
"Hanya karna Proses Mu tidak secepat orang Lain, Bukan berarti kamu Gagal, Intinya Usaha Doa dan Yakin... Tenang saja tidak ada yang terlalu Cepat, dan tidak ada yang terlalu Lambat, Semua akan datang sesuai waktu takdir yang Tepat"
(Fatimah aZahra)
*
*
*
Kabar kehamilan Fatimah sudah di ketahui seluruh keluarga besar, begitu banyak doa.. Sejujurnya ada rasa khawatir dan juga bahagia.. Dr. Melani , dokter spesialis kandungan yang baru saja bergabung di RSH, yang kini menjadi dokter yang akan setia menjadi tempat konsultasi untuk Fatimah dan Alvian.
Mewanti agar Fatimah jangan stress, karna stress bisa memicu Traumatik.. apalagi hormon wanita mengandung itu tidak bisa di tebak.. Alvian juga harus extra sabar.
Keputusan untuk mencapai titik ini, tidak lah mudah..
Flashback On
Fatimah berdiri tepat di hadapan Alvian, sedangkan Alvian duduk di tepi ranjan
"Tapi sayang, Hubbiy cuma gak mau-.."
"Gak mau apa Biy...?? gak mau terjadi sesuatu sama Fa?? mana semangat juang laki-laki yang nekat menghalalkan Aku disaat dokter saja sudah pasrah dengan kondisiku saat itu..??" potong Fatimah sambil memangku wajah Sang Suami dengan kedua tangannya
"mana laki-laki yang terus berjuang di saat Abi saya juga pasrah, dan meminta untuk mengikhlaskan ku.. dimana laki-laki itu Biy...??" tanya Fatimah dengan mata mereka yang saling menatap
Fatimah kekeh untuk tidak menunda, Fatimah ingin berjuang, sekalipun harus merangkak, bahkan mungkin harus ngesot untuk mencapai tujuan nya.
Alvian terdiam mendengar pertanyaan itu, sejak menikah baru kali ini melihat Fatimah sangat kekeh dengan pendirian, Fatimah adalah seorang istri yang tahu, bahwa tidak boleh meninggikan suara nya kepada suami, Pertanyaan demi pertanyaan tetap Fatimah sampai kan dengan lembut, namun mampu membuat Alvian teriris.
"Biy... Izinkan Aku berjuang... Apakah Hubbiy sudah tidak percaya dengan pertolongan Allah..??"
Alvian terdiam sembari mengatur napas nya.
"aku hanya takut..." lirih nya sesaat sembari memeluk tubuh ramping sang Istri, dan kini kepala Alvian tepat berada di perut Fatimah
"Aku yakin akan pertolongan Allah, seperti saat Dirimu yakin untuk menghalalkan ku,. seperti saat dirimu yakin untuk memperjuangkan Ku di saat detak jantung ini mulai melemah" ujar Fatimah masih dengan menatap Diding kamar
Alvian tak menjawab, lebih memilih memeluk Fatimah. cukup lama Meraka dalam posisi ini dan saling diam.
"Baik lah... Bismillah" lirih Alvian, dan ucapan Alvian membuat nya melepas tangan Alvian yang melingkar di pinggang nya, dan kini Fatimah berjongkok di hadapan Alvian
"Serius kan...??"
"iya.. Bismillah..."
*
*
*
__ADS_1
Flashback Off
Dihitung dari Fase Mens-truasi kehamilan Fatimah menginjak 5minggu, Fatimah baru melakukan tes saja, belum melaksanakan USG,. dia ingin melakukan USG setelah genap 8 Minggu.
Bunda juga lebih banyak di rumah, karna ingin menemani sang menantu dan sang calon cucu.
"Hubbiy berangkat ya, baik baik dirumah" ujar Alvian sambil mencium kening Fatimah, lalu beralih mencium ke Perut "Utun nya Abi.. juga baik-baik ya.."
Melepas kepergian sang suami untuk mengemban kewajiban di luar sana, mencari nafkah, yang In Syaa Allah bernilai Ibadah.
"Bismillah.. Lelah Mu menjadi Lilah"lirih Fatiman di saat Alvian telah melakukan mobil nya menuju RSH
Usia kandungan Fatimah dan bunga kurang lebih selisih 3 bulan lebih, jika Bunga mengalami mabuk berat,, Bunga Morning sickness..
