
Happy Reading semuaaa🤗.
Maaf masih banyak kekurangan.
Sepanjang menyusuri koridor kampus Kak Justin tidak menaruh rasa curiga pada Raisa.Langkah Kak Justin sangat terburu-buru hingga Raisa nampak kewalahan mengikuti langkah Kak Justin.Raisa pun menyuruh Kak Justin berhenti terlebih dahulu di depan ruang Dosen dengan ekspresi cukup kelelahan.Sementara Kak Justin nampak khawatir sekali dan memaksa Raisa untuk segera kasih tau sekarang Aline ada dimana.
“Kak,bisa enggak jalannya enggak cepet-cepet,”gumam Raisa sembari duduk di bangku depan ruang dosen.
“Sa,gue khawatir banget sama keadaan Aline pokoknya kita harus cari Aline sampai ketemu,”sahut Kak Justin dengan muka khawatir.
“Gue enggak nyangka kalau respon Kak Justin bakal kayak gini padahal ini kan bohongan,”batin Raisa sambil melirik Kak Justin.
“Eh,kok loe diem aja ayo kita cari Aline,”bentak Kak Justin yang dari tadi melamunkan sesuatu.
“Iya kak,bentar lagi ya aku capek banget,”ujar Raisa dengan muka kecapekan.
Kak Justin tidak memperdulikan omongan Raisa dan langsung berjalan meninggalkan Raisa untuk mencari keberadaan Aline.Raisa langsung bangkit dari tempat ia duduk dan langsung mengejar Kak Justin.Raisa takut kalau Kak Justin akan tau yang sebenarnya bahwa Aline tidak benar-benar diculik.
Dilantai 3 Aline sudah berada di ruangan yang ia pernah masuki.Kak Jennie sangat ketakutan saat Aline dan Fauzan membawanya ke ruangan tersebut.Kak Jennie terus membrontak saat Aline dan Fauzan masuk ke ruangan itu tangannya maju mundurkan badannya dihentak-hentakkan agar bisa lepas dari pegangan tangan Aline dan Fauzan.Aline dan Fauzan sangat kompak memegang pergelangan tangan Kak Jennie.Usaha Kak Jennie untuk bisa lepas dari Aline dan Fauzan sia-sia.Mereka sudah masuk ke ruangan tersebut kondisi ruangan itu masih seperti saat Aline masuk ke ruangan tersebut beberapa waktu yange lalu.Berantakan,berdebu,dan minim cahaya serta ada hawa menyeramkan di ruangan tersebut.
“Kalian ngapain bawa gue kesini?”Tanya Kak Jennie dengan muka panik sembari melihat sekeliling sudut ruangan dengan posisi tubuh ada di lantai dengan kondisi banyak debu dan kotoran.
“Enggak usah sok polos kak,aku tau kakak pasti tau kan ruangan ini?”Tanya Aline sambil memegang dagu Kak Jennie dengan sorot mata tajam hingga membuat Kak Jennie ketakutan.
Kak Jennie menghempaskan tangaan Aline agar menjauh dan bangkit dari posisi duduknya menatap tajam dan tersenyum sinis pada Aline dan Fauzan.Di lantai 1 Kak Justin masih berjalan menyusuri koridor serta ruang demi ruang untuk menemukan Aline diikuti Raisa.Namun langkah Raisa terhenti di depan tangga lantai dia meraih ponsel yang ada disaku dan menelepon Aline.
Drrttt….Terdengar bunyi telefon dari saku celana Aline.Aline pun mengangkat telefon tersebut dan menyuruh Fauzan untuk memegang kembali tangan Kak Jennie agar dia tidak melarikan diri.Kak Jennie nampak menolak saat Fauzan memegang tangannya.Namun Fauzan bersiku keras meraih tangan Kak Jennie hingga akhirnya tangan Kak Jennie berhasil ia gengam dengan sekuat tenaga.
“Hallo sa,gimana berhasil kan?”Tanya Aline penuh harap sambill sesekali melirik wajah Kak Jennie dengan maksud untuk mengawasi Kak Jennie supaya tidak kabur.
“Berhasil lin,Kak Justin percaya kalau loe diculik Cuma sekarang dia dari tadi dia cariin loe dari ekspresi mukanya dia khawatir banget sama loe,”jawab Raisa dengan nada pelan supaya tidak ketahuan.
__ADS_1
“Oke sa,habis ini gue turun loe terus awasin Kak Justin jangan sampai kehilangan jejak dia sekarang posisi loe ada dimana?”Tanya Aline dengan nada senang karena rencana dadakannya berhasil.
“Sekarang posisi gue ada di depan tangga lantai 2 dekat kantin,”ujar Raisa sambil memperhatikan situasi dan kondisi.
Aline pun menutup telefonnya begitu pula dengan Raisa.Tiba-tiba jantung rasanya mau copot saat Kak Justin ada didepan matanya.Kak Justin menatap Raisa dengan tatapan aneh hingga membuat Raisa salah tingkah.Raisa takut Kak Justin mendengar pembicaraannya dengan Aline lewat telefon seluler.Agar Kakp Justin tidak semakin curiga Raisa membuka pembicaraan.
“Gimana kak ,Aline udah ketemu?”Tanya Raisa dengan wajah panik.
“Enggak ketemu sa,loe tadi telefonan sama siapa?”Tanya Kak Justin dengan tatapan curiga.
“Tuh,kan nanya gue telefon sama siapa aduh,gue harus jawab apa ya?”Tanya Raisa dalam hati.
