Fatimah Azahra Itu Namanya

Fatimah Azahra Itu Namanya
Extra Part- Pusara Aisyah


__ADS_3

Bagaimanapun hati seorang ibu tak akan bisa di bohongi, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan Pikiran nya, merasa ada yang sedang di sembunyikan dari dirinya, setiap bertanya tetang Aisyah, jawabnya sama "Aisyah baik-baik saja"


Jika memang baik kenapa dia belum bisa bertemu??? berjuta pertanyaan mengganggu pikiran nya


"Biy Azzam dan Almeera gimana??"


"sempet rewel sih, nanyain Umma nya, tapi pas ada Anisya jadi tambah temen main, jadi agak terbantu"


"kenapa gak di bawa kesini aja??"


"mereka lagi aktif-aktifnya sayang... ingat perut kamu..." tunjuk Alvian pada perut Fatimah


"Aisyah gimana?? Umma pengen ketemu Biy...ini udah dua hari loh"


Alvian bingung harus menjawab apa, alasan apa lagi yang harus dia Berikan.


"Biy kenapa diam?? Aisyah baik-baik aja kan??"


"Aisyah baik...sangat baik..."


"kalau gitu aku mau lihat dia" ujar Fatimah sembari menurunkan kaki nya yang sebelah


"Sayang...." cegah Alvian


"kenapa?? kenapa setiap bahas Aisyah wajah Hubbiy berubah?? apa yang Hubbiy sembunyikan?? aku Umma nya, aku berhak melihat" ujar Fatimah dengan menggebu-gebu


"Tolong jangan tutupi apapun... apa yang terjadi Biy...??" Alvian masih diam "Biy apa yang terjadi??" tanya nya dengan sedikit keras dengan menggoyang goyangkan tangan Alvian


"Fatimah..." bentak Abi "Abi tidak pernah mengajarkan kamu berbicara dengan nada tinggi, apalagi itu suami kamu" ujar Abi yang baru saja masuk


Fatimah tertunduk, air mata nya menetes "Afwan..." lirih nya, sungguh Alvian dalam dilema, bagaimana cara dia memberi tahu kondisi Aisyah yang sebenarnya


Umma merangkul Fatimah " Fa cuma mau ketemu sama Aisyah, Umma...kenapa selalu di cegah??.ada apa?? apa yang kalian sembunyikan?? tolong jujur" ujar Fatimah dalam pelukan Umma


"Sayang...kami bukan ingin menyembunyikan sesuatu"


"pasti terjadi sesuatu kan sama Aisyah??" Umma terdiam, melihat Alvian dan Abi bergantian, jawaban apa yang harus dia berikan


Abi mengangguk, meminta Umma menjelaskan apa yang terjadi "Apapun yang Umma katakan, kamu harus kuat ya..." Umma mengelus kepala Fatimah


"kenapa Umma bilang kayak gitu...??" Fatimah Melepaskan pelukannya


"Jawab Umma..."

__ADS_1


"Allah sangat menyayangi Aisyah nak... melebihi kita..."


"Maksud Umma...??" tanya Fatimah lagi kali ini dengan air mata yang sulit untuk dia bendung


"Biy... jelasin apa maksud Umma??" kini pertanyaan itu di berikan kepada sang suami, Alvian bukan menjawab, tapi malah memeluknya


"Jawab Biy... Aisyah baik-baik aja kan??" dengan mata yang berbinar menatap mata sang suami


"Aisyah...."


"iya Aisyah kenapa??"


"Aisyah udah bahagia dalam lindungan Allah" jawab nya dengan Air mata yang menetes


"maksud nya... Maksudnya apa Biy..."


"Sayang tenang..." Umma berusaha menenangkan Fatimah


"kemaren semua bilang Aisyah baik-baik aja..."


"Nak....maut itu datang nya Tampa memilih umur, jadi kita harus siap, meninggal ataupun ditinggalkan" ujar Abi sambil duduk di ranjang Fatimah


Fatimah menggeleng tak percaya "gak..gak mungkin... Abi bohong kan??"


"Gak...... gak mungkin, banyak kok yang lahir prematur sehat...kalian bohong" menolak setiap sentuhan untuk nya, setiap yang ingin menggenggam dia tepis


"Lihat...Lihat Hubbiy..." ujar Alvian sambil menangkup wajar Fatimah


"Sedih sakit sudah pasti...Bukan Allah tak tahu kita sedih...


