
Kegiatan pun berlangsung dan berjalan cukup lancar.Di regu Aline pun berjalan dengan lancar.Mereka mampu menjawab tantangan dan pertanyaan, begitu pula regu yang lainnya.Mereka nampak riang dan gembira.Walaupun disitu Aline nampak gelisah.Namun dia berusaha untuk tetap tenang.Tak terasa waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB.Peserta pun diminta istirahat.
"Wow! Gila tadi seru banget," ucap Sovia antusias.
"Iya, Alhamdulillah berjalan dengan lancar," sambung Karina.
"Eh,tapi dari tadi gue liat si Aline kayak gelisah gitu kenapa ya dia?" tanya Tania.
Aline dan Raisa ada didalam tenda.Mereka nampak membicarakan sesuatu.Aline menatap Raisa dengan wajah serius.
"Lin,loe kenapa sih,tadi gelisah gitu?" tanya Raisa.
"Jujur selama kita keliling gue ngeliat dosen gaib itu lagi dan dia kayak ngasih kode ke gue supaya gue ngelakuin sesuatu," ucap Aline.
"Ha? ngelakuin sesuatu?terus dibilang apa?" tanya Raisa.
"Dia langsung ngilang sa, baru kali ini gue dibikin bingung sama setan," ucap Aline.
"Kayaknya loe harus pepet terus kak Justin lin,bikin dia jatuh cinta sama loe," ucap Raisa secara spontan.
"Loe gila ya,gue enggak bisa yang ada gue bakal ada masalah sama Kak Jennie," ucap Aline dengan ekspresi kaget.
"Ya sekarang gini ya gue rasa Kak Justin itu tau banyak soal kematian Bu Rossa loe pelan-pelan deketin dia bikin dia nyaman sama loe terus loe tanya deh pasti dia langsung jawab wkwkwk," ucap Raisa sambil mengoda Aline.
"Ya enggak segampang itu lah mending loe aja sana," ucap Aline.
"Eh,kok gue! ini kan masalah loe gue sama Fauzan cuma bertugas sebagai asisten," ucap Raisa.
Rupanya ada yang menguping pembicaraan mereka.Dia mengintip dari balik tenda dengan ekspresi penasaran.
"Aline sama Raisa lagi ngomongin apa ya?" tanya Tania,dia rupanya yang menguping pembicaraan Aline dan Raisa.
"Gue kasihan sama Lili sa,apalagi Dosen yang sering kita liat itu ibunya," ucap Aline.
"Ha? Dosen gaib?gue enggak ngerti maksud Aline," ucap Tania yang dari tadi masih mengintip dari balik tenda.
"Ya udah kalau saran gue tadi memberatkan mending loe pikir sendiri caranya gue mau keluar," ucap Raisa beranjak dari tempat duduknya.
Tania menyadari bahwa Raisa akan keluar dia pun kembali ke tempat nya semula seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan mengobrol asik dengan Karina dan Sovia layaknya teman lama.
"Aline kok enggak keluar,sa?" tanya Karina.
__ADS_1
"Bentar lagi keluar kok," jawab Raisa.
"Apa gue tanya sama Raisa aja soal Dosen gaib itu eh,jangan mending gue diem aja seolah-olah gue enggak ngerti apa-apa dan gue bakal ngomong sama Karina dan Sovia," batin Tania.
"Sekilas tadi gue liat ada bayangan orang dideket tenda bayangan siapa ya?" tanya Raisa dalam Hati.
"Sorry ya gyus gue tadi lama banget didalam tenda," ucap Aline sambil duduk di Samping Raisa.
"Santuy aja lin,yang penting loe enggak ngilang-ngilang aja kayak kemarin," ucap Sovia sambil tertawa.
"Hahahaha bener banget tuh," ucap Karina sambil tertawa.
Matahari yang tadi bersinar dengan terang akhirnya tenggelam dan memberikan pemandangan yang indah membuat setiap mata yang memandang pasti terpesona dan itu tandanya langit kian gelap dan suasana pun makin mencekam,apa lagi hari ini adalah malam terakhir kegiatan ospek Maba.Regu Aline nampak sedang memasak untuk makan malam.Mereka sedang membuat Nasi goreng.
"Besok kita udah enggak tidur di tenda lagi," ucap Sovia dengan ekspresi riang duduk memperhatikan rekan-rekannya memasak.