“Kok malah diem siapa yang nelefon?”Tanya Kak Justin dengan nada tinggi.
“Eeeeee tadi aku nelefon mama aku kak,”jawab Raisa dengan nada terbata-bata dengan tatapan salah tingkah.
“Oooooo ya udah gue kira siapa semua koridor,toilet udah gue liat,tapi Aline enggak ada juga apa kita naik ke atas aja ya?”Tanya Kak Justin tanpa menaruh rasa curiga pada Raisa yang dari tadi salah tingkah.
Di salah satu ruangan di lantai 3 Aline menyuruh Fauzan melepaskan Kak Jennie dan menguncinya di ruangan tersebut.Kak Jennie berusah untuk kabur,namun sayang langkah kurang cepat sehingga sekarang terkunci di ruangan tersebut seorang diri dengan perasaan campur aduk.Mata Kak Jennie melihat sekeliling sudut ruangan sembari terus menggedor-nggedor pintu dengan bulu kuduk yang berdiri.
“Ah,sial semua udah kebongkar coba aja tadi gue bisa lolos dari mereka gue enggak akan kejebak disini gue harus kabur dari sini,tapi caranya gimana?Apa gue loncat aja kali ya?”Tanya Kak Jennie sambil berpikir.
Mereka bergegas turun ke bawah.Aline memiliki rencana untuk memasukkan kepala Kak Justin dengan karung dan membawa Kak Justin ke tempat yang sama dengan Kak Jennie.Mereka sudah sampai di tangga lantai 2.Terlihat ada Kak Justin dan Raisa sedang berdiri di depan tangga tersebut.Raisa nampak menyadari kehadiran Aline dan Fauzan.Raisa mengalihkan pandangan Kak Justin agar tidak menghadap ke belakang.Dengan langkah perlahan Aline dan Fauzan bersiap-siap memasukkan karung ke kepala Kak Justin.
Happ….
Aline dan Fauzan berhasil memasukkan karung ke kepala Kak Justin dibantu Raisa.Kak Justin nampak memberontak dan berusaha melepaskan karung tersebut.
“Eh,apa-apaan nih,lepasin gue,”teriak Kak Justin sambil terus memberontak.
Aline,Fauzan,dan Raisa berusaha keras membawa Kak Justin ke atas ke ruangan tadi.Di tempat berbeda Arine terlihat sangat frustasi dan merebahkan tubuhnya di sofa.Pikiran Arine benar-benar sedang kelabu dan tidak terkendali.Ingin rasanya Arine meluapkan emosi kini hati dan pikirannya benar-benar hancur.Air mata terus membasahi pipi Arine.Dari awal pesta ulang tahunnya sudah bermasalah dan sekarang pestanya benar-benar hancur.
__ADS_1
“Hiks…..kenapa jadi gini sih?Udah pesta hancur,jadi sad girl,sekarang sendirian lagi dirumah,”tangis Arine dengan nada emosi.
Arine nampak melirik jam ternyata sekarang sudah jam 23.00 WIB lebih.Bulu kuduk Arine mendadak berdiri dan melihat sekeliling sudut rumahnya dengan tatapan ketakutan setelah mengetahui sekarang sudah jam 23.00 WIB.Sebenarnya ia ingin menelepon Aline kakaknya,namun dia masih kecewa dan kesal dengan Aline karena gara-gara kakaknya Kak Justin menolak cintanya.Arine memutuskan untuk menelefon kedua orang tuanya saja yang sekarang ada diluar kote karena urusan pekerjaan.
“Ekhmm Hallo mah,mama pulang kapan?”Tanya Arine dengan suara serak karena habis nangis.
“Kamu habis nangis ya?Kok suaranya serak-serak gitu.Besok siang mama pulang nak,sedangkan papa masih agak lama disini,”jawab Mama Lia dengan suara lembut.
“Ekhmm enggak kok ma,Yahh!Sekarang aja ya ma,”rengek Arine dengan suara manja.
“Ya enggak bisa dong oh ya pesta kamu gimana?Lancar kan?”Tanya Mama Lia sambil membuka-buka dokumen untuk kepentingan kerja.
“Lancar apanya ma,orang hancur berantakan kayak gini,”gumam Arine dengan muka cemberut dan bete.
“Kok bisa hancur berantakan?Memang ada kejadian apa,rin?”Tanya Mama Lia dengan nada sedikit emosi.
“Ceritanya panjang ma,yang jelas ini semua gara-gara Kak Aline dan sekarang dia malah ngilang gitu aja,”jawab Arine dengan nada emosi.
“Astaga,enggak mungkin Aline seperti itu ya udah besok mama akan tanya kakak kamu mama tutup dulu ya soalnya lagi banyak pekerjaan bye,”ujar Mama Lia sambil menutup telefon.
“Eeee ma,jangan ditutup telefonnya ih malah ditutup anaknya lagi sedih bukannya perhatiin malah lebih mentingin pekerjaan sebellllll,”jerit Arine dengan nada cukup keras dan bergegas berjalan masuk ke kamar dengan rasa kesal yang amat dalam.
Dikampus Aline,Raisa dan Fauzan memasukkan Kak Justin ke ruangan tadi.Betapa kagetnya Kak Jennie ia menduga bahwa orang itu adalah Justin.Aline pun membuka karung yang ada di kepala Kak Justin
Akankah Justin dan Jennie menceritakan yang sebenarnya?Atau malah memutar balikkan fakta?
Tunggu terus kelanjutannya❤.
Jangan lupa like dan vote🙏.
Insyallah saya akan up setiap hari senin-sabtu🤗.
__ADS_1