
a little more patient for a little more happines
-sedikit lebih sabar untuk sedikit lebih bahagia-
By. Fatimah aZahra
*
*
*
Adzan berkumandang, mencoba beranjak dari posisi tidur nya, masih enggan untuk beranjak dari pelukan sang suami, tapi panggil Allah itu adalah yang harus di dahulukan.
Tiga Panggilan Allah untuk umat nya, Panggilan Adzan, Panggilan Haji dan Umrah, Panggilan Kematian... Sebelum panggilan terakhir datang, maka jangan lalai akan panggil Allah yang pertama, karna jika panggilan yang ke tiga sudah datang, makan tak akan ada kesempatan lagi untuk memenuhi dua panggil lain nya.
Fatimah menggoyang tangan Alvian untuk membangun kan nya dari tidur siang nya "Biy.... udah Adzan.. buruan wudhu"
kalau ada yang bertanya kok wudhu, kan seharusnya mandi.. mereka udah mandi ya tadi sebelum dilanjutkan tidur siang..ðŸ¤
Alvian mengucek mata nya,.berusaha mengumpulkan nyawa nya secara utuh, lalu beranjak ke kamar mandi dan berwujud.
Kini mereka sudah berdiri di atas sajadah masing-masing, menunaikan sholat Dzuhur berjamaah.
Ternyata Bunda sudah berada di depan pintu, ingin mengetuk tapi ragu, Jujur Bunda sangat khawatir akan yang Bunda lihat tadi, Bunda sangat mengenal sang putra nya, tidak pernah bersikap kasar kepada siapapun, apalagi seorang wanita, dan itu Adalah wanita yang sangat di cintai sang putra, pasti terjadi sesuatu.
Dengan berjuta pemikiran yang menari-nari, Bunda pun memberanikan diri mengetuk pintu.
tok..tok..tok...
"Alvian, Fatimah..." Tak ada jawaban dan Bunda juga sudah mengulangi Panggilan nya.
"Allahuakbar..." Suara takbir terdengar samar oleh Bunda, Ya Alvian menaikkan nada takbir nya,.memberi kode bahwa dia sedang sholat
"Ternyata sedang sholat..." ujar Bunda lirih dengan sedikit senyuman lalu turun ke bawah membantu bibik menyiapkan makan siang
Selesai sholat Fatimah dan Alvian pun turun,. sebenarnya ada yang harus Alvian bahas tapi berhubung perutnya sudah berkicau, Fatimah pun pasti juga lapar.
__ADS_1
"Kita turun dulu, Bunda pasti udah nunggu..."
Fatimah mengangguk, mengenakan hijab nya tapi tidak dengan cadar nya, karna di rumah ini hanya ada Alvian yang laki-laki.sedangkan mamang yang berjaga di depan, sejak Fatimah tinggal di rumah ini, jarang masuk, kecuali ke ruang cuci di belakang ataupun mengambil makanan yang sudah bibik siapkan.
Bunda menatap Alvian dan Fatimah bergantian, seakan meminta penjelasan.
"Bunda kenapa...??"tanya Alvian lembut dengan senyuman manis nya
"Seharusnya Bunda yang tanya, kalian kenapa? kami gak nyakitin putri Bunda ini kan...??"
"Astagfirullah Bunda....seudhzon sama anak..."
"Trus kamu kenapa tadi narik tangan Fatimah kayak gitu...??"
Fatimah memilih diam dan menyendokan nasi ke piring Alvian dan Bunda..
"Cukup sayang..." ujar nya memberi kode kepada Fatimah,bahwa nasi nya sudah cukup
"Bunda kita makan dulu ya, laper..." lanjut nya
Mereka pun akhir nya selesai dengan makan siang,.dan sudah berada di ruangan keluarga.
"Hutang penjelasan..." ujar Bunda
Ternyata sang Bunda masih ingin mendengar penjelasan dari nya..."Huufft..."
"ayo jelasin....."
Alvian pun menjelaskan, tentang Fatimah yang memberi kabar pulang dengan taxi, tapi setelah itu nomernya tidak menjawab panggilan, dan setelah menghubungi rumah, Fatimah belum sampai juga,.dan itu membuat nya khawatir, dan setelah berkelana dan terus menghubungi Fatimah yang tak ada jawaban.
Ternyata Fatimah sedang di masjid dengan handphone yang di silent. Tapi Alvian tidak menceritakan soal Fatimah yang sedih mengenai kabar kehamilan Bunga yang di sembunyikan dari nya..karna Alvian memang belum membahasnya dengan Fatimah secara langsung.
"Astagfirullah Fa... Bunda kira ada apa,.buat Bunda khawatir, apalagi tadi Alvian narik kamu kaya gitu..."
"Gak papa kok Bun,. Fatimah juga yang salah.."
"Lain kali jika ada tujuan lain, berkabar ya"
__ADS_1
Fatimah mengangguk
"Kamu gak balik ke RSH...??"
"Gak Bun...." jawab Alvian sembari fokus dengan handphone nya.
*
*
*
Bunga yang sedang di dalam kamar dengan penuh kecemasan menunggu Hafidz pulang.
cekrek
pintu kamar terbuka... dan Bunga langsung mendekat... Hafidz masuk dengan seuntai senyuman, mencium puncak kepala Bunda dan sekilas mencium perut Bunga yang masih sangat rata.
"Kak Fatimah udah ketemu??" tanya nya dengan wajah khawatir
Hafidz merangkul Bunga dan membawa ke sofa yang ada di kamar, "Udah... gak kemana-mana kok, dia lagi di masjid, dan handphone di silent"
"Alhamdulillah.. Bunga udah khawatir banget mas.."
"Dia gak akan macam-macam, mas tahu banget gimana dia.."
"Kak Fatimah pasti kecewa banget kan.."
"Hei... kenapa jadi sendu gitu sih...??"
"Bunga ngerasa bersalah banget, mau nelfon aja Bunga gak berani.."
"Kecewa pasti, tapi Alvian juga udah bicara sama mas, Fatimah gak Kenapa-kenapa kok, malah dari kejadian ini mereka dan juga kita bisa belajar banyak hal.. ambil hikmah nya"
"besok baru telfon Fatimah, hari ini biarkan aja dulu ya, mas mau mandi dulu" lanjut Hafidz
Bunga menganggukan lalu ikut beranjak, Hafidz menuju kamar mandi dan Bunga menuju almari untuk menyiapkan pakaian sang suami.
__ADS_1