
Hari ini adalah pertama Fatimah berkunjung ke rumah Bunda sejak Fatimah pulang dari RSH.
Begitu banyak Obrolan-obrolan, seakan Tah habis bahan pembicaraan, Bunga lah yang paling receh.
Hari pun berganti malam, mereka habiskan waktu di ruang tengah, dimana rumah tengah nya tak ada sofa, hanya ada boneka-boneka besar untuk pengganti sofa yang tersusun rapi di atas karpet., seperti lesehan gitu.
Fatimah duduk di boneka Doraemon dengan kaki yang di luruskan..
Alvian yang baru pulang dari masjid bersama mang Ucup pun tiba langsung membaringkan kepala nya di atas paha sang istri.
Tak ada penolakan dari Fatimah, Fatimah malah membuka peci yang Alvian gunakan lalu memain-mainkan rambut sang suami
"iihh mas Al gak malu..."
"Yee.. biarin kan sama istri...week"
"oh ya Al, kalian udah putuskan untuk acara resepsi kalian??"
"belum Bun, Al masih khawatir sama kondisi Fatimah, dia masih gak bisa terlalu lelah"
"beberapa hari yang lalu, bunda ada nelfon Umma kalian, bunda dan Umma berencana mengatur semua nya, kalian tinggal tentukan mau pakai konsep apa"
"apa gak merepotkan bunda?" tanya Fatimah
"gak lah sayang..."
"gimana kak??"
yang ditanya bukan menjawab malah terpejam menikmati setiap sentuhan dari sang istri.
ada rasa nyaman dan ngantuk saat di pangkuan yang tersayang dan mendapat bela-i an lembut dari nya
"kak..." sambil menggoyangkan pipi Alvian
"eh ia....ngantuk"
"bukan ngantuk, tapi nyaman" ujar Bunda sembari tertawa kecil melihat tingkah manja sang putra
"gimana dengan ide bunda??" tanya Fatimah lagi
"kalau kak Al terserah kamu sayang, kakak cuma gak mau kami kelelahan"
"pokok nya kalian tinggal tentukan konsep, Bunda dan Umma yang urus" balas Bunda
"dan Ijab Kabul akan kita ulang ya, sebagai dokumentasi saja"
"emang bisa...??"
"Sebagai dokumentasi sayang, kalau soal sah nya, sudah tercatat di tanggal pertama kali ijab Kabul nya"
"jika memang tidak merepotkan bunda,. Fa ikut saja"
"gimana Al?? Fatimah sudah ok..!"
"nanti Bunga bantu juga, tenang aja mas"
"kamu yakin sayang??" tanya Al memastikan
Fatimah meyakinkan dengan anggukan di sertai senyuman
"ok deal ya... besok kalian bisa coba cek cek konsep nya"
"Oh ya apa kalian Sudak ke KUA, kan ada Berkas yang harus Fatimah tandatangani?"
"belum bun, In Syaa Allah Senin ini"
"ya sudah, Sekarang kalian istirahat.."
Alvian bangkit dari tidur nya lalu membopong Fatimah...
"Kak turunin.."
"diem..."
Apa yg Alvian lakukan membuat Fatimah malu dan menutup wajah nya dengan tangan kiri nya.
__ADS_1
"Bun, kami keatas duluan ya..."
"ia... buruan istirahat" balas Bunda di sertai tawa kecil, bahagia melihat kebahagiaan anak dan menantunya itu.
Alvian membopong Fatimah ke dalam kamar dengan nuansa putih..
jika dilihat dari ukuran kamar, kamar ini jauh lebih besar dari kamar Fatimah
"kok di tutup aja ni mukanya, ni udah dikamar loh.."
"Fa malu tau kak..."
"malu kenapa, kan di hadapan bunda"
"malu ya malu..."
"udah malu nya di lanjut nanti aja" balas Alvian sembari mendudukkan Fatimah di ranjang
Fatimah pun membuka hijabnya.
Dan Alvian baru saja keluar dari kamar mandi dan membawa sebaskom air hangat.
"Untuk apa??"
"untuk merendam kaki istri kak Al... biar rilex"
"Sini kaki nya"
"kak, gak sopan..."
"kakak melakukan ini ikhlas, bukan atas dasar perintah seorang istri kepada suami, ini salah satu bentuk sayang kak Al, jadi gak ada yg nama nya gak sopan"
Fatimah pun manut, setelah selesai merendam kaki.. Alvian pun mengeringkan nya dengan handuk lalu menaruh kaki Fatimah ke atas ranjang.
