
Flashback On
Azzam dan Almeera sudah berusia 3 tahun, masa mereka aktifitas nya, bahkan mereka sering ikut ke RSH menemani sang Abi. Bermain di Ruang bermain anak yang memang tersedia di RSH. Dan Allah memberikan Kepercayaan untuk Alvian dan Fatimah kembali, kini usia kandungan Fatimah sudah 7 bulan.
Indah sudah tidak bekerja di butik, indah ikut dengan Rendy karna sang suami pindah tugas ke Malang, kota Asal Rendy. Sibuk sudah pasti, di tambah menyerahkan urusan Butik ke pekerja baru tidaklah mudah. Bunga pun sibuk dengan putri kecil nya.
Malam pun datang, rasa lelah menghampiri, Fatimah merangkap semua nya, dari mengurus baby twins, Butik ditambah Kondisi yang sedang mengandung..ada rasa cemas di hati Alvian, tapi Fatimah berulang kali meyakinkan nya di baik-baik saja.
"Kenapa...??" tanya Alvian yang nampak Fatimah sedang mengelus pinggang nya
"pegel... Biasa Biy.. kalau sudah mulai membesar...hehehe"
"Sini Hubbiy pijat.." Fatimah pun mengambil posisi miring ke kanan, dan Alvian memijat ringan pada bagian pinggang hingga punggung.. memberikan rasa rileks.
"besok istirahat di rumah ya, jangan ke butik"
"Iya Biy... " Fatimah patuh
Merasakan rileks dengan pijatan sang suami, membuat nya terlelap. dan Alvian pun ikut terlelap setelah memeriksa baby twins apakan sudah tidur.
Seperti biasa, rutinitas subuh Mereka jalani, lalu berjalan santai di taman samping rumah. Bunda masak di bantu Bibik,
"sayang Azzam dan Almeera bangun tuch" Panggi Fatimah
"iya Biy..." Fatimah naik ke atas untuk menghampiri baby twins nya, memang pengasuh yang membantu, tapi saat bangun akan menangis apalagi tidak melihat sosok sang Umma.
"Sholeh Sholeha Umma udah bangun..." ujar Fatimah sambil duduk di tepi ranjang twins "mandi yuk sama mbak ya"
"Ndak... au andi ama Um ma..."(enggak, mau mandi sama Umma) ujar Almeera dengan logat nya yang masih belepotan saat bicara
"iya... zam uja" (iya Azzam juga)
"jadi mau mandi sama Umma.. ok"
"mbak bantu buka baju twins ya" pinta Fatimah
Setelah pakaian mereka di buka, mereka pun menuju kamar mandi, Fatimah di bantu dengan Mbak Ani, karna twins sangat aktif, dengan perut besarnya, membatasi gerak nya. Acara mandi pun selesai, walaupun sang Umma harus ikut basah, twins di gendong oleh Mbak Ani menuju kamar. Fatimah pun menyusul, tapi tiba-tiba
Brak...
"Au...." teriak Fatimah kesakitan, ia terpeleset, sepertinya tadi twins menumpahkan sabun
Mbak Ani yang mendengar langsung lari ke kamar mandi,
"astagfirullah Bu..."
"mbak.. tolong mbak, sakit..." sambil memegang perut bagian bawah nya
"saya panggil bapak dulu buk..." mbak Ani pun berlari keluar kamar...
__ADS_1
"Pak..Pak...Ibu pak..."teriak mbak Ani
Alvian yang mendengar, meletakkan kopi nya yang baru akan dia minum... segera berlalu menuju tangga
"Ibu kenapa???"
"Ibu jatuh pak..."
"Astagfirullah... " Alvian langsung menuju kamar mandi, dan Fatimah sudah terkulai Lemas, darah nampak mengalir dari sela kakinnya.
"Biy... sakit" air mata nya mengalir menahan rasa sakit.
Tak ada sepatah katapun keluar, Alvian dengan cepat membopong Fatimah,. Fatimah mencengkram pundak Alvian. Alvian bergegas menuju mobil.
"Mang mobil...mang" teriak Alvian
Bunda yang kaget dengan teriakan Alvian pun berlalu mendekat.
"Astagfirullah... Fa kenapa Al...??"
"Bun buruan masuk, kita harus segera ke RSH" bukan jawaban, tapi Alvian malah meminta bunda untuk masuk ke mobil. Alvian dengan cepat melajukan mobil nya.
Mata melihat Fatimah dari spion mobil, keringat dingin mulai mengalir. tak ada kata yang mampu dia ucapkan, fokus nya bisa segera sampai di RSH.
20 menit menempuh perjalanan ke RSH, sesampainya di RSH, Alvian langsung membawa Fatimah ke ruang persalinan. meminta Dr. Melani segera menangani, karna ini darurat.
"Kenapa Dengan Bu Fatimah??" tanya Dr. Melani saat melihat pendarahan yang Fatimah alami.