Berbeda dengan Fatimah untuk napsu makan malah bertambah, selama dia tidak mencium aroma bawang yang menyengat, maka makanan itu akan nyaman dia telan, tapi bila tercium bau bawang, jangan di tanya, dia akan langsung mengeluarkan apa yang dia makan.
Jadi Selama hamil ini Fatimah jauh dari dapur, dan Bunda tidak keberatan, bahkan Bunda rajin bertanya makanan apa yang Fatimah inginkan.
Jika dirumah tak banyak kemauan, tapi jika sudah keluar rumah, jangan di tanya, penjual pinggir jalan adalah tujuan utama.
Alvian sempat melarang, tapi ingat pesan Dr. Melani, jangan sampai tertekan, sejauh ini tidak ada larangan untuk makanan.. selama bukan yang memicu kontraksi.
*
*
*
"Wah.. seperti Bu Fatimah cukup lahap ya maka nya"
"Ia dok.. selama gak tercium aroma bawang"
"Mari Bu berbaring..."
Fatimah berbaring di atas ranjang pasien yang tersedia, ada Alvian disisi kiri. dan Dengan bantuan Suster yang mengoleskan gel di atas perut Fatimah.
"Bismillah..." ujar Dr. Melani dan Fatimah menggenggam tangan Alvian erat. Dr. Melani memutarkan alat yang sudah menempel pada perut Fatimah.
Dr. Melani tersenyum sumringah, menekan tombol hanya ada di keyboard, dan itu membuat gambar yang ada di monitor Ter print.
"Gimana Dok...??" tanya Alvian
"Masyaallah... sungguh maha besar Allah,.saya sudah sudah mendengar bagaimana perjalanan Dr. Alvian dan Ibu Fatimah , dan itu membuat saya terharu, dan hari ini saya benar-benar terharu..."
"Maksud dokter??" tanya Fatimah penasaran
Dr. Melani menujuk ke arah monitor "Ada dua kantung di dalam rahim ibu..." menujuk satu persatu gambar yang tertera di monitor
"Maksud dokter...??" tanya Alvian
"Allah Hadiah bayi kembar sekaligus untuk Dr.. Alvian"
__ADS_1
"Allahuakbar...." Alvian langsung sujud syukur dan lalu mencium kening Fatimah dengan air mata yang menetes, begitu pun Fatimah, air matanya tak dapat di bendung, di tatap nya layar monitor itu.
Fatimah dan Alvian setelah mengharu biru, mereka lalu duduk didepan Dr. Melani
"Pantas lebih nampak perutnya ya dok??"
"ia Bu, dan ibu harus extra ya, bener dijaga"
"Semua baik kan dok...??"
"dari pemeriksaan tadi semua baik, semua semua baik sampai proses persalinan nanti, dan ingat jangan stress ya, ini ada Vitamin, jangan lupa diminum"
"Tapi dok.. kami tidak ada keturunan kembar.." ujar Alvian
"Kalau Allah berkehendak, kita bisa apa Dr...??"
Alvian dan Fatimah selesai cek up pun langsung menuju parkiran untuk mengantarkan Fatimah pulang..
"Nanti aja pulang nya, bareng Hubbiy, biar gak bolak-balik..."
"Langsung aja, Hubbiy gak mau nanti sayang kelelahan..."
"Fa baik.. Biy..."
"Manut..." sambil memasang Safety Belt Fatimah "Ingat ada dua Utun yang harus kita jaga, dan juga Umma nya harus di jaga extra"
Fatimah hanya bisa menurut... agak posesif sich, tapi Fatimah tahu itu semua karna sang suami menyayangi nya dan calon anak mereka.
ya Ada Dua Utun yang bersemayam di rahim nya,. Sungguh Bonus dari Allah.. Inikah buah kesabaran itu..?? tapi perjuangan mereka baru akan dimulai, perjalanan masih panjang.. berdoa Allah berikan kesehatan, keselamatan untuk sang ibu dan calon bayi nya.
*
*
*
Morning sickness : kondisi mual di saat awal kehamilan
Utun : Bayi yang belum lahir dari bahasa Sunda
*
*
*
Ramadhan di depan mata...jujur author galau, karna apa?? Author takut apa nanti yang author tulis akan menimbulkan mudharat.
Cerita ini tak jauh dari kehidupan dalam rumah tangga, akan ada momen romantis walau sebatas cium kening..
Ada yang punya saran???
__ADS_1