
Hidup dan Mati itu sudah Pasti
Setiap Hari akan ada yang Datang dan Pergi
Setiap Hari ada Yang Lahir dan Ada Mati
Ingat... Dunia itu tempat kita MENINGGAL Bukan Tempat Kita TINGGAL
*
Insting untuk dia yang kita sayang itu sangatlah Kuat.. sama seperti yang Alvian alami, tangan dan mata nya berusaha Fokus, tapi hati nya sungguh tak karuan, Doa di dalam hati lah sang penguat.
"Ya Allah... segerakan ini selesai, kenapa wajah istri hamba selalu terlintas, jaga mereka" doa Alvian dalam Hati
Di ruangan Fatimah kontraksi makin sering terjadi dan semakin sakit, ada dua bidadari surga yang menemani Umma dan Bunda. Arafah juga ada di dalam, membantu Dr. Melani sesuai permintaan Fatimah jauh hari sebelumnya.
"Kuat Ya Buk Fatimah, sebentar lagi,. harus kuat... sudah buka 7, rasa sakit nya pasti semakin kuat" Ujar Dr.Melani
"Umma... kak Al..."
"Alvian masih di ruang operasi sayang... sabar ya.."
"Kak Al.. Umma..." entah kenapa kali ini seakan tak bisa menahan, seakan tak mau tahu, Alvian harus ada disisi nya.
Bunda dan Umma saling tatap... "Bunda cek ya, semoga sudah selesai" sambil mengelus kepala Fatimah
"Umma... tasbih" minta nya, dan Umma pun langsung mengambil tasbih yang ada di dalam tas Umma lalu memberikan ke pada Fatimah.
Tangan Fatimah tak berhenti bertasbih, Bibir nya pun henti mengucap Tasbih, Tak terdengar tapi bisa di lihat dari gerak bibir nya.
Bunda memberi tahu jika Fatimah butuh Alvian saat ini.. sedangkan lampu di ruang operasi masih menyala.
Tapi ini mungkin yang di bilang, Allah berpihak pada mereka, saat semua cemas lampu ruang operasi mati. Abi Tampa pikir panjang langsung menerobos ruang Operasi, perawat yang berlalu cukup heran, sang master masuk ke ruangan operasi.
Segera Abi mensterilkan diri, karna bagaimanapun di ruang operasi harus steril.. nampak Alvian yang sedang mengelap keringatnya. dan nampak sedang berbincang dengan perawat.
ceklek
Pintu ruangan dimana di lakukan operasi terbuka. Semua menatap Sang master yang Masuk.
"Alvian... Fatimah..." ujar Abi dengan tatapan serius dan membuat Alvian cukup kaget
Hafidz menatap Alvian... "Keluarlah, biar gue yang Selesai"
Alvian menganggukkan kepalanya..segera menuju wastafel untuk mencuci tangan dan mensterilkan diri, melepas jubah Operasi nya.
"Bi.. Fa kenapa...??"
__ADS_1
"Sudah bukaan 7, dia di ruangan persalinan"
Mendengar perkataan sang Abi, Alvian tersentak..."ternyata ini yang membuat ku tak tenang" batin nya, dan langsung berlari menuju ruangan dimana Fatimah berada.
Tak peduli dengan siapa yang ada di depan ruang operasi, Alvian langsung masuk. Dilihatnya sang istri tengah memejamkan mata, sembari menggigit bibir bawah nya, menahan sakit, dan tangan kanan nya tak henti berdzikir. Air mata seakan tak tahu Tempa menetes dengan sesukanya.
"Al... " sapa Arafah "Dia udah nunggu kamu dari tadi, udah bukaan 8, dampingi dia" tambah Arafah
Alvian menghapus air mata yang menetes dengan cepat, tak ingin menampakkan kesedihan di mata nya. dengan cepat menghampiri sang istri, duduk di kursi sebelah kanan ranjang
"Sayang....." Fatimah menoleh, mendengar panggilan khas dari sang suami
"Hubbiy...." ujar nya dengan dana yang serak
Berkali kali Alvian mencium kening Fatimah, dengan tangan tangan kiri yang menggenggam tangan kiri Fatimah, Posisinya seperti memeluk dari atas.
"Istri Hubbiy hebat, kuat...Afwan Hubbiy terlambat"
Tiba-tiba kontraksi datang lagi, dan Fatimah menggenggam tangan Alvian dengan erat, sangat erat.. sakit sudah pasti, tapi Alvian tahan, karna rasa sakit yang dia rasakan tak akan sebanding dengan yang Fatimah rasakan, dan Saat kontraksi berhenti, Fatimah membuang nafas nya panjang
Alvian mendekati perut Fatimah..
