
*Alvian
Alvian melajukan mobil nya, terus mencoba menghubungi Fatimah, tetap belum ada jawaban. Alvian menghubungi orang rumah tapi Fatimah belum juga sampai. Akhirnya Alvian memutuskan untuk ke butik.
Sesampainya di butik langsung menghampiri India dan Bunga, Mereka juga gak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Karena memang mereka gak tahu bila Fatimah ada di butik, Laras lah yang melihat expresi Fatimah saat akan keluar dari Butik.
"Bu Fatimah gak pernah ninggalin Butik tanpa salam dan pesan. Pasti ada pesan walau hanya sekedar bilang, titip butik, ini Bu Fatimah diam aja pas Laras tanya" Laras mencoba menceritakan apa yang terjadi tadi
"bener kak, Fatimah gak pernah seperti itu jika keluar dari Butik" indah bersuara
"Astagfirullah... saya udah coba hubungi tapi gak ada jawaban, dia cuma chat kalau sudah pulang naik taxi"
"Indah biasa Fatimah kemana kalau lagi galau??"
"Fatimah bukan cewek yang suka nongkrong kak kalau lagi ada masalah, apalagi sendirian"
"gak ada tempat khusus"
Indah menggeleng
Alvian pun pamit untuk pergi. Otak nya seakan buntu, memarkirkan mobil nya di tepi jalan, memijat pangkal hidung nya, sesekali memukul setir. Tapi tiba-tiba Alvian teringat, Saat pertama kali Fatimah kecewa dengan nya dan menceritakan tentang kisah cinta Fatimah Dan Ali...
"Masjid..." gumanya
"iya masjid" gumanya lagi
Alvian pun mencari masjid yang menuju arah pulang. Dan tak butuh waktu lama Alvian menemukan masjid. Mencari sendal yang tadi Fatimah pakai.
Senyuman terukir, lalu mengelus dada nya. lalu beranjak menuju tempat wudhu. selesai Wudhu mencoba mencari. Benar saja wanita nya ada di dalam masjid ini, ingin berlari lalu memeluknya, tapi langkah itu ia hentikan.
Fatimah sedang menggendong bayi kecil, yang berusia sekitar 3 bulan. nampak pancaran kebahagiaan dari wajah nya. Alvian mencari tempat duduk untuk menunggu, karna nampak Fatimah sedang asik mengobrol.
Obrolan itu jelas terdengar, melihat wanita nya meneteskan air mata, ingin dia segera menghapus nya. tapi Alvian memilih duduk membelakangi Fatimah, air mata nya pun Tampa di undang ikut menetes.
*
"Masyaallah.. Ateng ya sudah nyusu nya.." ujar Fatimah
"Mbak mau gendong lagi...??"
"Tidur katanya kak... biar aja, nanti malah ganggu Dzaky tidur, tampah ngegemesi pas tidur"
"Kak.. makasih ya untuk berbagi pengalaman nya..."
__ADS_1
Wanita itu meletakkan Dzaky di atas sajadah, lalu merangkul Fatimah..
"Allah punya banyak cara memberikan kita kenikmatan, salah satu nya ujian"
"Jazaakillah Khairan kak..."
"Kadang kita memang harus berlari, jika lelah berlari maka berjalan lah, jika lelah berjalan maka merangkak lah... yang terpenting jangan pernah berhenti" pesan Wanita itu
Fatimah mengangguk, wajah sendu kini telah kembali bersinar.
"Sayang...." suara yang sangat Fatimah kenal...menoleh ke sumber suara
"Hubbiy..." dengan mengerutkan alis nya "kok bisa disini??" tanya nya heran
Tak menjawab, Alvian malah memberi salah ke wanita yang ada di depan Fatimah dengan menangkup kan kedua tangannya. lalu tersenyum melihat bayi kecil yang sedang terlelap, baru menoleh ke Fatimah dengan sorotan mata yang cukup menusuk.
Fatimah berusaha mengalihkan pandangannya, jantung nya berdetak kencang karna tatapan sang suami
"kak.. ini suami saya..."
