Gadis Yang Malang

Gadis Yang Malang
eps 112


__ADS_3

Kedua orang tua Septi menjaga Tian yang sedang bermain sambil menunggu hidangan disajikan oleh pemilik restoran. Sedangkan wanita dan anak perempuan nya juga ikut dengan orang tua Septi dan Tian bermain dan berbincang-bincang. Mereka sengaja memberikan kesempatan pada Septi dan Iyan untuk bicara tentang perjalanan hidup mereka selama terpisah.


Septi merasa tidak ingin membuka luka lama kembali lagi dan apa lagi melihat Iyan bersama seorang wanita dan juga anak membuat Septi mengubur harapan untuk kembali kepada Iyan. Di dalam pikiran nya Septi tidak ingin merusak rumah tangga wanita lain dan melukai hati seorang wanita, cukup dengan dirinya saja yang merasakan penderitaan harus ditinggalkan oleh orang yang dicintai.


Dengan tertunduk dan suara terputus-putus Septi berkata


'' kak, jangan membuat masalah kembali sekarang kita memiliki kehidupan masing-masing, biarlah yang berlalu jangan diungkit kembali !'' ucap Septi.


'' mengapa begitu cepat kamu melupakan kakak... Septi !'' berkata Iyan.


Septi tertegun dalam diam, di dalam hati Septi berkata


'' bagaimana saya bisa melupakan kakak yang telah memberikan kebahagian dan seorang anak sebagai buah kasih kita, hanya saja saya tidak ingin wanita lain tersakiti dengan kembalinya kakak pada saya ''.

__ADS_1


Septi meminta kepada Iyan dengan sangat agar jangan mengenang masa lalu.


Iyan berkata ''tolong jawab Tian itu anak saya kan ! ''


Septi menarik nafas dalam-dalam lalu berkata '' bukan Tian bukan anak kakak !''.


'' jangan berbohong Septi, Tian berhak tahu siapa bapak kandungnya !'' ucap Iyan.


Hai ini di dalam pikiran Septi bahwa untuk kebaikan orang lain biarlah Septi memilih berbohong dengan Iyan dan Tian sang anak.


Iyan bersih keras dengan pendapatnya bahwa Tian adalah anak kandungnya sampai dia berkata '' baik bila tidak jujur mari kita tes DNA !''.


Septi terkejut dengan perkataan Iyan yang sampai nekat untuk tes DNA segala.

__ADS_1


Saat Septi bingung mau menjawab apa, datang hidangan di meja makan dan semua mendekat termasuk wanita dengan anak perempuan juga kedua orang tua Septi serta Tian.


Iyan lalu berkata '' maaf bapak dan ibu sampai lupa saya kenalkan ini Dewi dan Desi anaknya ''.


Septi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sambil menyebutkan nama, kemudian Dewi menyalami kedua orang tua Septi. Tidak lupa Desi mengikuti apa yang di lakukan sang ibu.


Setelah selesai berkenalan mereka makan bersama.


Saat itu Septi dan Iyan melupakan pembicaraan nya. Septi lega terbebas dari tuntutan Iyan.


Dengan lahapnya Tian makan dan Desi juga antusias untuk makan, mereka bernafsu makan dikarenakan makan bersama-sama membuat selera.


Melihat Tian makan Septi terenyu hatinya apa kah begitu berartinya kehadiran sesosok bapak bagi Tian. Sosok bapak yang selama ini selalu digantikan oleh teman-teman kerja Septi apa tidak bisa mengobati rasa rindu Tian dengan figur bapak, benar mereka teman kerja Septi tidak bisa dirumah seperti keluarga lain tetapi mereka akan selalu bersedia bila di perlukan oleh Tian. Hal ini bergejolak di hati Septi ada rasa ingin memberikan kebahagian pada sang anak tetapi tidak ingin merenggut kebahagian anak lainnya apa lagi dia seorang perdana dengan diri Septi yang mengerti hati dan perasaan seorang perempuan itu sungguh rapuh.

__ADS_1


__ADS_2