Fatimah Azahra Itu Namanya

Fatimah Azahra Itu Namanya
Aku Siap apapun resiko nya


__ADS_3

"Al.. kami ganti baju kamu dulu"


"Gak Bun, Al mau nunggu disini"


"Al.. benar kata Bunda, kamu bersihkan dulu tubuh mu, setelah itu mu bisa kembali kesini" tutur Hafidz


Alvian pun akhir nya menurut.


Alvian membersihkan diri, dipakai nya kemeja yang memang tersedia di ruangan nya..


Dua jam berlalu operasi Fatimah,.Semua yang ada di ruang tunggu menanti dokter keluar dengan harap Harap cemas.


Lampu ruang operasi masih berwarna merah.


Umma yang tadi nya sempat harus istirahat karna baru selesai mendonorkan 2 kantung darah untuk anak nya, kini pun sudah berada di depan ruang operasi


Tak lama kemudian Lampu mati.


melihat lampu itu mati, Semua berkumpul di depan pintu


Clek...


Pintu terbuka, dan dokter Hendro pun keluar


"Bagaimana operasinya dok??" tanya Abi


"Operasi sudah lakukan, terjadi pendarahan di dalam otak.."


"Bagaimana hasil nya dok..??" tanya Umma


"Kami sudah melakukan semampu yang kami bisa. hasil tetaplah Allah maha menentukan"


"trus kondisi anak kami bagaimana??" tanya Umma lagi dengan suara serak di karna tak henti menangis


"Untuk saat ini kami belum bisa menyimpulkan nya.."


"Dokter Aditya untuk lebih jelas bisa ke ruangan saya...pasien akan di bawaku ruang ICU" tambah dokter Hendro


"Bi... Al ikut"


Abi mengangguk kepala tanda setuju


Di ruang dokter Hendro sudah ada Abi, Umma dan Alvian


"Bagaimana Dok??"


Dokter Hendro menampilkan hasil ronsen


"Seperti yang dokter lihat, kepala Fatimah mengalami Fraktur, keretakan pada tulang otak dan ada pendaran di otak nya"


"Kemungkinan yang akan terjadi" tanya Alvian to the point


"Kemungkinan untuk sadar sangat kecil"


"Ngak Bi... Fatimah gak boleh kenapa2... huhuhu" tangis Umma


"berapa besar kemungkinan untuk sadar??" tanya Abi


"Kami tak bisa memprediksi, hanya pertolongan Allah lah yg bisa menjawab..."

__ADS_1


Umma semakin menjadi tangisan nya, di tenggelam kan nya kepada Umma ke dada Abi.


Sedangkan Alvian masih membeku


"Jika Fatimah sadar..."


"kenapa jika Fatimah sadar" tanya Alvian memotong dokter Hendro


"banyak kemungkinan yang akan terjadi, Amnesia,Lumpuh..itu sangat mungkin akan terjadi.. karna Sistem syaraf manusia ada pada Otak nya...Jika Syaraf rusak... sebagai sesama dokter, Dokter Aditya dan Dokter Alvian pasti sudah tau apa akibat nya"


"Sekarang Fatimah sangat membutuhkan doa kalian semua" tutup dokter Hendro


🌟


Di tatap nya Fatimah dari balik kaca luar ICU, seakan ingin menggapai tapi tak mampu.


Abi dan Umma serta yang lain bergantian melihat Kondisi Fatimah. tapi tidak dengan Alvian


Dia masih terpaku melihat dia yang ingin di jaganya,. dia wanita yang akan jadikan teman hidup hingga ke surga, tapi apa yang terjadi, baru saja dia akan memberi kabar bahwa pernikahan mereka akan segera di laksanakan, tapi qadarullah.. Allah menguji mereka.


Fatimah terbaring tak berdaya, begitu banyak alat medis di tubuh nya.


ingin memeluk tapi tak kuasa, tak memiliki hak untuk itu.


"Al...kamu gak masuk??" tanya Abi


Alvian hanya, menggeleng.


"Abi tau...?? tadi Al ingin menemui Fatimah untuk memberi tahu, empat hari lagi, kami bisa ijab kabul...😭"


"Sudah di tetapkan??"


"Dan Saat ini Al tidak berdaya Bi.. Al tidak memiliki kuasa untuk berada di sisi nya..."


