
Maaf ya episode kali ini author kasih bawang dulu ya selamat membaca!! π€βΊβΊπΉππ»
...****************...
...Zea menatap sekelilingnya yg sudah banyak para santri juga dekan pesantren....
"MULAI SAAT INI, SHAFIRA SI ****** PELACUR INI BUKAN LAGI PENGAJAR DI PESANTREN DARUSSALAM!! ".
Zea melepaskan cekikikan pada leher Shafira, membuat Shafira ter batuk-batuk.
" Zidan tolong antar saya ke rumah sakit".pinta Zea lalu zidan mengangguk sebagai jawaban.
Selang 2p menit Zea dan zidan sampai di rumah sakit menuju ruang ICU, Zea segera duduk dilantai dihadapan Zaid yg tengah duduk di kursi tunggu ruang UCu.
"Abah".Zea menaruh kepalanya di pangkuan Zaid.
" Abah.. maafkan Zea sudah berburuk sangka, Zea udah tau semua nya. Abiyan tidak bersalah, tolong jangan hukum Abiyan lagi. Jangan bunuh Abiyan. Zea dan Shaka masih butuh Abiyan ".
" Bangun, Nak".
Zea segera menggeleng "maafin Abiyan, Bah. Kejadian nya ga seperti itu, Abiyan dijebak Shafira, Abiyan dibius Shafira".
" Dimana zidan? ".tanya Zaid.
"Zidan kembali ke pesantren, dia akan mengintimidasi Shafira dan mengurus ke kantor polisi".ucap Zea.
" Abah, Abiyan ga salah. Tolong jangan berikan hukuman yg ga seharusnya Abiyan dapatkan ".
__ADS_1
Cklek..
Pintu ruangan ICU terbuka seorang suster keluar berlari menuju ruang Dokter untuk memanggil Dokter tambahan.
Membuat Zea dan Zaid bangkit dan menghentikan suster tersebut.
" Ada apa, Sus? ".
" Detak jantung Pak Abiyan terhenti ".
Zea tersentak menangis terisak melihat dua dokter yg tengah menangani Abiyan. Satu dokter sibuk memasang AED pada dada Abiyan dan satu lagi sibuk mengatur alat ventilator.
" Abiyan.. ".lirih Zea.
" Ya Allah, Zea mohon ampunan-Mu Tolong jangan ambil Abiyan sekarang ".
Zea memejamkan mata, ia terus berdoa dalam hati. Tiba-tiba hatinya mencelos mendengar suara lengking deteksi jantung Abiyan bergambar garis lurus, suaranya terdengar keras hingga terdengar keluar ruangan menadahkan detak jantung Abiyan lemah.
Mata Zea kembali meneteskan air mata dan tebelalak terkejut melihat monitor menampilkan satu garis lurus panjang, segera Zea masuk kedalam ruangan menghentakkan tangan Dokter dan Suter yg menahan nya.
"Abiyan.. Bangun".
Zea mengguncang tubuh Abiyan, ia mencoba memberi kan CPR sebanyak mungkin, Tetapi suara alat tersebut belum menampakkan garis lain selain garis lurus.
Selain memberikan CPR Zea menekankan dada Abiyan, Zea melepaskan alat ventilator Abiyan dan memberikan napas buatan dari mulut nya meniupkan napasnya kedalam mulut Abiyan, lalu kembali menekan dada Abiyan.
"ABIYAN BANGUN!! ".
__ADS_1
" Bu, mohon mundur. Pak Abiyan sudah tidak ada".
"Pembohong!! Abiyan masih bertahan!! ".sentak Zea.
Usaha Zea sia-sia ia menangis disamping wajah Abiyan, memeluk tubuh abitan dengan erat.
" Sayang, Bangun!! Aku disini, aku dan Shaka butuh kamu".bisik Zea ditelinga Abiyan.
"Suamiku, aku mohon kembali, Ya rabb".
" Tut.. tut.. tut.
"Subhanallah".ucap Dokter dan suster yg berada disana.
Zea menghentikan is akan nya, menatap layar monitor menampilkan garis naik turun, menunjukan jantung Abiyan kembali berdetak, walaupun sangat lemah.
" Aby.. ".
Dokter kembali memasang ventilator pada Abiyan, sedangkan Zea mundur beberapa langkah memberikan Dokter untuk memeriksa Abiyan.
Zea kini mulai tersenyum kembali
" Terimakasih, Ya rabb, engkau tlah mendengar doa ku".batin Zea.
Sedangkan Zaid dan Maya masih mematung menatap di kaca jendela ruang ICU, Sarah sudah tak kuat menahan tangisnya hingga pingsan.
Zaid membawa Sarah keruang perawatan.
__ADS_1
...****************...
Maaf mengandung bawang sedikitππ.. Zea dan Abiyan harus bisa melewati lika-liku rumah tanggaππ»ππ»ππ»ππlike dan komenππ»ππ»ππ»