
Mereka sekarang sudah berada di kamar Abi. Abi memberi tahu jika semua memang di luar rencana.
"Pihak panita Penyelenggara meminta Abi dan keluarga untuk tetap datang. karna Abi diminta untuk memberi motivasi, semua serba mendadak, bahkan Abi nelfon Hafidz saat kami semua sudah dalam perjalanan menuju hotel"
"Kok bisa Al gak di kabarin??"
"Tu tanya sama istri kamu" Bunda yang bersuara
Fatimah menghadiahi senyuman manja untuk Alvian dan itu membuat Alvian mencubit hidung sang Fatimah.
"Nakal ya..."
"Nakal sama suami boleh kan sesekali..??"
"boleh sesekali, tapi juga harus ingat kesehatan"
"Fa sehat kok,. Alhamdulillah, vitamin yang Hubbiy kasih manjur"
"Fatimah.... Fatimah... Alvian itu Dokter, kamu mana bisa bohong" oceh Hafidz
"Maksud nya??"
"Hmmm.... tanya aja sama orang nya langsung, oh ya semua, gue mau honeymoon dulu ya sama my wife...hehehe" ujar Hafidz lalu membawa Bunga menuju kamar mereka dengan menggandeng tangan Bunga.
"Penganten baru lengket ya" ledek Alvian
"Kejar target bos....hahaha"
Dan jawaban Hafidz membuat nya mendapat bogeman dari Bunga
"canda sayang... tapi kan halal... ya kan Al??" oceh nya lagi dan kali ini dengan merangkul Bunga
Mereka pun langsung menuju kamar, dimana letak kamar itu pas di sebelah kamar Abi.. sedangkan kamar Alvian ada di depan mereka.
"Maksud kak Hafidz apa tadi??" tanya Fatimah kepada sang suami
"Nak... Alvian suami kamu loh, dokter lagi, dia bisa membedakan pusing karena bangun tidur, atau pusing lain, apalagi kamu punya riwayat yang memang bisa memicu itu semua" Umma yang menjawab
Alvian memilih diam, memasang wajah datang.
"Kami semua tahu kok, makanya Alvian enggan meninggalkan kamu" ujar Abi
"Abi, Umma, Bunda.. Al ke kamar dulu ya" pamit nya "masih mau disini atau ke kamar??" tanya Alvian
Dan ucapan Alvian barusan membuat raut wajah Fatimah sendu, Fatimah langsung memakai cadar nya, dan mengikuti arah Alvian melangkah. Umma mengangguk kan kepala. Bunda pun tak lama kemudian menuju kamar nya.
__ADS_1
Sebenarnya Abi juga mengajak Arafah, tapi Fatin ada kajian di luar kota, dan itu membuat Arafah tidak bisa meninggalkan pondok.
Alvian membuka pintu kamar dengan card yang tadi di berikan Hafidz. ternyata barang-barang nya pun sudah di pindahkan oleh petugas hotel.
"Hubbiy mandi dulu ya" ujar Alvian datang
"Tunggu..." sambil menarik tangan Alvian lalu di gerakkan ke kiri dan ke kanan, seperti ayunan.
"Afwan...." ucap nya sendu dengan kepala tertunduk.
"Untuk apa??" masih dengan nada datar
"Fa gak jujur... Fa gak berani bilang kalau kepala Fa sakit, Fa cuma gak mau Hubbiy khawatir dan membatalkan untuk ke Jakarta"
"tapi kenyataannya...??"
"Biy... Fa gak ada maksud Buruk..."
"tapi ketidak kejujuran Mu bisa membawa petaka..."
Kali ini Fatimah malah merangkul Alvian, air mata nya menetes, dan membasahi kemeja Alvian, Alvian menyadari itu semua. Alvian tidak marah, hanya ingin memberikan efek jera kepada sang istri, agar jangan ada yang disembunyikan. apalagi kesehatan Fatimah masih dalam proses bertahap.
Alvian mengangkat dagu Fatimah tanpa melepas pelukan Fatimah. Dihapus nya air mata yang mengalir di pipi putih dan chubby itu.
Alvian mengukir senyuman lalu di ke-cup nya kening Fatimah, cukup lama dalam posisi itu
"Coba lihat, apa ada tampang marah..??" tanya Alvian dengan sedikit senyuman dan sembari menaik-naikan ke dua alis nya
ekspresi wajah yang sang suami tunjuk membuat Fatimah memanyunkan bibirnya.
"Lain kali jangan di ulang ya, ingat apapun itu, beritahu, bicarakan, apalagi kesehatan istri tersayang nya Alvian Dharmawan ini adalah prioritas untuk kak Al..."
Tak ada jawaban, Fatimah hanya mengangguk kepada dan malah semakin mempererat pelukan nya.
"Gak pegel berdiri terus...??" tanya Alvian
Fatimah menjawab dengan gelengan kepala.
"Mandi yuk..." ajak Alvian
mendengar ajakan sang suami, Fatimah merenggangkan pelukannya nya.
"Berdua...??"
"jadi.. ya berdua lah,nanti klo di perut ini sudah ada calon baby, baru bertiga" goda Alvian
__ADS_1
"iiih...." sambil mencubit perut Alvian dengan gemas. Bukan gumanan sakit yang Alvian keluarga, Alvian malam membopong Fatimah menuju kamar mandi.
"Mandi berdua kan sunah..." ucap Alvian
Dikamar Hafidz dan Bunga, nampak pemandangan pengantin baru yang juga tak mau saling lepas. berdiri di depan jendela hotel, melihat pemandangan di luar dengan posisi Hafidz memeluk Bunga dari belakang.
"Mas... kira-kira mas Al bakal marah gak ya sama kak Fatimah..??"
"Gak usah bahas mereka, mas yakin mereka sekarang paling saling rayu... mendingan kita buat momen kita sendiri"
"dasar me-sum..."
"kok me-sum sih...?? halal loh... me-sum itu kalau sama istri orang atau sama anak gadis orang yang bukan mahram"
"dari pada bahas mereka, kita bahas rencana mau punya anak berapa?? Tambah Hafidz
"iih..."
"loh kenapa...?? emang belum mau??"
"mau sih...hehehe"jawab Bunga sambil terkekeh
"kita buat kesebelasan gimana?"
"dikira Bunga pabrik anak apa?"
"hahaha... kalau dikasih kan gak papa, biar rame.. gak enak kalau cuma sendiri....kaya mas, jadi anak tunggal kalau mau berantem harus ke rumah Abi..hehehe"
"ya gak kesebelasan juga kali mas..."
"ya udah keduabelasan aja...hahaha"
"satu aja belum, udah mau dua belas aja" oceh Bunga
"ya udah sekarang kita proses yang pertama dulu, biar nanti dua tahun lagi yang ke dua..."
"Huuffttt..." Bunga menghembuskan nafas nya dan Hafidz malah terkekeh
Selesai sholat Isya mereka semua pun turun ke restoran hotel, untuk makan malam.. tapi Abi tiba-tiba punya ide untuk makan di luar.
"Mumpung disini, kita jalan-jalan sambil cari makan di luar, gimana...??"
"wah ide bagus tu Bi..." jawab Hafidz dengan penuh semangat
Mereka pun menyewa mobil hotel, memilih menikmati suasana kota metropolitan.
__ADS_1