"Anak-anak Abi....Lahir lah, Abi udah di sini nemenin, jangan buat Umma lama merasakan sakit ya sayang... kita berjuang sama-sama" Ujar nya sambil mencium perut Fatimah
Beberapa detik kemudian Fatimah merasakan sakit teramat dalam.
"Alhamdulillah sudah penuh bukaan nya dok" ujar Arafah
"Alhamdulillah.... Bu Fatimah, tenang ya, santai... saat saya bilang hembus, maka hembuskan nafas nya ya Bu, sambil perut mendorong, jangan di angkat panggul nya ya Bu, cukup angkat bagian kepala saja" Dr. Melani memberi instruksi dan memposisikan Kaki Fatimah dengan posisi prosesi melahirkan.
"Bismillahirrahmanirrahim 1..2..3... hembus Bu..."
"Huuuffttt...."
"Bagus... lagi ya bu.. 1...2...3...hembus Bu"
"Huuufftt...." dengan tangan yang terus berdzikir dan Alvian pun tak henti menyebut asma Allah, Alvian tak melepaskan ciumannya di kepala sang istri, sesekali menghapus peluh yang ada di kepala dan wajah Fatimah
"Ya Allah Mudahkan semua nya, Berikan keselamatan dan kesehatan untuk istri hamba dan anak-anak kami" doa Alvian dalam Hati, Air mata pun tak mampu dia bendung
Perjuangan sang istri tak kan mampu dia bayar, hanya Allah yang mampu membayar nya.
"ia bagus Bu.... terus Bu..."
"Semangat dek.. sedikit lagi, udah nampak tu kepalanya..." Ujar Arafah
"ia Bu terus Bu, buang Perlahan, sudah nampak ni Bu kepalanya..."
__ADS_1
"Ayo Bu sekali lagi ya, agak dalam dan agak di dorong perut nya ya..."
"Huuuffttt...."
"Bismillah Bu, sekali lagi..." dan dengan bantuan dorongan dari Arafah di bagian perut,
Satu Utun keluar....
oe...oe...oe...
sungguh suara yang begitu lantang, menggema menghiasi ruangan itu, saat Utun keluar, semua menetes air mata, tak kecuali Umma dan Bunda yang juga menyaksikan, hanya saja agak menjauh
Suara nya menggema Alvian mencium seluruh bagian wajah Sang istri, tak terlewatkan sedikit pun.
"Alhamdulillah laki-laki" ujar Dr. Melani
"Tabarakallah sayang... engkau telah melahirkan satu calon Imam besar, sebesar suara tangisan.. menggema..." Ujar Alvian dan Fatimah hanya bisa tersenyum kecil, dengan air mata yang juga menetes
Satu Utun lahir... dan mulai di bersihkan oleh Arafah, Arafah sendiri yang meminta untuk mengurus keponakannya.
Dan Selang beberapa menit, Kontraksi datang lagi, dan proses seperti sebelumnya nya pun di lakukan. Fatimah dengan tenang mengikut arahan Dokter.
oe...oe...oe...
Suara bayi Kembali menggema...
"Alhamdulillah...sepasang Bu... Sholeh dan Sholeha..." ujar Dr. Melani
Tawa kecil yang tak bersuara yang di iringi air mata, tak dapat di Utarakan, rasa bahagia dan juga haru.
Sungguh Tak kan ada yang mampu menandingi kekuatan seorang wanita di muka bumi ini, bagaimana tidak... Dia mampu bertahan, berjuang, sekalipun rasa sakit yang dia rasakan bagaikan 20 tulang yang di patahkan bersamaan.
Hanya Wanita yang Allah karunia kekuatan itu, dan Balasan nya ada Syahid apabila dia gugur.
Maha besar Allah
Dia masih mampu tersenyum di saat melewati semua proses yang ada. Dan Fatimah berjuang dua kali dalam satu waktu.. membantah semua yang di perkirakan oleh manusia. Manusia hanya bisa berencana, Penentuan nya tetaplah Allah.
Dan keyakinan itulah yang membuat Fatimah terus berjuang di saat keterbatasan yang dia punya.
*
*
*
jazaakumullah khairon untuk semua dukungan Reader... di tunggu selalu ya dukungan nya ❤️
__ADS_1