
Hati Septi masih ragu karena Aria mengetahui tentang anak yang di lahirkan nya bukan anak Aria, melainkan anak Iyan yang telah menanamkan benih ke tubuh Septi.
Hal itu bisa terjadi karena Septi tidak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang layak sebagai seorang istri, mengingat akan hal ini membuat Septi berpikir bagaimana nasibnya nanti kedepannya apa tidak lebih parah hidupnya dengan sang buah hati.
Apa yang akan diperbuat Aria akan lebih para memperlakukannya dan sifat pemarah Aria yang di takut Septi menimpa sang anak Tian.
Di mana Iyan sang ayah Tian di pukuli babak belur bagaimana dengan anaknya, Septi takut membayangkannya.
Aria mencoba merayu Septi
" dik... tolong kamu pulang ke rumah ya !"
Septi berpikir alasan yang terbaik untuk menghindari Aria
" maaf kak... si kecil masih kecil dan sebaiknya saya tinggal di sini dulu dekat ibu, saya ingin belajar mengasuh bayi, sekarang aja saya belum berani memandikan Tian " ucap Septi
" ehmmm... bayi itu di beri nama Tian !...siapa yang kasih nama nya " berkata Aria.
" yang memberikan namanya adalah Iyan " jawab Senti.
__ADS_1
Aria menarik nafas dalam-dalam sehingga sampai terdengar oleh Septi.Dari raut wajah Aria terlihat dia menahan amarahnya, dan di dalam hati Aria berkata " dia sungguh berani sekali sudah mengganggu rumah tangga saya dan kini bayi yang di lahirkan oleh istri saya dia juga memberikan nama ahhhhhh... sungguh sial, aku seperti jatuh tertimpa tangga pula"
Percakapan sepasang suami istri ini terhenti karena tiba-tiba sang bayi terdengar menangis di dalam kamar.
Tian bangun dari tidur nya karena merasa haus, Septi segera pergi berlalu meninggalkan Aria untuk masuk ke dalam kamar menuju tempat Tian berada.
Di belakang Septi dengan melangkah santai Aria mengikuti masuk ke dalam kamar. Septi yang tergesa-gesa tidak sadar bahwa Aria mengikuti dari belakang.
Septi langsung mendekati Tian dan memberikan air susu ibu.
Aria melihat Septi mengeluarkan ****** susu jadi menelan ludahnya sendiri, di dalam pikiran Aria
Septi baru tersadar bahwa Aria memperhatikan dia yang sedang menyusui Tian.
" ada apa kak, mengapa ikut masuk ?" Septi berkata.
Aria menjawab " aku ingin melihat anak kita, dari dia lahir belum melihatnya..."
Septi terdiam dengan perkataan Aria, mau melarang nya tidak bisa sebab Aria punya hak sebagai suami secara hukum, Septi hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
Tian merasa sudah kenyang minum air susu Septi di letakkan di atas tempat tidurnya.
Aria mendekati tempat tidur Tian dan memegangnya.
Aria berkata " sayang ini ayah kangen ingin melihat mu, selamat datang ke dunia ini putraku "
Septi terharu mendengar Aria berkata, dalam hati Septi berkata
"apa tulus Aria mengucapkannya"
Aria mengangkat Tian ke tangannya dan di gendong.
Septi yang melihat heran Aria mengapa berani mengangkat Tian yang masih berusia beberapa hari.
Dari wajah Aria terlihat memang dia bahagia dan tersenyum dengan bayi yang ada di pelukannya dan mencoba mengajak bicara sang bayi.
Aria seakan lupa bayi yang ada di pelukannya bukan darah dagingnya, melihat bayi yang suci rasa kasih sayang Aria tertumpah kan melihat Tian yang begitu menggemaskan dan memiliki raut wajah yang rupawan, mata mirip dengan Septi serta hidungnya mancung.
Tetapi ada yang mirip Iyan dari wajah Tian yaitu bibirnya karena Aria memiliki bibir tipis, sedangkan Iyan tebal seperti Tian.
__ADS_1
Aria tertegun melihat paras Tian, tidak ada yang mirip dengan nya.