Fatimah Azahra Itu Namanya

Fatimah Azahra Itu Namanya
kamu sudah menikah?


__ADS_3

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Reader...Afwan baru bisa Up, beberapa hari ini Author ada seminar, dan memang gak bisa fokus ke Handphone, Handphone untuk belajar.




hahaha... biasa nya Mampang foto hasil guugling, kali ini Mampang foto sendiri...🙏🙏 real foto author bersama rekan-rekan menimba ilmu, belajar untuk menjadi dokter di rumah sendiri, dan orang di luar sana. ini salah satu kegiatan author beberapa hari ini. menjelang ramadhan.


*


*


*


Fatimah sudah terlelap dalam tidur nya. Alvian yang baru selesai mengecek email pun langsung menuju ranjang dimana sang istri sedang terlelap.


Wajah Fatimah semakin nampak cantik dan mempesona saat sedang terlelap, terukir senyum tipis di bibir nya yang tipis. Alvian meraih rambut panjang yang menutup sebagian wajah nya, lalu membawa nya ke belakang telinga.


Alvian membe-lai lembut wajah Fatimah, seakan tak puas jika hanya di pandang saja.


"Wajah ini, aku gak tahu apa jadi nya jika tak dia tutupi,.akan banyak laki-laki yang mengejar nya"


"Terimakasih sayang, sudah menjaga semua ini" batin Alvian masih dengan membe-lai lembut wajah putih berseri sang istri, dan tak lupa di ke-cup nya sekolah bibir itu, lalu membaringkan tubuhnya tepat di samping sang istri.


Beberapa hari berlalu Alvian tak mengizinkan Fatimah untuk ke butik, Fatimah yang masih enggan berbicara mengenai rasa sakit di kepala nya memilih menurut. Rasa sakit di kepala mulai membaik, karna Alvian memang sempat konsultasi dengan Dr. Hendro dan meresepkan obat, bentuk obat tidak sama dengan yang sebelumnya, karna menurut Dr. Hendro keadaan Fatimah sudah cukup membaik. mungkin ada Faktor stress.


Alvian meminta Fatimah istirahat dan rutin untuk mengkonsumsi obat dari Dr. Hendro dimana Fatimah yang tahu nya itu adalah Vitamin.


Hari ini adalah hari keberangkatan Alvian ke Jakarta, awalnya Alvian memilih untuk tidak pergi, meminta Abi dan Hafidz saja yang pergi bersama beberapa Dokter lain nya. Tapi Undangan itu di tujukan untuk Dirut RSH walau masih atas nama Abi.


Abi meyakinkan Alvian, dialah Dirut RSH, dan Fatimah aman bersama Abi dan yang lain.. Akhirnya Alvian pun menurut.


Alvian dan Dokter lain sudah berada di Jakarta. dan hari ini ada seminar, besok baru di lanjutkan dengan acara penghargaan untuk Dokter dan rumah sakit yang berprestasi.


Alvian sedang berada di salah satu cafe yang terletak di hotel. Hafidz yang lain masih Otw menuju cafe, Alvian memilih memesan Latte panas tapi tetap brown sugar pasti nya.


"Hei...Alvian..." sapa seorang Dokter perempuan dengan sangat ramah, seorang dokter dengan wajah cantik, dengan rambut yang di ikat kuda.


Alvian melihat sumber suara yang memanggil nama nya, di kerutkan nya ke dua mata seakan sedang mengingat-ingat siapa sosok yang ada di depan nya ini.


"Lupa..??"


Alvian masih terdiam

__ADS_1


"Singapore" ujar nya lagi memberi kisi-kisi


"Astagfirullah.. Aurel.."


"Yes... How Are you??"


"Alhamdulillah... I'm Fine, and You"


"Seperti yang you lihat Alvian"


"Disini juga??" Tanya Alvian kepada wanita yang bernama Aurel itu, Aurel adalah seorang dokter lulusan Singapura, dan kebetulan juga peserta pelatihan di Singapura, mereka saling mengenal di sana.


