
selesai Abi memeluk Alvian, Paman pun memeluk Alvian,. begitupun.Hafidz
"Adek ipar..." canda nya di balik air mata yang tak bisa di tahan nya
Alvian tertawa kecil mendengar panggilan Hafidz pada nya, lalu memeluk Hafidz
"Jaga Adek gue, berani sekali aja Lo sakiti dia.. gue orang yang pertama kali akan buat Lo menyesal..." sambil menepuk-nepuk punggung Alvian
Alvian keluar dari ruangan ICU.. di tatap nya sang bunda, senyum di balik air mata.
di cium nya punggung tangan bunda berkali kali lalu telapak tangan bunda, Bunda pun memeluk Alvian
"Bun.... Alvian sudah menikah, menikah dengan wanita yang Alvian pilih menjadi teman hidup Alvian..."
"Bunda akan selalu mendukung Al.. Al harus kuat.... Fatimah butuh kamu nak..."
Selesai dengan bunda Alvian pun menghampiri Umma.
Awal nya Alvian ragu untuk langsung menyalami Umma, Umma sadar akan itu
"Al.... saat kamu telah mengucap Ijab Kabul, kamu sah menjadi suami dari putri Umma,.maka Umma adalah mahram mu.."
mendengar penuturan Umma, Alvian pun langsung mencium punggung tangan Umma.
"Doakan Al..."
"Doa Umma bersama kalian, Ingat janji mu, kamu akan menerima apapun kondisi Fatimah nanti.. kamu akan selalu menemani, menjaga nya, Cintai kekurangan nya"
Alvian hanya mampu menjawab dengan Anggukan.
Pak penghulu dan Paman keluar.
Alvian, Umma dan bunda yang bergantian masuk.
Terlihat Abi yang sedang berbincang dengan putrinya.
Abi yang melihat mereka masuk pun lalu mencium puncak kepala sang putri sangat lama, lalu mundur agar bisa bergantian
"Fa... ini bunda, bunda Syafitri, sekarang Fatimah sudah resmi menjadi Anak bunda, istri Alvian.. cepat lah sadar, cepat sehat . biar nanti kita bisa belajar masak bersama" Di cium nya puncak kepala sang menantu, banyak doa yang tak bisa di ucapkan
Kini Umma.. di pandangnya sang putri kesayangan..
"Sayang... begitu banyak doa untuk kesayangan Umma ini...cepat bangun nak..hari putri kecil Umma ini telah menjadi seorang istri.. istri dari lelaki yang engkau terima Khitbah nya dengan menyebut nama Allah..." Umma menahan air mata nya agar tidak tumpah tapi tidak bisa.
bahkan kini Umma tak mampu untuk bersuara
"Umma sayang Fatimah..." itulah yang mampu Umma ucapkan
begitu lah seorang ibu, ia akan rela menukar nyawa nya untuk anak anaknya.
di saat ia melahirkan, nyawa adalah taruhan nya, di saat anak sakit ia pun rela menukar sakit itu untuk nya.
tak mampu mengutarakan rasa sayang dan cinta nya kepada anak anaknya dengan kata kata. tapi ia akan siap memasang Bandan untuk melindungi anak anaknya.
Di tatap sendu sang kekasih halal nya..
di tatap nya sangat lama, teringat saat pertama kami mata mereka saling bertatap, kini dia bebas untuk menatapnya, tak ada ada batas waktu..tak ada kata dosa, hanya saja kali ini, dia yang di tatap hanya terpejam, Tampa ekspresi.
Mengambil posisi duduk di sebelah kanan, di genggam nya tangan sang kekasih halal.
gemetar, hati nya begitu gemetar.
Dicium nya dengan lembut dahi Fatimah yang masih tebalut perban, air mata itu menetes.
__ADS_1
cukup lama Alvian dalam posisi itu.
"Istriku..." lirih nya
Dan Tampa di sadari saat Alvian memanggil Fatimah dengan sebutan "Istriku..." ada air mata yang mengalir dari sela sela mata Fatimah
Hafidz yang memang saat itu masih setia mengabadikan setiap moment ia pun kaget
"Al...Al..." panggil Hafidz
"Al.. Fatimah menangis Al..." girang nya
"Masyaallah..." ucap Abi, Umma dan bunda yang juga ikut melihatnya.
Alvian pun langsung tersenyum bahagia
"Fa... kamu dengar kakak kan... Fa..." tapi Fatimah masih tidak merespon
"Gak papa Al.. setidaknya ada respon walau sesaat.. itu tanda nya walau dia dalam keadaan tidak sadar, tapi dia bisa merasakan kehadiran kita" ucap Abi menguatkan Alvian
Abi dan yang lain keluar sesuai instruksi perawat dan dokter.