Alvian pun menunggu di luar, Bunda sudah menghubungi Umma Kianara.
Dr. Melani keluar dari ruangan "Dok.. harus segera di lakukan persalinan"
"tapi dok.. masih 7 bulan??" tanya Alvian
"pendarahan sangat kuat dok, kan berbahaya untuk ibu dan bayi nya.."
"Astagfirullah ya Allah..." mengusap wajah nya kasar "jika itu yang terbaik dok, Bismillah" ujar Alvian sendu, ke khawatiran tidak bisa di sembunyikan , Bunda berusaha menguatkan Alvian
Alvian pun menemani Fatimah menjalani operasi nya. Umma dan Abi juga sudah ada Di RSH. menunggu dengan cemas, air mata dua ibu itu mengalir, saling memeluk memberikan kekuatan.
Alvian tak henti berdzikir di samping telinga Fatimah, Kurang lebih 50 menit berlalu, seorang putri kecil, cantik dan dengan kulit yang masih merah..tak ada tangisan keluar.
Alvian menatap nanar pada sang putri kecil nya saat ini sedang di bersihkan. air mata tak bisa dia bendung.
"Dok.. kenapa dia gak nangis??"
"Dok.. paru-paru dan jantung nya belum sempurna, masih sangat lemah, kita berdoa yang terbaik ya" ujar Dr.melani berusaha menguatkan
Setelah selesai di bersihkan, putih kecil itupun di masukan ke inkubator, dengan alat medis yang melekat pada tubuh nya, sedangkan Fatimah masih belum sadar, karna pendarahan yang dia alami.
__ADS_1
Fatimah di tangani Bunda dan Umma di ruang rawat, sedangkan Alvian dan Abi melihat putri kecil nya dari balik kaca di Ruang NICU. Tak lama kemudian Dr. Melani keluar.
"Bagaimana Dok...??"
"Kita doakan yang terbaik, kami sudah berusaha semampu kami, saat ini dia butuh penanganan Extra"
"Saya mau masuk, mengadzani nya" pinta Alvian
"Boleh pak, tapi jangan terlalu lama nya pak"
Di tatap nya putri kecil nya, berusaha mengukir senyum dengan air mata terus menetes. Perlahan namun pasti, Alvian mulai mengumandangkan adzan di telinga putih kecil nya, Dengan suara yang berat.
"Aisyah Az-Zahra Almiera, putri kecil Abi dan Umma... cepat sehat ya sayang, Abi dan Umma ingin segera menggendong mu nak, dan ada kak Azzam dan kak Almeera menunggu kita pulang" ujar nya
"Anak Abi ini kuat kan..Abi...." ucapannya terputus tak mampu berusaha hanya air mata yang mengalir, Suster meminta Alvian untuk menunggu di luar, Alvian menurut.
Kini Alvian sudah berada di ruangan Fatimah, Fatimah belum sadarkan diri.
"Sayang.. bangun Donk, jangan kayak gini, Putih kecil kita menunggu Mu..."
Dua jam berlalu... Fatimah belum sadarkan diri, dan alvian memutuskan untuk kembali ke ruang NICU, saat sampai di ruang NICU betapa kagetnya Alvian, nampak Dr. Melani yang sedang berusaha melakukan pertolongan untuk putri nya. Alvian menerobos masuk
"Ada apa dok...?? kenapa dengan putri saya??"
Dr. Melani menggelengkan kepalanya, nampak air mata pun menetes dari sudut mata Dr. Melani "Kami sudah berusaha Dok..."
"Dokter jangan main-main" bentak Alvian
"yang sabar ya dok... dan ikhlas" lanjut dr.melani
Alvian ambruk, kaki nya seakan tak bertulang, air mata nya mengalir deras.. Abi yang juga baru mendapatkan kabar dari Dr. Melani pun menuju ruangan NICU
"Al..."Panggi Abi, Alvian masih sulit untuk bangun
"Apa yang harus Al katakan kepada Fatimah, bahkan dia belum sempat melihat putri kecil nya, belum sempat memberikan ciuman pertama, apa Bi.... apa yang harus Al katakan??"
Abi memeluk Alvian, berusa memberi kekuatan, walau sejujurnya Abi nya sakit "Ikhlas... Abi tahu ini berat, tapi kamu harus kuat, Kita urus pemakaman nya hari ini juga"
"Allah lebih menyayangi nya Al... Dan juga menyayangi kalian, Allah tak akan menguji kalian di luar batas kemampuan hambanya"
"Tapi Bi... Bahkan Fatimah belum sempat melihat nya...???"
"Ikhlas...ini semua tak lepas dari campur tangan Allah... Qadarullah"
"Dia adalah tabungan surga untuk kedua orang tua nya..."
🌠🌠ðŸŒ
Makasih yang udah mampir di karya receh author... jangan lupa dukungan nya ya...
__ADS_1
Jazaakumullah khairon..
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an