"Eh,iya malam ini malam terakhir kita tidur di kemah," sambung Karina sambil menumis bumbu
"Sebenarnya maksud Aline itu apa?Dosen gaib?setan gitu maksudnya?" tanya Tania dalam hati.
"Oii tan, dari tadi diem aja hayo mikirin apa?" tanya Raisa yang sedang mempersiapkan minuman.
"Iya nih,tadi dari gue perhatiin loe diem aja," sambung Aline yang membantu Karina membuat nasi goreng.
"Ya udah tan,gue kira loe kesambet," ucap Sovia.
"Kayaknya gue harus sering dengerin mereka Ngomong supaya gue paham apa yang mereka omongin," batin Tania.
Di tempat berbeda regu Fauzan malah asik bermain game.Fauzan nampak nyaman teman barunya itu.Sesekali Fauzan melirik ke arah tenda regu Aline.
"Cie-cie yang lagi ngelirik-lirik tendanya Aline" ucap teman Fauzan.
"Siapa yang lirik-lirik orang gue cuma pengen ngelirik kesana," ucap Fauzan.
"Udah enggak usah mengelak sebenarnya loe suka kan sama Aline?" tanya teman Fauzan.
"Ya enggak lah orang baru kenalan sama dia lagi pula gue pengen fokus kuliah," ucap Fauzan dengan penuh keyakinan.
"Yakin,zan? kalau gue lihat-lihat Kak Justin suka sama Aline," ucap teman Fauzan.
"Ya itu hak masing-masing mau Kak Justin suka sama Aline atau enggak itu bukan urusan gue," ucap Fauzan.
__ADS_1
"Kok gue nyesek gini ya kalau mereka sama-sama ada rasa," batin Fauzan.
"Eh,guys gue ke toilet dulu ya kebelet," ucap salah satu teman Fauzan.
"Hati-hati ya takutnya ada setann," ucap teman Fauzan.
"Loe jangan nakut-nakutin gue dong," ucap teman Fauzan yang akan ke toilet dengan ekspresi sedikit ketakutan.
"Iya soalnya ada Dosen Gaib upps," ucap Fauzan sambil menutup mulutnya.
"Apa,zan? Dosen Gaib?emang ada hantu kayak gitu disini?" tanya teman akan ke toilet dengan ekspresi sedikit syok
"Aduh,kenapa gue bisa keceplosan sekarang gue harus jelasin apa," batin Fauzan.
"Woy!Kok diem aja zan,ayo jelasin," ucap teman Fauzan.
"Guuuee cuma bercanda doang Dosen Gaib enggak ada kok jadi loe enggak usah takut,gue masuk ke tenda dulunya ucap Fauzan sambil terbata-bata dan beranjak dari tempat duduknya.
Teman-teman Fauzan nampak bingung dengan pernyataan Fauzan tadi.Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan game.Sementara temannya Fauzan yang akan ke toilet memutuskan untuk tidak jadi ke toilet karena takut soal pernyataan Fauzan tadi.
Ditenda Senior nampak sedang berdiskusi serius.Untuk kegiatan malam ini adalah hening malam.Semua peserta akan berkumpul ditempat yang sama waktu api unggun untuk melihat suatu tayangan.
"Selamat malam semuaa dimohon untuk seluruh peserta untuk berkumpul di sumber suara," ucap Kak Petter dengan suara lantang.
Justin nampak masih kesakitan dan pergelangan tangannya makin memerah.Sontak rekan-rekannya khawatir apalagi Jennie juga nampak kesakitan dengan pergelangan tangan yang memerah juga.
"Pergelangan tangan kalian sebenarnya kenapa?" tanya Niken dengan ekspresi khawatir.
"Aw,Enggak papa kok,"ucap Justin sambil memegang pergelangan tangannya yang sebelah kanan.
"Iya ken,kita baik-baik aja kok," ucap Jennie sambil menahan sakit.
"Kalau enggak kenapa-napa enggak mungkin kalian kesakitan kayak gitu," ucap Niken.
Di balik tenda sosok bayangan wanita paruh baya berpakaian dosen menatap Justin dan Jennie penuh dengan kebencian.Justin pun menyadari kehadiran Dosen gaib itu.
Happy reading semuaa 🤗.
Jangan lupa like dan vote🙏.
Terima kasih ya sudah setia membaca karya ini yang masih jauh dari kata sempurna ❣️.
__ADS_1
Tunggu terus ya kelanjutannya🙏😁.