Karena kondisi Fatimah memang belum stabil.
Dokter memeriksa kondisi Fatimah terbaru, Alvian menceritakan saat tadi Fatimah sempat meneteskan air mata.
Alvian bukan tak bisa mengecek kesehatan sang istri dengan keahlian, tapi saat ini dia ingin fokus berada di samping sang istri, memandangi nya, menggenggam tangan nya, bahkan tak lepas dari ciuman ciuman kecil nya.
"Untuk saat ini semua normal, dokter Alvian pasti lebih paham, karna dokter ahli jantung"
"Tapi Fatimah belum melewati masa kritis nya" ujar Alvian
"Ya dok... jika dalam waktu 2x24 jam Fatimah belum sadar, maka Fatimah di nyatakan koma.." tambah Dr. Hendro
"Ok...saat ini kita hanya bisa banyak banyak berdoa" ujar Dr. Hendro sembari meneput2 pundak Alvian
Dr. Hendro pun keluar, dan menjelaskan kondisi Fatimah di depan Abi juga
"Bi... gimana ini??" khawatir Umma
"Kita serahkan semua sama Allah"
"Kita harus kuat, Umma lihat (Sembari menujuk Alvian) , Dia sekarang anak kita juga, kita Juga harus memberikan semangat"
"Abi... Umma makan dulu" Ujar Hafidz yang baru saja datang dengan membawa beberapa kotak makanan
"Oh ya Bunda Syafitri dan yang lain mana??"
"Abi minta mereka pulang dulu , dari kemaren semua disini, Biar bisa gantian nanti"
"Ya udah Hafidz antar makanan dulu ke Al"
Hafidz pun masuk ke ruangan Fatimah
"Bi... Umma gak Lapar..."
"Umma.. kalau kita tidak menjaga kesehatan kita, gimana kita bisa merawat Fatimah, yang ada nanti pada sakit semua gimana, makan walaupun sedikit"
Umma pun akhir nya berusaha makan walaupun sulit untuk ia telan.
"Al...."
"Ehh... Fidz..."
__ADS_1
"Gak perlu Lo genggam terus tu tangan adek gue.. gak bakal lari..." Ujar Hafidz dengan sedikit candaan
Bukan ia tak sedih melihat kondisi sang adik,tapi dia memang harus kuat, memberi semangat untuk semua.
Dia paham, saat ini Alvian lebih terluka di banding dengan dirinya.
"Heemm... bisa aja Lo..." balas Alvian
"Makan dulu gih... jangan bilang Lo gak lapar, Lo memang dokter, tapi Lo tetep butuh nutrisi untuk tenaga Lo... gimana Lo bisa jagain adek gue, kalau Lo nya malah sakit nanti" sembari menyodorkan kotak nasi
Alvian tersenyum kecil melihat tingkah sahabat sekaligus Kakak iparnya itu.
Ya begitulah Hafidz.. dia punya cara tersendiri dalam memberi Semangat.
"Gak perlu senyum senyum... adek ipar tu ya manut sama kakak ipar" tambahan nya
"Thank Lo selalu ada buat gue.."
"Gak sopan Lo... Panggi mas sekarang...hahaha" canda nya
Alvian pun makan di temani Hafidz
"Fidz..."
"hemmm" sambil mengunyah makanan
"Gak jadi..."
Hafidz hanya geleng-geleng
"Makan aja dulu, kalau Lo mau curhat nanti"
Mereka pun selesai makan..
"Al.... apa gak sebaiknya Lo pulang dulu..ada gue, Abi dan Umma dan nanti bisa berganti juga"
"Gak Fidz... gue gak akan kemana mana"
"Tapi Al...Lo butuh istirahat.."
"gue bisa istirahat di sini, apa Lo pikir gue akan bisa istirahat saat gue jauh dari dia"
"Huufft... ya sich"
"Ya udah.. gue keluar dulu.."
Alvian ikut keluar bersama Hafidz
"Abi, Umma... sebaiknya Abi dan Umma pulang aja dulu, istirahat, besok baru ke sini lagi"
"Tapi Umma pengen nungguin Fatimah , Al..."
"Umma... ada Al disini, Umma dari kemaren udah selalu terjaga, dan di dalam juga cuma boleh satu orang, nanti kalau ada perkembangan Al langsung berkabar"
"Ia Umma, Al benar, Umma disini juga gak akan bisa tidur dalam posisi duduk terus, yang ada Umma kelelahan, nanti kita gak bisa gantian.." ujar Abi
"Ya klo itu yang terbaik menurut Abi... kita pulang, Al.. Umma titip Fatimah ya.."
Abi, Umma dan Hafidz pun pulang.
🌟🌟🌟🌟🌟
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Like Vote dan komen
__ADS_1
Jazaakumullah khairon ❤️