Alvian pun kembali ke kamar mandi untuk membuang air hangat bekas merendam kaki Fatimah.
Lalu kembali dan membaringkan tubuh nya di sebelah Fatimah
"Kak..."
"kok ada rak buku kosong??"
"oh itu.. ia baru kak Al pesan beberapa hari lalu"
"untuk...??"
"Sini..." Alvian sembari menepuk-nepuk paha nya, agar Fatimah berbaring di paha nya
Fatimah hanya bisa menurut, karna kalau di bantah juga percuma.
"udah" sambil merebahkan kepala tepat di atas paha Alvian
Alvian membe-lai lembut rambut panjang Fatimah
"kak.... pertanyaan Fa belum di jawab"
"oh ya lupa, habis rambut kamu lembut banget sich.."
"pakai sampo apa sich??"
"kak...."
"hmmm... iya...iya..."
"Sejak kak Al tahu Fa suka baca, bahkan kamar Fa di penuhi dengan buku, jadi kakak putuskan untuk buat rak buku untuk di kamar ini...nanti bisa Fa isi buku-buku yang Fa suka"
"kapan rencana mau pindah kesini??" tanya Fatimah
"kapan pun Fa mau...kakak siap sedia"
"Maaf ya, Fa jadi misahin kak Al dan bunda"
"Gak ada yg perlu minta maaf atau pun memberi maaf, baik rumah ini, maupun rumah Abi... itu adalah tempat kita, jadi semua sama saja"
"Tapi Fa perhatian kenapa kak Al jadi lebih manja ya di rumah sendiri"
__ADS_1
"masak sich.. kayak nya biasa aja, tapi gak papa kan klo kak Al manja sama istri"
"emang ada rencana mau manja ke siapa??" tanya Fatimah penuh selidik
"rencana sich ada..." jawab Alvian dengan senyum menggoda
"au..au..au.. sakit sayang"
Satu hadiah cubitan di perut Alvian yang menjadi balasan akan jawaban Alvian
"berani...??"
"gak..gak berani..."
"lagian mana mungkin kak Al berani bermanja ke yang lain, kalau di balik cadar istri kak Al ini teryata cukup galak juga"
"ihh... malah ngeledek"
"serius....kak Al gak akan berani dan gak bakal mau juga kali....maksud kak Al itu rencana mau manja ke Bunda dan Umma... bukan ke yang lain"
"Ternyata bener ya kata Hafidz.. istri kak Al ini, lain di luar, lain di dalam.."
"maksud nya??"
"ia.. yang kak Al kenal Fatimah Azahra itu gak banyak bicara, Cuek...ternyata itu hanya tampilan luar, aslinya..."
"Aslinya apa??" tanya Fatimah sambil memanyunkan bibir nya
cup
satu ke-cupan mendarat di pipi kiri
"kak Al..."
cup
satu ke-cupan mendarat di pipi kanan
"kak Aallll......"
"hehehe...."
"dilarang ngambek... nanti kak Al tambahin loh"
"Huufft.... udah...udah gak ngambek lagi"
"hahaha..." mendengar jawaban Fatimah Alvian malah terkekeh dibuatnya nya
"ada waktu nya kita memilih diam, dan ada kala nya kita menunjukan sisi kita sebenarnya kepada mereka yang boleh mengetahui nya"
cup
satu ke-cupan mendarat di bibir ranum Fatimah
kali ini Fatimah bukan marah malah terpaku mendapat ke-cupan itu.
Jantung nya berdebat sangat kencang.
pipi nya tiba-tiba menjadi merona.
"makin cantik dech kalau pipi nya merah gitu" canda Alvian yang melihat ekspresi sang istri
dan itu membuat Fatimah menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya.
"udah malam, bobok yuk... ngantuk..." ujar Alvian sembari ngangkang kepala Fatimah dan di letakannya di atas bantal, Tampa peduli dengan Fatimah yang masih menutup wajah nya dengan ke dua tangan nya.
"Mau sampai kapan tu muka di tutup??" tanya Alvian sembari tertawa kecil
🌟🌟🌟🌟🌟
Alhamdulillah selesai dua bab untuk Hari ini, berbaring di temani teteh Arafah❤️
Semoga Suka..🤗🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Like Vote dan komen.. Hadiah nya juga ya .. hehehe
__ADS_1
Jazaakumullah khairon❤️❤️