Fatimah Azahra Itu Namanya

Fatimah Azahra Itu Namanya
antara Satu Garis dan Dua Garis


__ADS_3

"Aku tidak tahu kedepannya seperti Apa..Tapi Aku yakin rencana Allah Luar Biasa"


(Fatimah aZahra)


*


*


*


Menjalankan sholat malam bukanlah hal baru untuk Fatimah. Jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, mata nya enggan untuk di pejamkan. Biasa tidur dalam pelukan sang suami adalah tempat ternyaman. Tapi tidak untuk malam ini, Di tatap nya wajah teduh sang suami.


Lelaki yang menghalalkan nya lima belas bulan lalu saat dirinya dalam keadaan antara hidup dan mati. Saat semua kehilangan harapan, tapi tidak untuk Lelaki ini.


Tepat 1 Syawal dengan perjuangan Alvian yang terberat, antara melepas dan ingin bertahan. Kuasa Allah tak ada yang bisa melawan.. jika sang Khalik telah berkata " Kun Fayakun" (Jadilah) maka terjadilah.


Fatimah membuka mata nya kembali tepat di 1 Syawal.. dan perjuangankan bidak berhenti disitu, kesabaran Meraka terus di uji..Allah sedang mengajarkan kesabaran yang sesungguhnya untuk mereka.


Dikecupnya kening sang suami, lalu melepaskan diri dari pelukan sang suami, guling sebagai pengganti nya. Menuju Kamar mandi untuk berwudhu. Selesai berwudhu di bentang nya sajadah, dikenakannya mukena.


Dengan niat yang tak kalah khusus, Sholat sunah Tahajud empat rakaat menjadi pilihan. Bermunajat kepada Allah, memohon kebaikan dari sang maha Baik. memohon kekuatan dari sang maha Perkasa. Memohon pertolongan dari sang maha menolong.


Selesai dengan curahan hati nya, Fatimah beranjak membuka laci nakas nya, ada satu bungkus berwarna biru bertulisan Sen*sitif yang masih tersegel. Tangan nya ingin meraih tapi kembali di tarik nya. Ada rasa ragu dan juga takut.


Terdiam sejenak sembari memejamkan mata dengan menarik napas pelan namun cukup panjang, lalu lepaskan nya.. Perlahan dibukanya kembali mata itu.


Diraih nya Bungku biru itu "Bismillah..." lalu berlalu menuju kamar mandi dengan jantung yang berdebar tak karuan.


Melakukan sesuai petunjuk, Fatimah duduk termenung di atas closed, hati yang tak karuan dengan debaran jantung yang sangat kuat. Mata Nya kembali terpejam dengan tangan kanan memegang benda berwarna putih biru.


"Satu garis...dua garis...satu garis..dua garis..." guman nya.. Perlahan dibukanya mata nya dengan sangat perlahan, debaran jantung nya semakin tidak karuan.

__ADS_1


Saat mata nya terbuka, mata nya menatap benda putih biru itu dengan mata yang sedikit melotot...Air mata nya mengalir deras, bibir nya gemetar, tak sanggup berkata-kata. Sungguh pemandangan yang tak pernah dia duga.


Dua Garis merah... ya dua Garis merah yang terpampang jelas di benda berwarna putih biru itu. air mata nya mengalir deras. ingin berlari tapi kaki nya gemetar.


Tiba-tiba suara pintu kamar mandi di ketok


"Sayang... didalam??" terdengar suara Alvian memanggil nya, dengan cepat di hapus nya air mata itu, menguatkan diri untuk bangun dari posisi duduk nya. Berjalan perlahan lalu dibukanya pintu dengan perlahan.


Alvian dapat melihat Fatimah baru saja menangis, karna nampak dari sudut mata nya yang masih basah serta hidup nya yang masih merah


"Hei... sayang kamu nangis...??" Fatimah masih terdiam,. dan itu membuat Alvian merangkul ya dan membawa nya duduk di ranjang.


"Sayang kenapa?? ada yang sakit??"


Fatimah menggeleng...


"Trus kenapa... Hubbiy bangun kamu udang gak ada di samping Hubbiy..."


Alvian memilih mengelus puncak kepala Sang istri, memberi sedikit energi. " menangis lah, tapi setelah itu ceritakan..."


"Biy..." Panggi nya dengan nada gemetar


"iya... kenapa, kepalanya sakit??"


Fatimah menggeleng, di renggang kan nya pelukannya tapi posisi tangan masih di belakang punggung Alvian..Di tarik nya tangan kanannya perlahan...


"ada apa...??" tanya Alvian dengan wajah yang sangat khawatir


Tangan Fatimah masih menggenggam benda putih biru itu, lalu perlahan dibukanya di hadapan Alvian... Alvian benar-benar bingung apa yang terjadi, tapi saat melihat benda putih biru itu, dan Fatimah memberikan kepada nya.


Alvian meraih benda putih biru itu, masih dengan rasa rasa bingungnya, lalu Fatimah menujuk tepat di dua garis berwarna merah itu.

__ADS_1


Kini mata Alvian yang terbelalak melihat nya...ada rasa tak percaya,.lalu tertawa kecil tapi ada air mata yang mengalir Tampa dia undang


"sayang ini beneran...??" tanyanya tak percaya


"Fa yang mau tanya, ini beneran kan, bukan mimpi??"


Alvian memeluk Fatimah tiba-tiba dan pelukan itu sangat erat.


"Biy.. sesak..." Alvian pun melepaskan pelukan nya, di hujani nya wajah Fatimah dengan ciu-man, tak tersisa sedikit yang tak dia cium..Air mata kedua nya sama-sama mengalir


rasa syukur tak henti Mereka ucap sekalipun hanya dalam hati, karna semua ini membuat mereka pun sulit untuk berkata-kata.


Berkali mereka lihat hasil yang tertera di benda itu, dan membuat mereka tertawa kecil, walau kadang tawa mereka tak bersuara.


"Terimakasih... sudah selalu sabar berjuang bersama" ujar Fatimah


"Hubbiy yang makasih....karna sayang udah begitu sabar dan kuat..." sambil mencium kening Fatimah dan tangan Kanan nya mengelus perut Fatimah


Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang...


"Kita subuh... besok pagi kita berikan kabar bahagia ini...dan kita lanjut cek ke dokter kandungan" Ujar Alvian sambil menghapus sisa air mata yang masih mengalir di pipi Fatimah


Fatimah mengagukan


"Sayang... kamu gak papa kan, ada yang sakit, kepalanya pusing??" Bahagia campur cemas yang melanda, karna bagaimana keadaan Fatimah belum sepenuhnya pulih


Fatimah menggeleng..


"Aku baik...Aku Ok....sangat Ok.." Fatimah meyakinkan.... bagian rasa sakit apapun nanti yang akan dia terima, dia akan sekuat mungkin berjuang hingga akhir.


Merekapun melaksanakan sholat subuh berjamaah, Doa serta syukur tak henti mereka ucapkan.. dan lagi-lagi membuat air mata mereka mengalir.

__ADS_1


__ADS_2