
Zea menaiki anak tangga satu persatu. Ia ingin menuju kamarnya tetapi pandang nya beralih pada kamar didepan kamarnya kamar Lea. pintu kamar Lea sedikit terbuka, Zea memasukinya. Kamar Lea masih sama, tak ada yg berubah. Hanya saja tidak ada ranjang disini, sejak 2 bulan kepergian Lea, Ahmad dan Maya sudah memberikan ranjang milik Lea kepada orang yg membutuhkan. , Zea berjalan menuju nakas, disana terdapat foto Zea dan Lea ketika berusia 15tahun , terlihat jelas perbandingan pakaian yg dikenakan Zea dan Lea.
Zea beralih melihat pakaian sekarang ia kenakan, lalu terkekeh pelan.
"Lea.. lihat sekarang pakaian ku sama seperti pakai kamu, Loh, ternyata nyaman bangettt".
Zea mengusap foto tersebut dengan lembut" Lea anakku udah lahir semoga anakku tumbuh menjadi anak sholeh seperti Abiyan, ya. Kalau nanti perempuan semoga sholihah kayak kamu, jangan seperti aku".
Tiba-tiba Zea merasakan sebuah tangan melingkari perutnya. Abiyan memeluk Zea dari belakang dan menaruh dagu di bahu Zea.
"Kalau nanti Allah memberikan anak perempuan, pasti akan sholihah dan cantik seperti Umma".bisik Abiyan.
"Aby, Caka mana? ".
" Sama Papa dan Mama, untuk malam ini Shaka tidur sama mereka, kata mamah biar aku bisa istirahat ".
Zea menghela napas pendek, ia menaruh bingkai foto yg dipegang di nakas.
" Emangnya bakal istirahat? ".tanya Zea.
Abiyan terkekeh pelan, kekeh nya yg membuat Zea mengerti dan sedikit takut.
" Istri ku udah paham ya? ".
" Hmm.. suamiku sekarang udah lebih sholehot".
"Zea.. kamu udah melanggar salah satu perjanjian pra-nikah dan kamu tau kan kalau melanggar akan mendapatkan sanksi) ".
__ADS_1
Zea memutar badan nya sering menghadap Abiyan, " Sanksi apa yg akan kamu beri ke aku? ".
"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi. Jangan pernah sekalipun mengatakan talak dan bermain-main dengan perceraian. Aku ga suka".
" Iyaiya, maaf, By".
"Hmm.untuk kali ini dimaafin".
" Tapi sanksi tetep aku kasih".
"Kita ke kamar kamu ya".ajak Abiyan.
Zea mengangguk, pasrah Abiyan menggandeng tangannya menuju kamarnya yg berada diseberang kamar Lea.
Abiyan mengunci pintu kamar Zea setelah itu membawa Zea ke tepi ranjang.
" Untuk? kamu mau cambuk aku? By, aku takut. jangan cambuk aku".
Abiyan tak menjawab, ia menuju lemati pakaian Zea mencari ikat pinggang dilaci dalam lemari.
Entah mengapa Zea merasa sangat takut Abiyan berjalan mendekati kearah Zea dengan membawa ikat pinggang miliknya ditangan pria itu. Terlebih Abiyan menyunggingkan senyuman nya.
"By? ".
"Hm".
Kedu tangan Zea memegang bahu Abiyan agar dirinya tak terjatuh. Tetapi Abiyan justru menggenggam kedua pergelangan tangan Zea dan mengikatnya dengan ikat pinggang.
__ADS_1
" Zea.. I miss you ".
Tok.. tok tok.
Abiyan menghela napas kasar. ia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum berlalu menuju pintu untuk dibuka Abiyan. sedangkan Zea tertawa melihat wajah frustasi Abiyan
" Maaf Biyan, Mama sedikit mengganggu, ya".
"Ga ganggu kom, Ma. ada apa? ".tanya Abiyan sambil tersenyum tipis.
" Mama hanya ingin memberikan susu untu Zea dan teh untuk kamu".
"Mama ga perlu repot-repot".
" mama ga repot kok, ini ya. tolong berikan susunya untuk Zea".
Abiyan mengangguk menerima susu dan teh yg berada di nampan.
"Kalau begitu Mama permisi, sekali lagi mohon maaf Mama mengganggu kalian".ucap Maya, seraya menatap kancing kemeja Abiyan yg terbuka.
" Kalian bisa melanjutkan lagi, Mama dan Papa ga akan menggangu ".tabah nya.
Abiyan mengangguk dan melirik kancing kemejanya yg terbuka Abiyan menghela napas kasar dan segera menutup kembali pintu dan menguncinya.
Abiyan menghampiri Zea menaruh nampan tersebut di meja. teruju pada Zea yg sudah duduk merapihkan pakaian nya.
" Hey.. siapa suruh diberesin? ".
__ADS_1
"Permainan belum dimulai, sayang ku".kekeh Abiyan.