Fatimah Azahra Itu Namanya

Fatimah Azahra Itu Namanya
Pedagang Tarim


__ADS_3

Sepertinya bukan hanya Fatimah yang sedang jalan-jalan pagi dengan perut yang buncit... banyak bumil yang sedang jalan-jalan pagi.


Suasana taman yang asri, menjadi pilihan, dan di tengah taman ada area bermain, seperti perosotan, ayunan, dan banyak lagi sangat mendukung untuk dijadikan tempat weekend bersama keluarga. Dan di sebalah kiri juga sudah berjejer rapi food Truk...dan juga ada lapangan basket, nampak anak-anak sedang melakukan pemanasan, mulai dari team Dewasa sampai anak-anak ada.


"Biy... haus..."


"Biy lupa bawa air mineral Biy beli dulu ya..."


"Sekalian cari sarapan yuk Biy..." ujar Fatimah "Tuh di sana banyak" tunjuk nya


Bumil nya biasa, bawaan nya laper "ya udah yok..."


"Tuh disana...." tunjukkan ke arah Food Truk yang bertulisan "Batagor Khas Bandung"


Alvian menuruti karna jika di larang juga hasil nya percuma kan, selama apa yang dia makan aman untuk sang istri dan si Utun


"mas pesan satu porsi batagor, dan saru porsi siomay tapi banyakan sayur nya ya" pesan Alvian


"air mineral nya Biy..."


"oh ya mas, dua botol air mineral.."


Tak berselang lama makanan pun datang, tak lupa membaca bismillah dan doa makan, agar makanan yang mereka makan berkah.


Saat sedang menikmati makanan, Fatimah melihat seorang anak kecil sedang berdiri menjual koran dan tisu bersama sang adik.


"Biy... lihat dech" tunjuk Fatimah "Beli gih koran dan tisu nya"


Alvian tersenyum, dia sangatlah paham dengan sifat Fatimah yang begitu peka.


"Ya udah Hubbiy ke sana ya" ujar Alvian sambil berlari kecil menuju ke arah anak kecil itu.


"Dek...kakak beli tisunya Donk, tapi kakak mau nya 2 Bungkus 20 ribu..." ujar Alvian pada dua anak kecil itu


Dan apa yang Alvian minta itu sungguh membuat nya terkejut, jelas-jelas sudah terpampang harga 2 bungkus 15 ribu, ini dia minta 2 Bungkus 20 ribu.. kebanyak orang nawar di bawah harga, tapi tidak dengan Alvian


"kok bengong...??"


"tapi kak ini harga nya 2 Bungkus 15 ribu, bukan 20 ribu"

__ADS_1


"kakak mau nya 2 Bungkus 20 ribu, mau gak, kalau gak mau ya udah gak jadi" ujar Alvian dan Segera mengambil ancang-ancang untuk pergi


"ia kak mau kak..." ujar anak tadi


"ok... ini semua ada berapa bungkus??"


"ada 20 bungkus kak..."


"berarti semua 200 ribu ya... kalau koran nya??"


"koran nya 15rb kak..."


"koran nya kakak ambil dua ya"


"jadi semua 230 ribu kak"


Alvian pun membayar dengan uang pas, 230 ribu.


Jika ada yang bertanya, kenapa Alvian malam menaikan harga tisu?? kenapa tidak di bayar lebih saja langsung??


beberapa hari yang lalu saat membahas Tarim, Fatimah menceritakan bagaimana kehidupan di Tarim, bagaimana sistem dagang Orang Tarim.


Subhanallah... pantas Tarim di juluki kota yang di Berkati, bagaimana tidak..


Tapi tidak dengan Tarim... di Tarim pasar adalah tempat mereka beribadah... Alquran tak lepas dari genggaman, Alquran hanya akan mereka letakan di saat ada pelanggan, dan akan kembali dia buka di saat tak ada pelanggan.


Ada atau tidak yang beli, senyum kebahagiaan tetap terpancar.


Bahkan tidak hanya itu, disaat ada sahabat sesama pedagangnya yang belum mendapat pelanggan, sedangkan dia sudah mendapatkan maka dengan senang hati dia mengarahkan sang pelanggan untuk membeli di warung sahabat nya.. mereka berbagi rezeki dengan penuh kebahagiaan.


Di saat ada pelanggan yang di rasa tidak mampu, Tampa sang pelanggan menawar, dengan niat bersedekah dalam hati, dia akan langsung memberikan potongan harga.


Bersedekah dengan cukup dia dan Allah yang tahu.


Begitupun sebaliknya, disaat ada pedagang yang sangat membutuhkan, dengan Tampa diminta sang pembeli mainkan harga, sama hal nya yang Alvian lakukan. Bersedekah dengan hanya Allah dan diri yang tahu.


Begitulah cara berdagang di kota Tarim, saling membahagiakan, dan bahagia melihat teman bahagia, saling berbagi dengan cukup dia dan Allah yang Tahu.


Masyaallah... begitu di berkatinya kota Tarim.Kota yang dikenal dengan ketaatan.

__ADS_1


Dan apa yang Alvian dengar kemarin, mengajarkan nya banyak hal, mulai mempraktekkan nya dari hal yang kecil.


"Bisa bawakan Tisunya kesana" tunjuk Alvian


"Bisa kak..." Dua anak kecil itupun mengikut kemana Alvian melangkah


Tisu di letak di samping kursi,.saat akan pamit pergi Fatimah menahan mereka


"adek-adek udah sarapan??"


Anak kecil yang lebih tua diam, tapi si adik yang menjawab..


"Belum kak..."


"Huusstt..." ujar si Abang sambil membungkuk mulut adik nya "udah kak, tadi udah makan roti" jawab nya


"ya udah gak papa kalau tadi udah... ni kakak mau traktir kalau gitu,.mau ya"


"gak usah kak..nanti saja, hasil jual tisu sudah lebih untuk makan"


"rezeki gak boleh di tolak loh" sambung Alvian


"kalian mau makan apa?? pilih aja, Boleh pilih yang mana aja" ujar Fatimah


"tapi kak..."


"beneran loh... pilih, kalau ada mau Bungkus untuk keluarga di rumah juga boleh"


"ih...bang ayookk.. kapan lagi makan enak" ujar sang adik dengan polong nya


Alvian pun membawa mereka kemana mereka mau,.menuju jajanan yang ingin mereka makan.


Beberapa menu sudah ada di meja mereka, Dan jika tidak habis nanti boleh dibungkus. selesai membayar mereka pun melanjutkan jalan pagi mereka, sedangkan dia anak itu asik menikmati makanannya.


Tisu yang mereka beli di bagian ke para pedagang Food Truk.


Berbagi itu gak harus bernilai besar, tapi jika bisa besar jangan menunda.


Ada dua golongan manusia di dunia ini dalam menyikapi Harta.

__ADS_1


Pertama mereka yang menghabiskan uang untuk urusan dunia


Kedua mereka yang membawa harta hingga ke akhirat, yaitu dengan bersedekah.


__ADS_2