
Hari yang di tunggu Hafidz dan Bunga pun tiba. Keluarga yang sedang setia menunggu di luar ruang operasi, sedangkan Hafidz dengan setia menemani sang istri.
Bunga harus menjalani operasi dikarenakan, sudah keluarkan tanda-tanda dari jalan lahir, tapi kontraksi tak ada, jadi di putuskan untuk melakukan operasi demi kebaikan si bayi dan ibunya.
Flashback On
sebelum di putuskan Operasi
"Mas aku pengen normal..." pinta Bunga
"Sayang, ini demi kebaikan kamu dan bayi kita"
"aku gak mau di bilang cari enak nya dengan operasi, oleh orang-orang di luar sana, aku pengen berjuang secara normal"
"Bunga... dengarkan Umma, baik Normal maupun Caesar proses persalinan, itu semua sama, sama-sama berjuang... jangan pedulikan opini orang diluar sana"
"karna mereka yang melahirkan Caesar pun menjalani proses untuk itu, dan proses yang di jalani itu tidak mudah, jadi jangan berkecil hati"
"melahirkan normal ibarat 20 tulang di patahkan secara bersamaan, tapi percayalah melahirkan Caesar juga memiliki nilai perjuangan, salah satu nya suntikan epidural"
"Yakin lah ini semua adalah ketentuan Allah.. Qadarullah... perjuangan seorang ibu dalam melahirkan, apapun caranya, semua bernilai pahala Dimata Allah, tidak ada yang sia-sia" ujar Umma meyakinkan Bunga
"udah dengarkan semua penjelasan Umma??" tanya Hafidz
"jangan dzolim pada diri sendiri, Allah tidak suka, apalagi ada nyawa yang harus kamu perjuangan" ujar Fatimah yang baru datang " Disini..." sambil menujuk perut Bunga
Bunga menangis sesegukan "Bunga siap untuk operasi" ujar nya
Flashback Off
Proses operasi sedang berlangsung, Hafidz tak hentinya menyebut asma Allah sembari menggenggam tangan Bunga.
oek...
oek...
oek...
Suara tangisan bayi terdengar dengan begitu nyaring, bersama dengan itu air mata Hafidz menetes, begitu pun Bunga, berkali-kali ke-cupan di kening Hafidz berikan untuk Bunga
"Terimakasih sudah menjadi malaikat yang melahirkan putri yang cantik,.Terimakasih sudah berjuang untuk melahirkan putri kita. Tanpamu aku tak akan bisa bertemu dengannya,Terimakasih sudah membawa bidadari kecil dalam keluarga ini."
seakan tak cukup ucapan terimakasih yang Hafidz utarakan untuk menggambar rasa bahagianya, syukuran atas kelahiran putri pertamanya, atas perjuangannya sang istri.
Suster pun keluar ruang operasi memberikan kabar, bahwa bayi sudah lahir, ibu dan baby sehat, anak nya perempuan. Semua yang ada di luar ruangan operasi pun mengucap syukur.
"Alhamdulillah... kita jadi nenek dan kakek" ujar Bunda dari Hafidz sambil memeluk sang suami
__ADS_1
Di ruangan operasi baby masih di bersihkan begitupun dengan sang ibu, sedang menjadi proses akhir.
Setelah baby bersih, Hafidz pun meng adzani nya....air mata tak dapat dia bendung.
Proses cukup panjang, dan akhir nya Bunga dan baby pun sudah pindah ke ruang rawat.
Anisya Hanifa Maulana (Putri Raja yang taat kepada agam islam dan sebagai pelindung)
itulah nama dari putri pertama Hafidz dan Bunga, banyak doa dan harapan dari nama itu.
"panggilan sayang nya apa ni kak??" tanya Fatimah
"bagus nya apa??" tanya Hafidz kembali
"Anisya aja..." Bunda Rianti bersuara
"Fa mau gendong lah..." pinta Fatimah
"Bisa...??" tanya Hafidz
"bisa.. emang kenapa gak bisa??"
"takutkan nanti kamu nya susah,karna ada Utun..."
"gak..." Dengan di bantu Alvian , Fatimah mengambil posisi duduk di sofa sambil memangku Anisya..obrolan ammah dan keponakan pun terjadi..semua yang ada di ruang ikut bahagia.
