kamu menyayangi Aqila anak kamu, Boleh ya? ".
" Zea kenapa ngomong kayak gitu? Aku ga suka kamu omong gitu".ucap Cika.
__ADS_1
Zea terkekeh menatap langit malam yang dihiasi banyak ribuan bintang dan satu purnama terang.
"3 hari berturut-turut ini aku memimpikan Abiyan, aku rasa Abiyan sudah kangen banget sama aku. Aku juga kangen Abiyan, Cik! ".
" Di mimpi itu Abiyan ga bicara apa-apa hanya tersenyum bangga kearah ku, Aku ga bisa memeluk ataupun menjangkau Abiyan, entah kenapa begitu? ".
" Semua asuransi untuk anak-anak ku udah aku urus, kamu ga perlu repot-repot memikirkan biaya hidup mereka semua, Cik cukup menjaga mereka hingga mereka dewasa dan bisa hidup mandiri sendiri ".
"Tabungan Abiyan, tabungan ku hasil kerja selama 6 tahun ini dan semua aset-aset Abiyan dan Aku sudah aku urus semua untuk kehidupan Arshaka, Arayyan, Zyana, dan Abizan. Aku titipkan anak-anak ku sama kamu, Cik. Aku percaya kan semu ini pada kamu, aku yakin kamu bisa menjaga dan merawat mereka dengan sangat baik".
Zea menoleh pada Cika, sahabat nya itu sudah menangis.
"Boleh ya, Cik".
Cika mengangguk memeluk erat tubuh Zea menangis terisak di pelukan Zea, membuat Zea ikut menangis tanpa suara.
"Cik,Jika malam ini adalah malam terakhir aku bernapas, aku harap aku bisa menghembuskan napas dengan damai di malam ini".
" Cika terimakasih sudah menjadi sahabat dan saudara terbaik ku, aku sayang kamu, Cika".
Tanpa mereka sadari, pria remaja menangis dalam diam melihat dan mendengar penuturan sang Ibu, Pria remaja tersebut adalah Arshaka. yg menangis dalam diamnya, Ia tak sanggup jika harus ditinggalkan sangat Ibu. hatinya hancur sebagai anak sudah kehilangan sosok ayah yg ia teladani dan sekarang ia harus menerima kenyataan jika sangat Ibu sudah pasrah jika Allah mengambilnya.
__ADS_1
...----------------...
InsyaAllah 2 Bab lagi selesai dan tunggu giveaway nya ya salam dari Author 🥰🥰🥰🥰😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