"Jika Al masuk... maka Al tidak akan bisa menahan diri"


Alvian teringat saat ia berkali kali mencium kepala Fatimah


"Al... kamu tahu.. Abi pernah berada di posisi ini, Melihat orang yang Abi cintai tidak berdaya.."


mendengar kata kata Abi barusan Alvian langsung melihat Abi.


"Kamu mau dengar cerita nya? duduklah.."


Alvian pun duduk di samping Abi


"Umma pernah di tembak,. dan peluru itu hampir mengenai Jantung Umma.."


Alvian yang mendengar itu pun langsung kaget


"Lalu apa yang terjadi Bi...??"


"melihat orang yang kita cinta terluka saja sudah sakit rasa nya, tapi di hari itu Abi bukan hanya melihatnya terluka, melihat tak berdaya, melainkan Abi lah yang harus berjuang menyelamatkan Umma.. Saat itu hanya Abi dokter spesialis jantung di RSH, ada Rakan Abi, tapi dia pun masih baru"


"Kamu tau Al bagaimana sakit nya??"


Alvian hanya geleng-geleng


"Abi yang harus menyayat tubuh Umma. Perih.. seakan tubuh ini yg di sayat sayat, lalu kembali menjahit nya.."

__ADS_1


"Dan bukan hanya nyawa Umma yang sedang Abi perjuangankan, tapi ada nyawa Arafah kecil, bahkan masih berbentuk segumpal darah... ingin kabur rasa nya..gak sanggup... tapi kalau Abi menyerah, lalu bagaimana dengan Umma, dengan Arafah kecil...??"


"Arafah adalah taruhan nya, Umma kehilangan banyak darah.. Obat yang di pakai harus mencari yang aman untuk ibu dan bayi kecil itu"


"Sakit... perih.. tidak bisa di ungkapkan kan...Hanya Allah tempat Abi bermunajat, Air mata tak berhenti menetes di semua perjuangan Abi"


"Bibir ini tak berhenti melafalkan nama Allah..Abi yang mengoyak tubuh Umma, untuk mengeluarkan peluru itu"


"Gemetar memegang alat medis, tapi Abi harus kuat, salah sedikit saja, kamu sebagai ahli bedah, pasti tahu akibat nya"


"Al tidak sekuat Abi..." ucap Alvian


"Saat ini hanya Allah Al ... hanya Allah kekuatan kita.. meminta pada nya memohon pada nya" kali ini Umma yang bersuara


Alvian menunjukan surat jadwal dimana dirinya dan Fatimah akan ijab kabul Kepada Abi dan Umma


"Bi...."


"ia Al..."


"Al tidak ingin menunda ijab kabul ini"


"Maksud kamu??"


"Al ingin ijab kabul itu tetap di laksanakan"


"Tapi Al.. Fatimah.." Bunda bersuara


"Bismillah.. Al siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.. jika memang Kemungkinan terburuk Fatimah harus meninggalkan Al.. Al ingin ia meninggal dalam status istri dari Alvian.. huuuffttt....."


"Al siap... jika Allah belum memberi Al izin bersama nya di dunia ini, setidaknya Al berjuang agar Al bisa bersama nya di Akhirat nanti"


"Al.... kamu yakin??" tanya Umma


"yakin Umma..."


"Lalu bagaimana dengan kemungkinan ke dua jika ia sadar tapi....." Umma tak sanggup melanjutkan kata katanya.. Umma terisak


"Al siap... sekalipun Al harus merawatnya seumur hidup .. sekalipun dia tidak mengenal Al....Al akan memperkenalkan diri Al perlahan" air mata itu menetes


"Al..." Panggi Bunda


"Bun.. tolong restui Al.. restui keputusan Al..."


"Bun.. Al tidak akan bisa masuk, jika Al belum menjadi suami nya.. Jika saat ini Al memaksa masuk....Al tidak yakin bisa menahan diri"


"Bun... Al ingin di samping nya, dengan Halal, tidak menimbulkan dosa... Fatimah begitu menjaga diri nya... Al tidak ingin merusak itu.."


"Al mohon, Bunda, Abi, Umma... restui niat Alvian ini... Al sudah ikhlas dengan segala kemungkinan terburuk"


"Al...." peluk bunda


"Al mohon..." sembari bersimpuh di depan bunda, Abi dan Umma


Hafidz memeluk Alvian dengan begitu erat, tak ada kata yang terucap


🌟🌟🌟🌟🌟


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Like Vote dan komen

__ADS_1


Jazaakumullah khairon ❤️


__ADS_2