Sesekali Anisya rengek dan seperti mencari sesuatu.
"tadi udah di coba, masih sedikit"
"kasih aja lagi Fidz... harus di pancing, biar Asi nya keluar" Ujar Umma
para lelaki pun keluar, karna Bunga harus memberi Asi, masih sulit pastinya, di tambah luka di perut membuat nya terbatas dalam bergerak, tapi ASI harus di berikan.
*
Fatimah dan Alvian sudah berada di rumah, Usia kandungan Fatimah yang sudah jalan 7 bulan, mengharuskan untuk jangan sampai kelelahan, di tambah lagi ada dua Utun..apalagi sejak beberapa pekan lalu, Fatimah harus di rawat karna traumatik menyerang, rasa sakit di kepala sungguh menyiksa.
Membuat Alvian lebih prosesif. semakin mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir) semakin membuat Alvian was was, khawatir, semua jadi satu,.apalagi sejak kejadian Fatimah di rawat Dr. Hendro sangat mewanti, karna sudah bisa di pastikan, semakin mendekati HPL, biasanya ibu cenderung stress.
Alvian harus bisa mengimbangi nya. bahkan kemungkinan besar Operasi adalah jalan yang akan di ambil nanti nya, tapi Fatimah optimis untuk normal,.senam kehamilan dia jalani, semua yang mendukung persalinan Normal dia jalani.
Tapi Umma sudah mewanti, apapun nanti, semua sudah ketentuan Allah... Qadarullah
Apalagi hari ini melihat perjuangan Bunga... Fatimah sempat termenung
"Kenapa,.kok gak tidur..??"
__ADS_1
"gak tahu, agak serba salah sama posisi tidur" alasannya, sungguh alasan biasa untuk bumil.
"sini Hubbiy elus pinggang nya kalau pegel"
Fatimah menggeleng.
"ada yang dipikirkan ya kan...??" tanya Alvian "jangan suka memendam..." tambahnya
"Cuma kepikiran Bunga yang tadi kekeh ingin normal...."
"Gak perlu dipikirkan, yang terpenting Bunga dan Almeera sehat"
"apa Fa harus seperti itu juga??"
"ingat,. kita akan terus berusaha untuk normal, tapi juga harus di ingat, jika pun jalan nya operasi, ya kita harus siap, semua ketentuan Allah..."
"iya Biy... kejadian Bunga mengajarkan Fa banyak hal..."
"udah...tidur aja ya, Hubbiy ngantuk" ujar nya sambil memeluk Fatimah dengan posisi Fatimah yang membelakangi Alvian, dan tangan Alvian melingkar di perut buncit Fatimah
*
Pagi ini Fatimah sudah jalan-jalan pagi usah sholat subuh di depan rumah, mungkin karna usia Kandungan dan perut yang semakin besar, kwalitas tidur pun berkurang, bahkan selesai subuh Fatimah banyak menghabiskan waktu di luar, sekedar jalan-jalan kecil.
Urusan dapur ada bunda Syafitri dan bibik, dia cukup fokus dengan kesehatan dirinya dan Utun, fokus proses untuk normal, walau entah apa yang akan di hadapi nya nanti.
Doa dan ikhtiar, hasil biar jadi urusan Allah.
"Sayang minum susu nya dulu" ujar Alvian, dan Fatimah pun menghampiri Alvian yang membawa saru gelas susu coklat.
Nikmat mana lagi yang engkau dustakan Fatimah, punya suami sabar, mertua baik, lengkap lah....
"Biy...ke taman yok..."
"males..."
"iih kok males...??"
"nanti jajan nya yang aneh-aneh..."
"kan gak setiap hari Biy..." jawabnya "ayo lah.." rengek Fatimah
"ayo lah Biy..."
"Huufftt....kalau udah gini..." gerutunya "nolak pun percuma... ayook" tambahan
mendengar persetujuan Alvian, Fatimah langsung bergegas mengambil sepatu nya
__ADS_1
"gak usah pakai sepatu, nanti juga di lepas kan"
"ya udah Fa pakai sendal jepit aja" ujar nya sambil mengambil sendal swal*low lalu menuju mobil.