Fatimah Azahra Itu Namanya

Fatimah Azahra Itu Namanya
SAH


__ADS_3

"Baiklah.. jika itu keputusan Mu, Kamu siap dan Ikhlas, Abi restui... "


Umma ingin berucap namun sulit, alhasil hanya anggukan yang bisa Umma berikan, lalu memeluk Abi menangis di pelukan Abi


"Anak Bunda sudah dewasa, dia sudah tau apa yg baik dan buruk, jika ini sudah menjadi keputusan Mu... Bismillah Bunda merestui.. " lalu memeluk anak laki2 satu satunya itu.


"Hari ini juga... Al ingin ijab kabul itu di langsungkan.."


"Al... ini sudah mau magrib... gue akan urus semua nya besok" Hafidz bersuara


"ia...menurut om benar kata Hafidz.. bagaimanapun semua butuh persiapan kan??" Alif setuju dengan saran Hafidz sang putra


Ada suster yang berjaga di ruangan Fatimah, dan untuk keluarga memang tidak di sarankan terlalu lama, karna kondisi Fatimah masih belum menunjukan perkembangan.


Fatimah belum melewati masa kritis nya.


"Bi... Ara mau ketemu Fatimah"


"Masuk lah..."


Arafah pun menemui sang Adik,. saat dia mendapat kabar, Fatih masih ada pengajian di luar pondok, jadi dia terlambat datang


Duduk di sebelah sang Adik.. di lihat nya begitu banyak alat medis bekerja.


Di be-lai nya pipi putih pucat itu...air mata pun tak mampu dia bendung,. di cium nya tangan Sang adik berkali kali.


"Dek... ni kakak... 😭jangan lama-lama ya tidur nya, cepet bangun, kalau tidur terus gak bakal ada yang bawel lagi.. kamu kan tahu, di antara kita kamu yang paling bawel... deeekk... bangun Donk.."


Masih nihil... Fatimah masih dengan mode tanpa respon... Arafah gak sanggup lagi untuk berkata.. arafah pun berlari keluar ruangan,.


diluar dia langsung memeluk sang suami, di tumpah kan nya air mata itu di pelukan sang suami.


Fatih pun hanya bisa mengelus kepala sang istri untuk memberi kekuatan.


Alvian masih dengan setia berdiri di depan kaca, melihat kekasih hati nya..berusaha kuat, tak ada lagi air mata,. hanya rasa sesak yang menyelimuti nya.

__ADS_1


Malam berlalu, berganti pagi


Hafidz dan sang Ayah bergegas menuju KUA, membawa surat yang kemaren Alvian terima, menceritakan semua yang terjadi.


Alhamdulillah pihak KUA pun bersedia karna Alvian tak ingin hanya sekedar nikah siri, dia ingin semua langsung sah di mata hukum.


Tepat pukul 10 pagi.


Pak penghulu sudah datang beserta berkas berkah pun sudah lengkap.


Dokter tidak mengizinkan banyak orang yg masuk, di ruang itu hanya ada Alvian, Abi sebagai wali Fatimah,. Paman sebagai wali Alvian, Penghulu dan Hafidz...Sisa menunggu di luar menyaksikan pernikahan itu dari kaca.


Umma meminta Hafidz untuk mengabadikan semua moments yang berlangsung.


Sejak dokter memberi tahu kemungkian jika Fatimah sadar bisa saja lupa ingatan.


Umma ingin semua di abadikan, agar jika saat nanti Fatimah sadar, Umma bisa memperlihatkan apa yang terjadi saat ia terbaring tak berdaya.


"Bismillah... nak Alvian, sudah siap??" tanya pak penghulu


"In Syaa Allah saya siap.."


"Huuffftt..."


Alvian tampak beberapa kali menghembuskan nafas untuk menghilangkan rasa gugupnya


Abi pun sudah nampak berkaca kaca, berkali kali dilihat nya sang putri.


Tak pernah terlintas sang putri Menikah dalam kondisi seperti ini.


Tapi Abi berusaha kuat...


"Bismillahirrahmanirrahim... Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Alvian Dharmawan bin Bayu Dharmawan dengan anak saya yang bernama Fatimah Azahra Surya dengan maskawin berupa Emas, Tunai.”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Fatimah Azahra Surya binti Aditya Surya Pranaja dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”

__ADS_1


Dengan Satu tarikan Napas, walau gemetar Alvian mampu mengucap kan nya.


"Bagaimana saksi..??"


"Sah..."


"Sah..."


Tak hanya yang di ruangan, Di luar luar ruangan pun mengucap kata "Sah"


Air mata tak mampu lagi untuk di bendung.


Bahkan Perawat yang menyaksikan pun ikut hanyut dalam keharuan.


Semua menadahkan Doa, Doa pak penghulu di Aamiin kan..


Abi memeluk Alvian, tak mampu berucap, hanya ada tetesan air mata.


anggukan kecil penuh makna dari Abi untuk Alvian..


seakan bermakna..


"Titip anak Abi.. Jaga dia, sayangi dia, hujani dengan dengan ilmu agama"


Umma dan bunda pun saling memeluk, saling menumpahkan air mata.


Semua... semua yang menjadi saksi pernikahan itu tak mampu membuka suara, hanya air mata mewakili perasaan mereka semua.


Perawat dan Dokter yang memang menjadi pengawas di dalam ruangan pun mengusap air mata mereka.


Hafidz mengabaikan semua moments


"Fa... kamu sudah menikah dek.. menikah dengan lelaki yang memang Allah kirim untuk menjaga Mu.. menerima Mu dalam keadaan terburuk sekalipun... Fa cepat lah bangun... buktikan pada dunia, kamu adalah istri Sholeha.. seperti Fatimah Az-zahra putri Baginda Rasulullah.. Kuat dalam setiap ujian, tak mengeluh dan setiap kesulitan.." batin Hafidz sembari menatap sang adik yang masih tertidur.


🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Like Vote dan komen


Jazaakumullah khairon ❀️


__ADS_2