"Sudah di jemput, ya sudah kalau kita... mbak..." mau menyebut nama Fatimah tapi tidak tahu, Sepanjangan obrolan mereka belum sempat bertukar nama
"Fatimah..." ucap Fatimah seakan tahu apa yang sedang wanita ini fikirkan
"oh ya mbak Fatimah, kita belum sempat kenalan ya... saya Wati"
"Ya sudah Fatimah, saya pamit dulu ya, kapan ada waktu mampir, rumah saya di sebrang sana, toko buku"
"In Syaa Allah nanti saya akan mampir kak"
"Kalau gitu saya permisi ya, Assalamualaikum.."
"Waallaikumusallam" jawab Fatimah dan Alvian kompak
Kini tinggal mereka berdua, Alvian duduk di depan Fatimah dengan tangan menyilang di dada.
Fatimah malah tertunduk dengan memainkan ujung jilbabnya.
"Handphone nya mana??"
"Ada..." masih dengan tertunduk
"Lihat Hubbiy..."
__ADS_1
memberanikan diri melihat sang suami..
"Mana HP nya, coba lihat..."
Fatimah mencari handphone yang ada di dalam tas nya, lalu memberikan ke Alvian.
"kok dikasih ke Hubbiy?? Hubbiy bilang lihat HP nya, buka..."
Fatimah pun membuka layar kunci di handphone nya dan betapa kaget nya dia, Ada 57 telfon yang tak terjawab, 22 chat belum di baca, ada dari sang suami, hafidz, bunga dan juga Indah.
"Kenapa..???"
"Tadi bilang nya pulang kan naik taxi, trus kenapa disini...??" tanya Alvian masih dengan mode datar nya. baru kali ini melihat sang suami menatap dan bertanya dengan nya dengan sangat datar bahkan bisa di bilang sangat ketus.
"kita udah janji kan akan saling jujur??"
"Afwan Biy....tadi memang mau pulang, dalam perjalanan pulang tiba-tiba pengen mampir ke masjid, trus Handphone Fa silent..." jawab nya tertunduk
"Pakai cadar nya, ayo pulang" ujar Alvian dengan masih mode datar. Fatimah pun menurut..selepas memakai sepatu cat nya, langsung menuju mobil Alvian.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil Alvian lebih memilih diam. Fatimah sesekali melihat sang suami, tapi Alvian masih memang wajah datar nya terkesan sedang marah. dan itu membuat Fatimah memalingkan wajah nya menatap ke kaca.
Sampai dirumah, Alvian langsung menarik tangan Fatimah menuju kamar. Bunda yang melihat pun terheran-heran, ingin memanggil tapi di urungkan nya.
Alvian dan Fatimah sudah berada di kamar, Fatimah tertunduk, baru kali ini melihat raut wajah marah sang suami, air mata nya menetes,. dada nya sesak.
Alvian membuka cadar Fatimah, tanpa aba-aba Alvian langsung memeluk erat tubuh ramping sang istri.. seakan takut dia akan pergi dan tak kembali.
#udah seperti lirik lagu aja ya🙄
Tangis Fatimah terhenti, yang ada rasa heran dengan apa yang sang suami nya lakukan, bukan marah, membentak, tapi malah pelukan yang dia dapatkan.
cukup lama..
"Biy... sesak..." ucap Fatimah
Alvian tersenyum di balik tubuh Fatimah, lalu merenggangkan pelukannya, kini Alvian malah menghujani wajah Fatimah dengan Ciu-man, mulai dari kening, mata, hidung, pipi.
"Lain kali jangan seperi ini, kamu tahu gimana Hubbiy khawatir, bingung nyariin istri Hubbiy ini??"
"Hubbiy hubungi gak ada jawaban..."
Fatimah bukan menjawab, Fatimah malah menatap wajah sang suami dengan lekat, ada air mata yang di tahan agar tidak turun di mata sang suami.
__ADS_1
Tiba-tiba Fatimah malah merangkul kan tangan nya di leher Alvian, sedikit berjinji lalu menci-um singkat bibir Alvian yang masih dengan ocehan-ocehan nya. entah keberanian dari mana, tapi mungkin itu cara agar Alvian suami tercinta itu terdiam.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Fatimah,. Alvian bukan melepas pelukan, Alvian malah menggendong Fatimah menuju ranjang.. dan mereka pun menyalurkan hasrat dan cinta mereka.