
"Kak.. Fa ke RSH dulu ya mau antar makan siang buat kak Al..."
"naik apa?? emang di izinin bawa mobil..??"
"taxi online kak.. mobil Fa di pakai bunga, kak Al juga gak kasih Fa izin bawa mobil sendiri..." jawab Fatimah sembari mengisi menu makan siang ke kotak nasi.
"itu nama nya dia sayang istri.."
"kemaren sempat juga sih bawa mobil, di teman bunga, tapi sejak kepala Fa tu sakit banget, gak diizinin lagi.."
"Ya udah.. berangkat gih..taxi nya udah di pesan kan??"
"udah.. bentar lagi juga datang, ya udah Fa pamit ya,. assalamualaikum"
"waallaikumusallam"
Tak lama Fatimah menunggu di depan, taxi pun datang
"mang.. Fa pergi dulu ya,. titip rumah.."
"siap neng...." jawab mamang sambil memberi isyarat seperti hormat ke Fatimah, dan itu membuat Fatimah tertawa kecil
Tak butuh waktu lama, Fatimah pun sudah sampai, Fatimah langsung masuk ke RSH, tak jarang banyak nya mata yang memandang, Seorang wanita yang mengenakan baju serba hitam, lengkap dengan hijab dan cadar, untuk team RSH sudah pasti paham siapa yang sedang berlalu itu.
Fatimah langsung menuju ruang Alvian, tapi kosong, ke ruangan Hafidz juga kosong, Fatimah pun memutuskan untuk ke bagian resepsionis yang mengurus bagian tugas-tugas Dokter.
"Assalamualaikum sus, mau tanya Dr. Alvian nya sedang dimana ya??"
"waallaikumusallam.. Bu Fatimah ya??"
"iya..."
"Dr. Alvian seperti masih di ruang operasi Bu, karna belum ada laporan jika sudah selesai.."
"dimana ruang operasi nya sus??"
Suster pun menunjukkan arah yang harus Fatimah lalui.
"baik sus, jazaakillah"
"sama-sama bu"
Fatimah pun langsung menuju ruangan yang Suster tunjuk. Tiba-tiba Fatimah mengerutkan keningnya, nampak ada keributan di depan ruang operasi.
Ada yang menangis histeris, ada juga yang mengucapkan kata-kata kasar.
__ADS_1
Fatimah mendekat, nampak beberapa dokter dan perawat, termasuk Alvian dan juga Hafidz di dalam kerumunan itu.
Fatimah kaget saat ada ibu-ibu yang memukuli dada bidang Alvian berkali-kali namun Alvian malah diam dan tertunduk satu.
"Kenapa...?? apa yang kalian lakukan sehingga anak ku harus mati di usia nya yang masih sangat muda"
"kalian merenggut masa muda nya, masih banyak yang ingin dia capai..."
"kenapa kalian membunuh nya... huhuhu" teriak ibu itu masih dengan memukul dada Alvian
Fatimah pun tiba-tiba sudah ada di hadapan Alvian dan sang ibu yang sedang menangis itu. Di raih nya tangan ibu tersebut agar bisa menghentikan aksi nya.
"Ibu cukup..." Ujar Fatimah menghentikan ibu tersebut
Semua mata pun kiri beralih melihat Fatimah.
"Kenapa ibu memukuli suami saya??"
"sayang.. udah" Alvian bersuara seakan meminta agar Fatimah tidak perlu marah
"Kematian itu akan datang Tampa harus kepada mereka yang sudah Tua, bahkan Bayi yang belum sempat melihat dunia pun jika Allah berkehendak agar kematian menjemput nya, maka tidak akan ada yang bisa mencegah"
"mau berlalu sejauh apapun, bersembunyi di manapun, Jika Allah sudah menugaskan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa nya, maka itu akan terjadi"
"Ingat semua yang hidup itu akan menghadapi kematian, Tampa terkecuali"
"Mereka semua itu hanya dokter, ingat hanya dokter, hidup dan mati bukan mereka yang menentukan... Allah yang menentukan. Mereka hanya Wasilah.. tetap hasil akhir Allah yang menentukan"
"Ibu... mereka selalu berusaha yang terbaik untuk setiap pasien nya, bahkan tak jarang mereka sulit tidur memikirkan pasien-pasiennya, mereka takut mengecewakan pasien dan keluarga"
Alvian menatap punggung sang istri dengan senyum penuh bangga. Ingin rasa nya dipeluk nya erat sang istri.
"huhuhu.... maafkan saya dok.. maafkan saya" ujar ibu tersebut sambil tertunduk dan menangkup kedua tangan nya.
Tak lama kemudian jenazah pun di urus untuk di antar ke kediaman keluarga.
Alvian kini sudah berada di ruangan nya, membersihkan diri.. mengganti pakaian setelah keluar dari ruang operasi.
Nampak Fatimah yang sedang menyusun menu makan siang yang dia bawa.
Tiba-tiba Alvian memeluk Fatimah dari belakang
dan seperti biasa, Alvian menyandarkan kepada nya di pundak sang istri.
"Jazaakillah Khairan sayang..." lirih nya
__ADS_1
"kenapa dan untuk apa??"
"untuk semua yang kamu lakukan tadi..."
Fatimah memutar tubuhnya dan kini mereka berhadapan.
"Fa gak melakukan apapun, Fa hanya menyampaikan apa yang Fa tahu... lagian kenapa tadi malah berdiam diri semua"
"Hubbiy udah coba jelaskan, tapi nama nya orang tua yang kehilangan anak, kami pun gak bisa berbuat banyak"
"pasti sakit ya di pukuli tadi??" tanya Fatimah sambil mengelus dada bidang sang suami
"Gak papa...gak sesakit yang itu tadi rasakan.."
"ya udah.. kita makan dulu.. "
Bukannya langsung mengikuti perkataan Fatimah Alvian malam mengelus wajah mulus Fatimah, dan akan menyematkan ciu-man di pipi Kakan Fatimah, tapi tiba-tiba pintu terbuka
"haddeeehhh... sungguh pemandangan yang membuat jomblo ingin lompat dari gedung" gerutu Hafidz yang Tampa permisi masuk dan mengganggu aktifitas mereka.
"kalau mau masuk keruk dulu..."
"Laper gue...mau makan, dek kakak makan ya, laper nih" ujar Hafidz Tampa peduli dengan tatapan kesal Alvian, bukan peduli dia malah mengambil piring dan segera mengisinya dengan nasi dan menu yang ada di atas meja.
"itu makanya gue..."
"bodo amat... gue laper, sama kakak ipar gak boleh pelit..."
Fatimah malah tertawa melihat tingkah dua laki-laki itu.
"Udah, cukup kok.." ujar Fatimah sambil menyendokan nasi dan lauk ke piring
"makan sepiring berdua aja ya.." ujar Alvian
Fatimah mengagukan kepala tanda setuju
"lagi-lagi jadi anti nyamuk.." gerutu Hafidz dengan kondisi mulut terisi makanan
"Lo tu NYAMUK bukan anti nyamuk..." balas Alvian
"Makanya buruan di Halalin,. biar gak sendirian jadi nyamuk nya.. hehehe" tambah Alvian
"Emang udah ada calon nya??" tanya Fatimah
"bentar lagi gue Halalin.."
__ADS_1
"siapa kak??" tanya Fatimah kepo
"nanti juga tau...??" balas nya cuek dan kembali ke makanan nya.