"gak di tawarkan nich"


Alvian tak memberi jawaban dia malah menoleh ke kanan dan kiri mencari rekan-rekan nya,.karna dia merasa tidak nyaman duduk berdua dengan seorang wanita.


"Alvian... Boleh saya duduk, atau kamu sedang menunggu seseorang??"


"rekan-rekan saya, sedang otw"


Dengan berat hati Alvian pun mempersilahkan Aurel untuk duduk.


"Kami banyak berubah ya, padahal baru satu tahun lalu"


Alvian mengeluarkan handphone yang ada di saku celana nya, lalu menelfon seseorang


"Lo dimana??"


"gue lagi di lobby, yang lain sudah otw kok, mungkin gak nampak kali sama Lo" jawab seseorang dari balik telfon


"buruan...."


"Sabar lah pak.. lagi ada yang saya urus ini pak Dirut"


Alvian pun menutup panggilan telepon nya.


"Al... soal yang pernah aku utarakan gimana??"


"hmm... saya duluan, mau jemput teman" Alvian memilih beranjak tapi tiba-tiba tangan nya di raih oleh Aurel. dan Alvian dengan cepat menepis tangan itu. dan tanpa Alvian sadari kejadian itu di lihat oleh seseoran.


"Aurel.. tolong jaga sikap kamu, kita bukan mahram, dan pertanyaan kamu itu sudah saya jawab sebelum nya, dan Satu lagi..." belum selesai Alvian dengan kata-kata nya, ada yang memanggil nya, dan panggilan itu hanya satu orang yang akan memanggil seperti itu.


"Hubbiy...." Alvian langsung menoleh dan ada rasa kerkejut tapi bibir nya tersenyum sumringah.

__ADS_1


Alvian berjalan mendekati seseorang yang memanggil nya itu, ya siapa lagi kalau bukan Fatimah.


"Sayang kok bisa disini??" tanya Alvian sembari menggenggam tangan Fatimah, Fatimah tak menjawab malah Hanya melihat sekilas lalu melihat ke arah wanita yang tadi meraih tangan suami nya.


Alvian paham akan apa yang sedang terbesit dalam pikiran sang istri.


Alvian merangkul pinggang Fatimah lalu mengajak nya mendekat ke Aurel.


"Aurel.... perkenalkan ini Fatimah Azahra Isti saya??"


Aurel langsung membuka mata nya lebar dan tak percaya


"Oh ya sayang.. kenalan ini Aurat, salah satu peserta pelatihan di Singapura??" Ujar Alvian dengan senyum lebar nya.. dan dengan tatapan teduh nya.


"Istri...??? kamu sudah nikah??"


"Alhamdulillah.. tak lama setelah kembali dari Singapura"


Alvian seakan tak menghiraukan mata-mata yang melihat mereka, Alvian malah mengelus puncak kepala Fatimah yang terbalik hijab nya.


"Kok bisa disini...?? sama siapa??"


Fatimah tersenyum di balik cadar dan Alvian bisa melihat itu..


"Tuh...." tunjuk Fatimah


Ternyata ada Abi dan keluarga besar yang sedang berjalan mendekati mereka.


Alvian mencium tangan kedua orang mertua dan juga Bunda..ada pertanyaan besar.


"Nanti di ceritain, Kita ke kamar aja dulu, Fatimah sudah lelah" ujar Umma


"ya udah kita kemar ya..."


"Gue udah pesan ulang kamar untuk kit semua" Ujar Hafidz Sabil memberi card kamar hotel


"oh... jadi ini kenapa Lo tadi di lobby..."


"hehehe.. kira-kira begitulah..."


Mereka pun berlalu pergi meninggalkan cafe, bahkan Alvian tak ingat untuk mengucapkan salam kepada Aurel. Dan Aurel hanya menjadi penonton keromantisan Alvian dan Fatimah.


Sebenarnya Fatimah risih di peluk di hadapan banyak orang, tapi Alvian tak memperdulikan seakan ingin memberi tahu, aku sudah menikah dan ini istri ku..

__ADS_1


__ADS_2