Gadis Yang Malang

Gadis Yang Malang
eps 57


__ADS_3

Tidak ada jawaban dari Iyan, Septi mendekati tempat tidur Iyan dan berbaring di sampingnya.


Septi bukannya tidur dia menatap wajah Iyan dan membelai dengan tangannya.


Iyan masih pura-pura tidur.


Lama Septi membelai wajah Tian dan tidak bisa menahan hasrat, dengan tiba-tiba mencium bibir Iyan.


Perbuatan Septi jelas membuat Iyan tidak bisa menahan diri yang telah lama puasa selama Septi melahirkan Tian.


Dengan membuka mata Iyan berkata


" jangan memancing adik Tian yang lagi tidur yang, ini sudah lama tidak mendapatkan jatah "


Septi melihat Iyan bangun dan berkata seperti itu tersenyum.


" kirain tidur say "


" mana bisa tidur yang, bila satu kamar dengan mu, saya ingin memakan mu "


Iyan memang sengaja berbaring di tempat tidur menunggu Septi menyusui dan menidurkan Tian.


Kini gantian Iyan yang akan menyusu.

__ADS_1


Ke dua insan ini yang telah lama tidak menikmati permainan senamnya, saat ini melampiaskan hasrat nya.


Mereka melakukan senam menjelang siang hari cukup lama hampir empat jam hingga menjelang sore.


Mereka berhenti sebentar bila Tian bangun dan menangis minta ASI.


Bila Tian sudah diam Septi dan Iyan melakukan senam kembali seakan mereka tidak pernah puas dengan permainan senamnya.


Iyan dan Septi makan siang di penginapan, lalu istirahat kemudian mulai kembali sampai waktu pulang.


Iyan sengaja pulang sore agar tidak terlalu panas bagi Tian sang buah hati.


Juga Iyan bisa bermain dengan Tian sepuasnya terkadang Septi ikut bermain bertiga saling berpelukan dan memberikan kasih sayang layaknya satu keluarga yang harmonis.


Iyan berkata " yang,, bagaimana bila yang kita lakukan hari ini jadi adik Tian benaran nantinya !"


" say, kamu pergi ke apotik, beli alat kontrasepsi untuk mencegah agar saya tidak hamil " ucap Septi


" mengapa yang biar aja jadi adik Tian nantinya, saya senang punya anak lagi " kata Iyan


" ih,,,, kamu say, bilang enak kasihan Tian masih terlalu kecil memiliki adik" Septi berucap


" maaf yang saya terlalu bersemangat dan tidak ingin kamu yang jauh dari ku " berkata Iyan

__ADS_1


Iyan lalu beranjak keluar dari kamar menuju apotik untuk membeli pesanan Septi yaitu alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.


Iyan juga khawatir dan kasihan melihat Septi nantinya mengasuh bayi dua dengan jarak mereka tidak terlalu jauh.


Juga kasihan pada Tian sang anak yang tidak dapat menikmati ASI eksklusif Septi menjelang dua tahun umur Tian.


Waktu sore telah tiba layaknya sebuah keluarga ini berjalan ke taman kembali untuk menikmati suasana sore hari.


"sore yang sejuk ya, yang " berkata Iyan


" anginnya juga sepoi-sepoi, segar say " ucap Septi


" yang, kita foto ya buat kenang-kenangan, kebetulan itu ada tukang foto " ucap Iyan


Mereka mengambil foto beberapa jepretan untuk mengabadikan kebersamaan mereka.


Foto langsung jadi ini menjadikan saksi bisu untuk hubungan mereka bertiga, dalam hati Iyan semoga terwujud mereka bersatu di dalam satu keluarga yang utuh untuk selamanya.


Selesai berfoto mereka berjalan sambil melihat keramaian taman kota yang menjelang sore hari keadaannya lebih ramai sebab banyak orang yang pulang dari kantor juga singgah di sana sekedar untuk melepaskan penat dan pegal mereka.


Septi dan Iyan yang menggendong Tian sungguh terlihat harmonis.


Ada ibu-ibu yang merasa iri melihat kemesraan mereka dan lagi Iyan memberikan perhatian dan kelembutan untuk kedua orang yang dicintai.

__ADS_1


__ADS_2