Tapi Allah Tahu kita Mampu dan Kita Kuat"


"Gak mungkin, Bahkan Fa belum sempat untuk melihatnya secara langsung, belum menggendong nya, belum memeluknya, belum mencium nya Biy...."


"Allah hanya izinkan dia berada disini kita selama dua jam" ujar Alvian dengan terus berusaha kuat


"gak...gak...mungkin Biy..hiks..hiks ..hiks..." air mata itu tumpah.. masih tak percaya, berhak kah dia untuk marah, protes dengan ketetapan Allah..??


"kenapa begitu cepat, bahkan tangan ini belum sempat walau hanya menggenggam tangan kecil nya??"


Alvian hanya bisa memeluk, berusaha memberikan kekuatan.


Dua jam berlalu, berusaha mengendalikan pikiran masing-masing, berusaha mengutarakan, Alvian menceritakan bagaimana keadaan Aisyah setelah lahir, bahkan kondisi Fatimah paska melahirkan.

__ADS_1


"Antar Fa kesana sekarang.."


"jangan sekarang ya, tunggu luka nya membaik"


"Sekarang..."


Abi memberi Anggukan kepada Alvian, karna akan percuma juga jika di cegah yang ada Fatimah akan semakin kepikiran.


Setelah konsultasi dengan dr.melani , memilih berobat jalan, mereka pun keluar dari RSH menuju TPU, Alvian mendorong kursi roda menuju makam Aisyah.


Nampak tanah merah yang masih bertaburan bunga , bahkan bunga nya masih terlihat segar, karna Pagi ini Arafah baru sempat untuk mengunjungi makam keponakan nya itu.


Tertulis nama di nisan papan berwarna putih


Aisyah Az-Zahra Almiera nama yang sang suami berikan untuk putri kecil nya, Putri yang bahkan belum sempat dia lihat secara langsung walau hanya Sedetik.


Air mata itu mampu untuk di bendung, tapi berulang kali Abi mengingat kan, jangan berlarut karna Allah tidak suka.


Haruskah ia berputar-pura tegar...?? dipeluknya pusara sang putri kecil nya itu, bahkan rasa sakit pada perutnya itu tak dia hiraukan, ada sakit yang lebih sulit untuk dia utarakan. ya... jika Allah sudah berkehendak, siapa kita mampu menolak....??? Sekalipun ingin memberontak, Mampukan kita...melawan Takdir yang sudah Allah tuliskan??


Setiap nyawa pasti akan merasakan Mati, sejak Ruh itu dihembuskan di usia janin yang berusia 120 hari (4 bukan) maka Allah pun telah memberikan pula waktu kapan Allah akan mengambil Ruh itu kembali. sekalipun hanya dalam waktu hitungan detik setelah bayi itu terlahir.


"Umma tahu, kata ikhlas dan sabar seakan mudah untuk di ucapakan, tapi tidak mudah untuk yang menjalani"


"Fa paham Umma... Ikhlas itu tidaklah Mudah... tapi tidak Ikhlas itu Sakit, Jadi pilihan nya hanya satu, harus Ikhlas" Jawab nya sambil terus menatap pusara sang putri kecil nya


"Pulang...." ajak Alvian karna memang sudah cukup lama disini, Fatimah membalas dengan Anggukan,.berat untuk meninggalkan putri kecil nya, tapi Fatimah bukan lah wanita yang tak faham akan ilmu agama, dia sadar meratapi kepergian yang terkasih itu adalah sikap yang Allah benci.


Kepulangan nya di sambut oleh baby twins... meskipun berat untuk tersenyum, tapi dia tidak boleh egois, kedua buah hatinya ini sangat membutuhkan nya, berebut ingin di pangku oleh sang Umma, ikut didorong oleh sang Abi


"Azzam, Almeera, perut Umma masih sakit, nanti ya"


"aik itu Bi..." (naik itu bi) tunjuk Almeera pada kursi roda yang sang umma naiki


"boleh...kita antar Umma ke kamar dulu ya, nanti main bareng sama adek Anisya juga...ok"


"ote Bi..." (Oke Bi...) jawab mereka bersamaan dengan memberikannya TOS kepada sang Abi


🌠🌠🌠


Makasih yang udah mampir di karya receh author... jangan lupa dukungan nya ya...


Jazaakumullah khairon..

__ADS_1


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an


__ADS_2